Menjemput Gemercik Kehidupan di Tengah Tandusnya Tanah Laringgi Soppeng

EKOBIS150 Dilihat

Keterangan Gambar:

Para pekerja jasa sumur bor tengah berikhtiar menembus kedalaman bumi untuk mengalirkan air bersih di pemukiman warga Desa Laringgi, Kecamatan Marioriawa, Kabupaten Soppeng, Selasa (25/8/2026) malam. (Foto: Idris)

PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

FEATURE PALAPA
Kisah Kemanusiaan di Balik Fakta

Oleh: Idris

SUARA PALAPA, SOPPENG — Ketika langit enggan menumpahkan bulir-bulir hujan dan bumi perlahan meretak dalam dahaga, ada jemari-jemari legam yang pantang menyerah menembus kerasnya perut bumi. Musim kemarau yang melanda Dusun Welonge, Desa Laringgi, Kecamatan Marioriawa, Kabupaten Soppeng, memang menghadirkan ujian ketabahan bagi warga. Namun, di balik dahaga itu, tersembunyi tumpuan harapan pada ikhtiar para penggali sumur bor, sosok-sosok penyambung napas kehidupan.

Bagi Arsandi (35), terik matahari dan dinginnya tumpatan debu kemarau adalah panggil ikhtiar. Saat sumur-sumur warga mulai mengering dan suara gemercik air berubah menjadi keheningan, jasanya menjelma oasis penyejuk.

Dalam sebulan terakhir, ketukan takdir menuntunnya menyelesaikan sedikitnya 30 titik lubang bor baru. Sebuah lonjakan drastis dibanding hari-hari biasa yang hanya berkisar antara 5 hingga 10 pesanan.

“Setiap hari kami menembus kedalaman tanah. Satu hari, satu lubang kehidupan berhasil diselesaikan. Bulan ini saja sudah ada 30 titik yang kami bor,” ujar Arsandi dengan senyum ketulusan, Selasa (25/8/2026).

Kekeringan yang membelenggu kawasan Welonge, Tongronge, hingga Awakaluku memaksa warga melangkah lebih jauh. Ada yang menambah kedalaman pipa lama, ada pula yang berikhtiar membuka mata air baru demi menghadirkan kehidupan bagi keluarga mereka.

Raut cemas sempat mengintai Alias, warga Desa Laringgi. Sudah tiga hari belakangan, pompa airnya hanya mendesis kosong tanpa setetes pun air yang keluar. Usaha memancing air hingga berember-ember tak jua membuahkan hasil.

“Tiga hari air tak mengalir. Dipancing satu bak pun tetap kering. Akhirnya saya memutuskan mengebor lebih dalam di pelataran rumah. Semoga Sang Pencipta meridhoi, agar air kembali mengalir melimpah,” tutur Alias penuh harap.

Hal serupa dirasakan Abdul Latif dan puluhan warga lainnya. Bagi mereka, air bukan sekadar kebutuhan fisik, melainkan urat nadi kehidupan dan sarana ibadah sehari-hari. Di tengah getirnya kemarau, gemuruh mesin bor Arsandi bukan sekadar bising peralatan, melainkan alunan nada harapan bahwa di balik setiap kesulitan, selalu ada kemudahan dan rezeki yang tercurah dari-Nya.

PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *