Menjemput Berkah di Meja Rakyat: Negara Hadir Lewat Pangan Murah di Ujung

EKOBIS11 Dilihat

Keterangan Gambar:

Petugas Dinas Ketahanan Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Soppeng bersama aparatur Kelurahan Ujung melayani warga pada Gerakan Pangan Murah dalam rangka Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan di halaman Kantor Kelurahan Ujung, Kecamatan Lilirilau, Kabupaten Soppeng, Selasa (28/07/2026). Program ini menyediakan sembilan bahan pokok dengan harga terjangkau di bawah harga pasar.

Oleh: Syukur Mariorante Katalawala

SOPPENG, SUARA PALAPA – Siang itu, matahari Lilirilau tidak sekadar menyinari halaman Kantor Kelurahan Ujung. Ia menyaksikan sesuatu yang lebih hangat dari teriknya: senyum lega para ibu yang menenteng beras dan minyak dengan harga yang memuliakan.

Di tengah riak harga yang kerap mengusik ketenangan dapur, negara datang dengan cara paling humanis. Tidak dengan pidato yang tinggi, melainkan dengan meja-meja sederhana yang digelar penuh berkah. Itulah Gerakan Pangan Murah yang diikhtiarkan Dinas Ketahanan Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Soppeng, bersinergi dengan Pemerintah Kelurahan Ujung, Selasa (28/07/2026).

Ini bukan sekadar pasar. Ini adalah ikhtiar menjaga marwah. Bahwa pangan adalah hak asasi, bahwa dapur yang tetap mengepul adalah doa yang terjaga.

Sejak pukul 13.00 hingga 16.00 WITA, halaman kantor kelurahan itu berubah menjadi oase. Sembilan bahan pokok dihadirkan dengan harga yang diringankan, sebagai wujud nyata stabilisasi pasokan dan harga pangan. Sebuah upaya sunyi namun bermakna, untuk memastikan tak ada air mata yang jatuh karena mahalnya sepiring nasi.

Fakta di lapangan berbicara dengan bahasa yang paling jujur, bahasa harga yang berpihak:

Beras 5 kilogram yang di pasar menanjak, di sini ditebus hanya Rp58.000. Minyak Kita yang menjadi nadi gorengan rumah tangga, cukup Rp15.000 per liter. Gula pasir manis seharga Rp17.500 per kilogram, bawang putih Rp35.000 per kilogram, serta ragam kebutuhan lain yang sengaja dimurahkan, bukan untuk merugikan pedagang, melainkan untuk menguatkan saudara.

“Alhamdulillah, sangat membantu. Selisihnya bisa untuk keperluan anak sekolah,” lirih seorang ibu berhijab kuning, tangannya erat memegang kantong bawang merah, matanya berkaca-kaca antara syukur dan haru.

Gerakan ini bukanlah kegiatan seremonial yang selesai dalam setengah hari. Ia adalah rangkaian zikir kerja yang terjadwal dan berkelanjutan. Sesuai spanduk informasi yang terbentang, Gerakan Pangan Murah ini akan terus menyapa: hari ini di Kelurahan Macanre dan Kelurahan Ujung, esok Rabu (29/07) di Kelurahan Pajalesang dan Cabenge, hingga Kamis (30/07) di Desa Palangiseng dan Desa Paroto, Kecamatan Lilirilau.

Inilah wajah pemerintah yang sesungguhnya. Tidak selalu di balik meja birokrasi yang dingin, tetapi hadir di teras-teras rakyat, menakar beras, melayani dengan senyum, memastikan bahwa rezeki yang Allah titipkan melalui bumi Soppeng dapat dirasakan secara adil oleh seluruh umat.

Sebab pada akhirnya, ketahanan pangan bukanlah angka-angka statistik dalam laporan. Ia adalah ketenangan seorang ibu saat menanak nasi, ia adalah rasa aman seorang ayah saat pulang ke rumah, dan ia adalah keberkahan yang kita jemput bersama di meja-meja rakyat.

Semoga ikhtiar kecil ini menjadi amal besar, menjadi jembatan kasih antara pemimpin dan yang dipimpin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *