Menjaga Nafas Yassisoppengi: Ketika Pembangunan Menemukan Ruh Keagamaan

PARLEMEN15 Dilihat

Menjaga Nafas Yassisoppengi: Ketika Pembangunan Menemukan Ruh Keagamaan

Keterangan Gambar: Anggota DPRD Soppeng Fraksi PDIP, Ardi Doma, berfoto bersama warga Matarengnge, Desa Goarie, saat bergotong-royong membangun plat dekker penyeberangan. Tampak pula batu prasasti peresmian sebagai simbol dedikasi hasil reses bagi kesejahteraan masyarakat setempat.

PALAPA MEDIA GROUP (PMG) Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

FEATURE PALAPA Kisah Kemanusiaan di Balik Fakta

SUARA PALAPA, SOPPENG — Di batas Dusun Matarengnge, Desa Goarie, tanah tak sekadar menjadi tempat berpijak, melainkan saksi bisu atas ikhtiar menyambung napas kehidupan. Di tempat ini, ketika gemuruh mesin dan peluh warga menyatu dalam kerja bakti, pembangunan jalan tak lagi terasa sebagai sekadar tumpukan semen dan baja, melainkan sebuah bentuk ibadah yang mengalun puitis.

Bagi warga Matarengnge, akses jalan yang rusak selama bertahun-tahun bagaikan sekat yang memisahkan mereka dari kemudahan—menguji kesabaran di tengah derita mobilitas yang terhalang. Namun, nurani kepedulian hadir saat reses DPRD Soppeng berlangsung. Ardi Doma, legislator dari Fraksi PDI Perjuangan, memilih untuk mendengar jeritan sunyi konstituennya. Tanpa ragu, disepakati bersama bahwa alokasi dana reses dialihkan sepenuhnya untuk menjawab kebutuhan paling mendasar masyarakat: membangun plat dekker dan perbaikan saluran air (gorong-gorong).

“Setiap kali melihat warga kesulitan melintas, hati nurani kita terpanggil. Pembangunan sejati adalah pembangunan yang menyentuh langsung denyut nadi kehidupan rakyat,” ungkap Ardi Doma di sela-sela kegiatannya yang selalu siap turun tangan ke lapangan kapan pun warga membutuhkan bantuan.

Infrastruktur penyeberangan yang dibangun dengan lebar empat meter dan memakan anggaran hingga Rp800 juta ini kini berdiri kokoh. Prasasti berlatar hitam berukir tinta emas bertuliskan “Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa” menjadi penegas bahwa setiap jengkal fasilitas publik yang lahir dari amanah rakyat sejatinya adalah wujud rasa syukur dan penghambaan diri kepada Sang Pencipta.

Melalui kerja nyata ini, nilai agung kearifan lokal Yassisoppengi, semangat kebersamaan, rasa memiliki, dan gotong-royong masyarakat Soppeng, menemukan kembali ruh keagamaannya. Pembangunan di Matarengnge bukan lagi sebatas angka-angka dalam laporan anggaran, melainkan manifestasi dari cinta, kepedulian, serta pemuliaan terhadap martabat kemanusiaan.

Di bawah naungan langit Soppeng, plat dekker itu kini berdiri tidak hanya menyambung dua sisi jalan, tetapi juga merajut kembali harapan dan senyum warga yang pernah terputus.

Fakta Diberitakan. Manusia Dimuliakan. Nurani Dihidupkan.

(PMG/Sanusi Muda)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *