KETERANGAN GAMBAR:
Harmoni dalam Tugas: Bhabinkamtibmas Kelurahan Lapajung dan Salokaraja, AIPTU Ibrahim, duduk bersama seorang warga di sela-sela kegiatan sambang ke Kelompok Tani Seppae di Cenrana. Terlihat kedekatan di antara keduanya saat Ibrahim memegang pamflet imbauan Kamtibmas, berlatar belakang tumpukan tabung gas yang merupakan bagian dari kehidupan ekonomi sehari-hari masyarakat setempat. (Foto: Dok. Humas Polres Soppeng)
Oleh: Hasanuddin Tinco
SOPPENG, SUARA PALAPA — Di bawah langit kelabu yang meredupkan sengatan mentari di atas hamparan Cenrana, Kelurahan Salokaraja, tidak sekadar benih padi yang sedang dirawat. Jauh lebih mendalam, ada benih-benih kerukunan dan kedamaian yang tengah disemai. Di sebuah saung sederhana yang menjadi Sekretariat Kelompok Tani Seppae, pada sebuah Kamis yang damai di pertengahan Juli 2026, sebuah pertemuan sederhana namun bermakna besar berlangsung. Pertemuan itu bukan sekadar formalitas birokrasi, melainkan wujud nyata dari pepatah ‘erat dalam gotong-royong, kukuh dalam kedamaian’.
Adalah AIPTU Ibrahim, Bhabinkamtibmas Kelurahan Lapajung dan Salokaraja Polres Soppeng, sosok pengayom yang dengan rendah hati merangkul jarak. Ia tidak hadir sendiri, melainkan menggandeng Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), menjadi jembatan harmonis antara negara, ilmu, dan keringat para pahlawan pangan.
“Tanah ini adalah amanah, dan Bapak-bapak adalah para penjaganya. Menjaga lahan berarti juga menjaga hati agar tetap sejuk,” ujar Ibrahim, suaranya mengalun lembut namun penuh penekanan.
Di hadapan para petani, wajah-wajah tulus yang akrab dengan aroma tanah, Ibrahim menyampaikan pesan-pesan penting tentang keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas). Ia tak sekadar melarang atau memerintah, melainkan mengajak, layaknya seorang saudara yang peduli.
Di tengah musim kemarau yang mengancam, ia mengingatkan agar saling menjaga pompa air dari tangan jahil, menjaga rezeki agar tetap berkah. Narasi perdamaian pun mengalir saat ia membahas masalah air irigasi, yang kerap menjadi pemicu perselisihan.
“Jika air kering, hati jangan ikut kering. Utamakan musyawarah,” imbaunya.
Ibrahim mengajak para petani untuk melenyapkan amarah dengan solusi bijak, melibatkan Ketua Kelompok Tani, PPL, pemerintah kelurahan, serta dirinya sendiri dan Babinsa sebagai pilar penengah. Sebuah pendekatan dialogis yang menyentuh akar humanis, mengingatkan bahwa “rahmatan lil ‘alamin” (rahmat bagi alam semesta) dimulai dari kerukunan bertetangga.
Waspada terhadap potensi kebakaran juga menjadi bagian dari pesannya, sebuah bentuk ikhtiar menjaga bumi. Dan, sebagai wujud negara yang selalu hadir, ia menekankan agar warga tidak ragu menghubungi layanan Call Center Polri 110 jika membutuhkan bantuan, menjadikan polisi sebagai sahabat yang bisa diandalkan kapan saja. Kehadiran sosok polisi dan PPL ini layaknya oase yang menyegarkan.
Sinergi ini tidak luput dari perhatian Kapolres Soppeng AKBP Adiya Pradana, S.I.K., M.I.K., yang secara khusus memberikan apresiasinya.
“Petani adalah pilar ketahanan pangan, dan ketahanan pangan adalah bagian tak terpisahkan dari ketahanan negara. Kehadiran Bhabinkamtibmas adalah komitmen kami untuk memberikan rasa aman dan pendampingan, memastikan setiap persoalan dapat diselesaikan melalui komunikasi yang baik,” tutur Kapolres, dengan nada penuh wibawa.
Seiring berjalannya waktu, pertemuan pun usai dalam suasana damai dan penuh kekeluargaan. Senyum dan kelegaan terpancar dari wajah para anggota kelompok tani. Di Cenrana, persatuan kembali dipertegas, dan iman kembali disegarkan. Mereka menyadari, saat keringat membasahi bumi, ada doa dan pengayoman yang menyertainya.






