Keterangan Gambar:
Kapolres Soppeng Aditya Pradana bersama jajaran Pejabat Utama Polres Soppeng berfoto bersama Kapolda Sulawesi Selatan Djuhandhani Rahardjo Puro usai menghadiri kegiatan Halal Bihalal/ Open House dalam rangka Idul Fitri 1447 H di Rumah Jabatan Kapolda Sulsel, Makassar, Sabtu (21/3/2026). Suasana penuh kehangatan dan kebersamaan tampak dalam momen silaturahmi yang mempererat soliditas dan sinergitas antar jajaran Kepolisian.
Oleh: Masykur Thahir
Di bawah lengkung cahaya yang hangat dan teduh, di Rumah Jabatan Kapolda Sulawesi Selatan di Makassar, suasana siang itu terasa berbeda. Bukan sekadar pertemuan formal, melainkan perjumpaan hati yang saling merindukan damai setelah sebulan ditempa dalam ibadah.
Sabtu, 21 Maret 2026, usai gema Idul Fitri 1447 Hijriah, langkah-langkah para Bhayangkara menyatu dalam satu tujuan: merajut kembali silaturahmi, menyempurnakan maaf yang mungkin belum sempat terucap.
Kapolres Soppeng, Aditya Pradana, hadir dengan penuh khidmat, didampingi jajaran Pejabat Utama Polres Soppeng. Kehadiran mereka bukan sekadar memenuhi undangan, melainkan menghadirkan ketulusan untuk mempererat ukhuwah di tubuh Polri.
Di hadapan tuan rumah, Kapolda Sulawesi Selatan, Djuhandhani Rahardjo Puro, suasana halal bihalal mengalir dalam kehangatan. Senyum-senyum bersahaja, jabat tangan yang erat, dan tatap mata yang jujur menjadi bahasa yang melampaui kata.
Momentum ini menjadi pengingat, bahwa di balik seragam dan tugas yang berat, ada jiwa-jiwa yang tetap ingin bersih, saling memaafkan, dan kembali kepada fitrah.
“Melalui kegiatan ini, kita mempererat silaturahmi, menjaga kekompakan, serta memperkuat komitmen dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” tutur Kapolres Soppeng, dengan nada yang tenang namun sarat makna.
Di ruang itu, kebersamaan terasa begitu utuh. Para pejabat utama, Kapolres jajaran, hingga personel lainnya larut dalam suasana kekeluargaan yang hangat. Seolah menegaskan bahwa kekuatan Polri bukan hanya pada struktur dan komando, tetapi juga pada hati yang saling terikat oleh nilai kebersamaan dan pengabdian.
Halal bihalal ini bukan sekadar tradisi tahunan. Ia adalah jembatan batin, yang menghubungkan niat baik, memperkuat soliditas, dan meneguhkan kembali panggilan pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara.
Di penghujung acara, yang tersisa bukan hanya dokumentasi dan protokoler. Tetapi juga doa-doa yang diam-diam terpanjatkan, agar setiap langkah pengabdian ke depan senantiasa dilandasi keikhlasan, persaudaraan, dan keberkahan.











