Kepergian Zulmansyah Sekedang dan Cermin bagi Pers yang Terus Diuji

EDITORIAL115 Dilihat

Oleh: Alimuddin

Kabar wafatnya Zulmansyah Sekedang pada Sabtu dini hari, 18 April 2026, menjadi duka yang tidak hanya bersifat personal, tetapi juga struktural bagi dunia pers Indonesia. Ia mengembuskan napas terakhir sekitar pukul 00.05 WIB di RS Budi Kemuliaan, Jakarta, akibat serangan jantung, sebuah kepergian yang terasa mendadak, bahkan bagi mereka yang beberapa jam sebelumnya masih bersama dalam aktivitas organisasi.

Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, Akhmad Munir, mengonfirmasi kabar tersebut dengan nada kehilangan. Malam sebelumnya, keduanya masih menghadiri agenda bersama di LSPR Institute of Communication and Business, lalu kembali ke kantor PWI di Kebon Sirih sebelum akhirnya berpisah sekitar pukul 20.00 WIB. Tidak ada tanda bahwa itu akan menjadi pertemuan terakhir.

Namun, lebih dari sekadar kronologi wafat, kepergian Zulmansyah menyingkap sesuatu yang lebih dalam: kekosongan nilai di tengah riuhnya dinamika pers hari ini.

Zulmansyah bukan figur yang lahir dari panggung besar. Ia ditempa dari bawah, dari ruang redaksi Jawa Pos di Riau, tempat ia membangun fondasi sebagai wartawan lapangan. Di sana, ia belajar bahwa berita adalah tanggung jawab, bukan sekadar produksi informasi. Sebuah prinsip yang kini justru kerap tergerus oleh logika kecepatan dan sensasi.

Ketika ia melangkah ke level organisasi dan dipercaya menjadi Sekretaris Jenderal PWI Pusat, ia membawa lebih dari sekadar pengalaman jurnalistik. Ia membawa kesadaran etik, bahwa organisasi profesi seharusnya menjadi penjaga marwah, bukan arena kontestasi kepentingan.

Di titik inilah editorial ini menemukan urgensinya.

Dunia pers Indonesia hari ini tidak hanya menghadapi tantangan eksternal berupa disrupsi digital dan krisis kepercayaan publik, tetapi juga persoalan internal: fragmentasi organisasi, polemik legitimasi, hingga tarik-menarik kepentingan yang kerap mengaburkan tujuan utama profesi.

Dalam konteks itu, kepergian Zulmansyah seharusnya tidak berhenti sebagai berita duka. Ia adalah cermin, yang memantulkan pertanyaan mendasar: apakah nilai-nilai yang ia hidupi masih menjadi pijakan, atau justru telah tergantikan oleh pragmatisme?

Media, sebagaimana prinsip yang diusung banyak ruang redaksi, independen, tajam, dan terpercaya, tidak cukup hanya menjadi slogan. Ia harus hidup dalam praktik. Dan praktik itu hanya mungkin dijaga oleh individu-individu yang memahami bahwa integritas tidak bisa dinegosiasikan.

Zulmansyah mungkin bukan sosok yang paling vokal di ruang publik. Namun dalam diamnya, ia menunjukkan bahwa keteguhan sering kali lebih kuat daripada retorika. Bahwa jabatan bukan tujuan, melainkan amanah. Dan bahwa kepercayaan publik adalah sesuatu yang harus dirawat, bukan diklaim.

Kini, ketika ia telah tiada, dunia pers dihadapkan pada pilihan yang tidak sederhana: melanjutkan jejak itu dengan kesungguhan, atau membiarkannya larut sebagai bagian dari romantisme masa lalu.

Kepergian ini adalah kehilangan. Tetapi tanpa refleksi dan keberanian untuk berbenah, ia hanya akan menjadi jeda singkat di tengah kebisingan, bukan titik balik yang mengubah arah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed