Di Sepertiga Malam yang Sunyi, Polisi dan Warga Menyatu dalam Doa

POLRI168 Dilihat

Penulis: Syamsuddin Andy

Langit Kabupaten Soppeng masih gelap ketika langkah-langkah kaki mulai berdatangan menuju Masjid Nurul Mubyin, Rabu dini hari, 15 April 2026. Di antara dingin yang menyelimuti dan sunyi yang belum sepenuhnya pergi, sebuah perjumpaan sederhana namun sarat makna perlahan terajut, antara aparat kepolisian dan masyarakat yang bersatu dalam ibadah.

Waktu menunjukkan pukul 04.50 WITA. Lantunan azan Subuh mengalun, memanggil hati yang rindu pada ketenangan. Di saf-saf yang tertata rapi, terlihat jajaran Polres Soppeng berdiri sejajar dengan warga. Tidak ada sekat pangkat, tidak ada jarak kekuasaan, yang ada hanyalah kesetaraan sebagai hamba di hadapan Sang Pencipta.

Kegiatan Safari Subuh yang digelar ini bukan sekadar rutinitas seremonial. Ia menjelma menjadi ruang silaturahmi yang hangat, di mana pesan-pesan kebaikan disampaikan dalam balutan spiritualitas. Aditya Pradana, selaku Kapolres Soppeng, hadir bukan hanya sebagai pemimpin institusi, tetapi juga sebagai bagian dari umat yang mengajak, mengingatkan, dan merangkul.

Dalam suasana yang khusyuk, ia menyampaikan pesan yang sederhana namun menyentuh. Ia mengajak generasi muda untuk kembali memakmurkan masjid, menjadikannya pusat pembinaan akhlak dan iman. Sebab di tengah arus zaman yang kian deras, benteng terkuat tetaplah nilai-nilai keagamaan yang ditanam sejak dini.

“Masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga tempat kita membangun karakter,” pesan itu mengalir pelan, namun terasa dalam.

Ia juga menyinggung peran orang tua sebagai pondasi utama dalam membimbing anak-anak agar tumbuh dengan iman yang kokoh. Di saat yang sama, imbauan kamtibmas turut disisipkan, kepada para pedagang untuk tetap waspada, dan kepada para pengendara agar senantiasa mengutamakan keselamatan di jalan.

Pesan-pesan itu tidak terdengar menggurui. Ia hadir seperti nasihat seorang sahabat, dekat, hangat, dan membumi.

Safari Subuh ini pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar kegiatan keagamaan. Ia adalah simbol sinergi, antara negara dan masyarakat, antara tugas dan pengabdian, antara dunia dan akhirat. Di ruang yang hening itu, kepercayaan dibangun bukan lewat kata-kata besar, melainkan lewat kehadiran dan ketulusan.

Dan ketika matahari mulai menampakkan sinarnya di ufuk timur, yang tersisa bukan hanya jejak langkah menuju pulang. Ada harapan yang tumbuh, bahwa keamanan tidak hanya dijaga dengan hukum, tetapi juga dengan iman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *