Di Antara Seragam dan Doa: Zakat Fitrah Polres Wajo Mengalir Menjadi Cahaya Bagi Sesama

POLRI62 Dilihat

Keterangan Gambar:

Personel Polres Wajo menyerahkan zakat fitrah kepada perwakilan Baznas di Mapolres Wajo, Rabu (18/3/2026). Penyerahan ini menjadi wujud kepedulian sosial di bulan Ramadan, sekaligus bentuk komitmen kepolisian dalam berbagi dan mempererat hubungan dengan masyarakat. Pada momen tersebut juga tampak suasana khidmat saat doa bersama dipanjatkan, mengiringi penyaluran zakat agar membawa keberkahan bagi penerima dan pemberi.

Oleh: Sabri

WAJO — Pagi itu, suasana di Mapolres Wajo terasa berbeda. Di balik barisan seragam yang biasanya tegas dan penuh disiplin, ada keheningan yang lebih dalam, hening yang membawa makna. Ramadan belum usai, tetapi jejak keberkahannya sudah mulai disemai.

Di sebuah ruangan sederhana, tangan-tangan yang terbiasa menggenggam tugas negara kini beralih menunaikan kewajiban langit. Zakat fitrah diserahkan, bukan sekadar angka, melainkan titipan keikhlasan. Sejumlah Rp26,8 juta dihimpun, menjadi jembatan antara mereka yang memiliki dan yang membutuhkan.

Penyerahan itu dilakukan kepada Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), Rabu pagi (18/3/2026). Mewakili Kapolres Wajo, Iptu M. Firman Rahim hadir, menyampaikan amanah yang lebih dari sekadar formalitas. Di wajahnya, terpancar kesadaran bahwa tugas polisi tak hanya menjaga keamanan, tetapi juga merawat kemanusiaan.

“Zakat fitrah ini bukan hanya kewajiban, tapi juga panggilan hati,” ujarnya lirih, seolah menegaskan bahwa setiap rupiah yang diserahkan adalah doa yang dititipkan.

Ramadan memang selalu punya cara untuk melembutkan. Di tengah rutinitas yang padat, para personel Polres Wajo memilih untuk berhenti sejenak, merenung, berbagi, dan mengingat bahwa di luar sana, ada harapan yang menunggu untuk disentuh.

Lebih dari sekadar kegiatan seremonial, penyerahan zakat ini menjadi simbol. Simbol bahwa institusi kepolisian tidak berdiri jauh dari masyarakat, melainkan tumbuh bersama denyut kehidupan mereka. Bahwa seragam bukanlah sekat, melainkan jembatan pengabdian.

Kasi Humas Polres Wajo, IPTU Kaomi, menegaskan bahwa kegiatan ini adalah bagian dari upaya menanamkan nilai-nilai kemanusiaan di tubuh kepolisian. Sebab pada akhirnya, kekuatan terbesar bukan hanya pada kewenangan, tetapi pada kepedulian.

Di bulan yang suci ini, zakat fitrah menjadi bahasa yang paling jujur, bahasa tentang berbagi, tentang membersihkan diri, dan tentang harapan. Harapan agar setiap butir kebaikan yang disalurkan mampu menjelma menjadi senyum di wajah-wajah yang selama ini menahan beban hidup.

Dan ketika Ramadan perlahan menuju ujungnya, mungkin yang paling tertinggal bukan hanya gema takbir, tetapi juga jejak-jejak kecil kebaikan, yang diam-diam menguatkan, menghidupkan, dan menyatukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *