Ketika Api Melahap Rumah Panggung, Pagi di Tosora Berubah Menjadi Duka

BENCANA10 Dilihat

Keterangan Gambar:
Petugas bersama warga berada di lokasi kebakaran rumah panggung di Dusun Wajo Wajo, Desa Tosora, Kecamatan Majauleng, Wajo. Sisa bangunan dan atap yang hangus menjadi saksi amukan api. (Foto: Dokumentasi Humas Polres Wajo)

PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

FEATURE PALAPA

Kisah Kemanusiaan di Balik Fakta

Oleh: Sabri

SUARA PALAPA, WAJO — Pagi belum sepenuhnya meninggi ketika kepulan asap mengoyak ketenangan Dusun Wajo Wajo, Desa Tosora, Kecamatan Majauleng, Kabupaten Wajo. Di sebuah rumah panggung yang selama ini menjadi tempat berteduh, api tiba-tiba datang membawa bahasa yang tak mengenal kompromi.

Kayu-kayu yang menjadi tiang kehidupan berubah menjadi bara. Dinding dan atap yang dahulu melindungi keluarga dari panas dan hujan, perlahan runtuh dalam kobaran merah.

Sekitar pukul 06.30 Wita, Selasa (8/9/2026), satu unit rumah panggung milik Noni (37) dilaporkan terbakar. Api diduga pertama kali muncul dari bagian belakang rumah, kemudian menjalar dengan cepat ke bagian depan hingga menghanguskan seluruh bangunan beserta isinya.

Bagi sebuah rumah panggung, api bukan sekadar ancaman. Material kayu yang menjadi bagian utama bangunan membuat kobaran dapat bergerak begitu cepat, seakan menemukan jalan sendiri menuju setiap sudut rumah.

Warga yang melihat kejadian itu tak tinggal diam. Mereka berupaya memadamkan api dengan peralatan seadanya sembari menanti pertolongan dari petugas pemadam kebakaran.

Di tengah kepanikan, ada naluri kemanusiaan yang bekerja. Tetangga datang membantu. Tangan-tangan yang mungkin sehari-hari sibuk dengan urusan masing-masing, pagi itu dipertemukan oleh satu keadaan: menyelamatkan apa yang masih mungkin diselamatkan.

Sekitar pukul 07.00 Wita, satu unit mobil pemadam kebakaran dari sektor Majauleng tiba di lokasi. Petugas segera melakukan pemadaman dan penanganan hingga kobaran api berhasil dikendalikan sekitar pukul 07.30 Wita.

Namun, setelah api padam, yang tersisa bukan sekadar puing.

Ada kenangan yang ikut terbakar. Ada barang-barang yang mungkin dikumpulkan bertahun-tahun, tetapi lenyap dalam hitungan menit. Ada pula rasa kehilangan yang tidak mudah dihitung dengan angka.

Berdasarkan informasi awal, kebakaran diduga dipicu hubungan arus pendek listrik atau korsleting. Meski demikian, penyebab pasti kebakaran masih dalam pemeriksaan lebih lanjut.

Kanitreskrim Polsek Majauleng Ipda Andi Zeinal mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap ringan persoalan instalasi listrik di rumah.

Menurutnya, kabel, stop kontak, dan sambungan listrik yang sudah rusak atau tidak layak digunakan sebaiknya segera diperiksa dan diganti. Peralatan listrik yang masih menyala juga hendaknya tidak ditinggalkan ketika penghuni meninggalkan rumah.

“Kami mengimbau masyarakat untuk rutin memeriksa kondisi instalasi listrik di rumah,” ujar Ipda Andi Zeinal.

Ia juga mengingatkan agar penggunaan sambungan listrik secara berlebihan dihindari. Kewaspadaan sederhana, menurutnya, dapat menjadi ikhtiar penting untuk mencegah musibah yang lebih besar.

Pesan itu terasa semakin penting di tengah permukiman yang masih banyak memiliki rumah dengan konstruksi kayu. Ketika api menemukan bahan yang mudah terbakar, waktu untuk menyelamatkan harta benda menjadi sangat singkat.

Dalam peristiwa di Tosora, rumah panggung milik Noni beserta seluruh isinya akhirnya hangus terbakar. Kerugian materiel ditaksir mencapai Rp100 juta.

Angka itu mungkin cukup untuk menghitung kerugian secara administratif. Tetapi bagi pemilik rumah, kehilangan tidak pernah sesederhana sebuah angka.

Sebab rumah bukan hanya kayu, seng, dinding dan lantai. Rumah adalah tempat pulang. Tempat keluarga berbagi cerita. Tempat doa-doa dilangitkan dalam kesunyian malam. Dan ketika rumah itu hilang dalam kobaran api, yang diuji bukan hanya kemampuan seseorang untuk menerima kehilangan, tetapi juga keteguhan hati untuk kembali menata kehidupan.

Musibah selalu datang tanpa mengetuk pintu. Manusia hanya mampu berikhtiar, berhati-hati dan saling mengingatkan.

Di antara puing-puing yang menghitam, pagi di Tosora meninggalkan sebuah pelajaran sederhana: api dapat melahap rumah dalam sekejap, tetapi kepedulian manusia dapat menjadi cahaya yang menuntun mereka untuk bangkit kembali.

Barangkali di sanalah makna sabar menemukan tempatnya—bahwa setiap kehilangan adalah ujian, dan setiap ujian selalu menyisakan ruang bagi manusia untuk kembali mendekat kepada Allah SWT.

PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *