Polisi Mengawal Doa: Haru Pelepasan Jamaah Haji Soppeng di Bawah Lantunan Dzikir

POLRI71 Dilihat

Keterangan Gambar:

Suasana khidmat Dzikir, Doa, dan Pelepasan Jamaah Haji Kabupaten Soppeng Tahun 1447 H/2026 M di Masjid Agung Darussalam Watansoppeng, Kamis (16/4/2026). Tampak Wakapolres Soppeng bersama jajaran pemerintah daerah dan para jamaah haji larut dalam doa, mengiringi keberangkatan menuju Tanah Suci. (Foto: Dokumentasi Humas Polres Soppeng)

Oleh: Andi Okkeng

Pagi itu, udara di Masjid Agung Darussalam Watansoppeng terasa berbeda. Lebih hening, lebih khusyuk. Lantunan dzikir menggema lembut, menyusup ke relung hati setiap yang hadir, seakan mengantarkan doa-doa menuju langit.

Di saf-saf yang tertata rapi, para calon jamaah haji duduk bersimpuh. Sebagian memejamkan mata, sebagian lain menunduk, menggenggam harapan yang tak terucap. Di antara mereka, ada air mata yang jatuh perlahan, bukan karena duka, melainkan haru yang tak terbendung. Perjalanan menuju Tanah Suci bukan sekadar langkah fisik, melainkan panggilan jiwa.

Kamis, 16 April 2026, menjadi saksi sebuah momen sakral: Dzikir, doa, dan pelepasan jamaah haji Kabupaten Soppeng Tahun 1447 H/2026 M. Hadir di tengah suasana penuh makna itu, Wakapolres Soppeng Kompol Sudarmin, S.Sos., bersama Bupati Soppeng H. Suwardi Haseng, S.E., Wakil Bupati Ir. Selle K.S Dalle, unsur Forkopimda, tokoh agama, serta keluarga jamaah.

Acara diawali dengan dzikir dan doa bersama, sebuah ikhtiar batin yang menyatukan harapan seluruh hadirin. Setiap lafaz yang terucap menjadi titipan doa: agar perjalanan para tamu Allah dimudahkan, dilindungi, dan dipenuhi keberkahan.

Di antara keheningan itu, kehadiran aparat kepolisian bukan sekadar formalitas. Wakapolres Soppeng tampak menyatu dalam suasana, menundukkan kepala dalam doa yang sama. Dukungan yang diberikan bukan hanya dalam bentuk pengamanan, tetapi juga doa tulus bagi keselamatan dan kesehatan para jamaah.

Di tempat terpisah, Kapolres Soppeng AKBP Aditya Pradana, S.I.K., M.I.K., menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menegaskan komitmen kepolisian untuk mengawal seluruh proses keberangkatan hingga pemulangan jamaah agar berjalan aman dan lancar.

Namun, di balik pernyataan resmi itu, tersimpan makna yang lebih dalam: bahwa perjalanan haji bukan hanya urusan individu, melainkan juga tanggung jawab bersama, pemerintah, aparat, dan masyarakat yang saling menguatkan.

Menjelang akhir acara, pelepasan dilakukan secara simbolis. Doa kembali dipanjatkan. Tangan-tangan terangkat, bibir bergetar lirih, dan hati-hati saling menguatkan. Ada yang berpelukan, ada yang tersenyum dalam tangis.

Langkah suci itu pun dimulai.
Dan dari Soppeng, doa-doa terus mengalir, mengiringi mereka yang berangkat sebagai tamu Allah, dengan harapan pulang sebagai insan yang bersih, membawa kemabruran, dan menebar keberkahan bagi sesama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *