Di Bawah Terik dan Doa: Langkah Sunyi Penjaga Lebaran dari Soppeng

POLRI34 Dilihat

Keterangan Gambar:

Kapolres Soppeng AKBP Aditya Pradana menyerahkan bingkisan kepada personel saat melakukan pengecekan Pos Pengamanan Operasi Ketupat 2026, sebagai bentuk dukungan moril bagi petugas yang berjaga dalam pengamanan arus mudik dan balik Lebaran di Kabupaten Soppeng.

Oleh: Idris

Pagi itu belum sepenuhnya panas, tetapi langkah-langkah telah bergegas. Di halaman markas dan ruas-ruas jalan yang menjadi simpul perjalanan, ada kesibukan yang tak sekadar rutinitas, ia adalah ikhtiar menjaga ketenangan menjelang hari kemenangan.

Di tengah suasana itu, Kapolres Soppeng, AKBP Aditya Pradana, berjalan bersama unsur Forkopimda, menyapa satu per satu pos pengamanan Operasi Ketupat 2026. Rabu, 18 Maret 2026, bukan sekadar tanggal dalam kalender, ia menjadi penanda dimulainya kesungguhan menjaga perjalanan pulang ribuan orang menuju kampung halaman.

Dari Pos Yan Lalabata hingga Pos Pam Marioriwawo, rombongan menapaki jejak yang sama: memastikan bahwa setiap titik pengamanan bukan hanya berdiri sebagai bangunan, tetapi sebagai harapan. Harapan agar setiap kendaraan yang melintas membawa cerita bahagia, bukan duka.

Di tiap pos, para petugas berjaga. Wajah-wajah lelah yang diselimuti ketulusan. Mereka bukan sekadar aparat, melainkan penjaga jeda, agar masyarakat bisa merayakan Idul Fitri dengan hati yang lapang.

Bupati Soppeng H. Suwardi Haseng, Wakil Bupati Ir. Selle KS Dalle, bersama jajaran Forkopimda, turut menyatu dalam langkah ini. Tak ada sekat di antara mereka, yang ada hanya satu tujuan: memastikan keamanan menjadi milik bersama.

“Pos ini harus benar-benar siap, baik personel maupun fasilitasnya. Kami ingin masyarakat merasa aman,” ujar AKBP Aditya Pradana, dengan nada yang tenang namun penuh ketegasan.

Namun lebih dari sekadar kesiapan teknis, ada nilai yang tak kasatmata: sinergi. Dalam diam, kerja sama antara Polri, TNI, Dinas Perhubungan, Satpol PP, hingga tenaga kesehatan menjadi jaring tak terlihat yang menguatkan satu sama lain. Sebuah kolaborasi yang lahir dari kesadaran bahwa menjaga manusia adalah ibadah.

Operasi Ketupat 2026 di Soppeng berlangsung selama 13 hari, dari 13 hingga 25 Maret. Tiga Pos Pengamanan dan satu Pos Pelayanan berdiri sebagai titik-titik penjaga waktu, siaga selama 24 jam, tanpa jeda.

Di balik semua itu, ada doa-doa yang mungkin tak terucap. Doa dari para ibu yang menunggu di rumah. Doa dari para pemudik yang ingin tiba dengan selamat. Dan doa dari para petugas yang berharap tugas mereka menjadi amal.

Hingga siang menjelang, pengecekan itu usai. Situasi tetap aman, tertib, dan lancar. Namun sesungguhnya, yang mereka jaga bukan hanya lalu lintas atau keamanan. Mereka menjaga rasa, agar Idul Fitri hadir bukan sekadar sebagai perayaan, tetapi sebagai kedamaian yang utuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *