Di Balik Deru Antrean, Upaya Sunyi Menjaga Aliran Energi di Soppeng

POLRI90 Dilihat

Keterangan Gambar:

Sejumlah pejabat utama dan personel Polres Soppeng bersama pengelola SPBU mengikuti rapat koordinasi di Aula Tantya Sudhirajati, Selasa (7/4/2026), guna membahas langkah antisipasi antrean panjang BBM di Kabupaten Soppeng. (Foto: Dokumentasi Humas Polres Soppeng)

Oleh: Edi Sut

SOPPENG – Pagi itu, ruang Aula Tantya Sudhirajati di Polres Soppeng terasa lebih hening dari biasanya. Derap langkah para perwira dan pengelola SPBU berpadu dengan kegelisahan yang tak kasat mata, tentang antrean panjang kendaraan yang kian mengular di sejumlah sudut Kabupaten Soppeng.

Di luar ruangan, masyarakat menunggu giliran mengisi bahan bakar. Di dalam ruangan, upaya menjaga agar antrean itu tak semakin panjang sedang dirajut dengan keseriusan.

Dipimpin langsung oleh Kapolres Soppeng, Aditya Pradana, rapat koordinasi digelar bersama para manajer SPBU dan jajaran pejabat utama kepolisian, Selasa pagi (7/4/2026). Pertemuan ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan respon cepat atas tanda-tanda kelangkaan BBM yang mulai dirasakan masyarakat.

Dalam suasana yang penuh perhatian, setiap kata yang disampaikan menjadi penting. Ada tanggung jawab besar yang dipikul bersama, memastikan bahan bakar tetap tersedia, mengalir dari tangki ke kendaraan, dari kebutuhan ke harapan.

Kapolres menegaskan, sinergi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Di tengah meningkatnya kebutuhan, keadilan dalam distribusi menjadi fondasi utama. Ia mengingatkan agar tidak ada celah bagi praktik penimbunan atau penyalahgunaan yang dapat merugikan masyarakat luas.

“Kami berharap seluruh pengelola SPBU mematuhi aturan distribusi, tidak melakukan penimbunan, dan memberikan pelayanan yang adil,” ujarnya dengan nada tegas namun tetap bersahaja.

Lebih dari itu, komunikasi menjadi jembatan penting. Setiap potensi gangguan, dari antrean yang tak terkendali hingga distribusi yang tak tepat sasaran, diminta untuk segera dilaporkan. Kepolisian, kata dia, siap hadir bukan hanya sebagai pengawas, tetapi juga sebagai penjaga stabilitas di tengah keresahan publik.

Di balik diskusi yang berlangsung, tersimpan harapan sederhana: agar masyarakat tak perlu lagi menunggu terlalu lama di bawah terik matahari hanya untuk setetes bahan bakar.

Rapat itu pun menjadi cerminan bahwa di balik hiruk-pikuk antrean, ada kerja-kerja sunyi yang terus dilakukan. Kolaborasi antara aparat dan pengelola menjadi kunci agar energi tetap mengalir, kehidupan tetap bergerak, dan Soppeng tetap berjalan dalam ritme yang semestinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *