Menyulam Doa di Tanah Latemmamala: Saat Nusabugisme Menjemput Takdir Peradaban

BUDAYA DAN SENI92 Dilihat

Dr. Hendra Sudrajat, S.H., M.H.

Oleh: Alimuddin
Ketua Dewan Penasehat SMSI Kabupaten Soppeng

SOPPENG — Pagi di ufuk Soppeng selalu datang seperti bisikan lembut malaikat; perlahan, hening, dan sarat akan rahasia ketuhanan. Kabut tipis yang memeluk pepohonan di kaki bukit Latemmamala bukan sekadar fenomena alam, melainkan selimut sejarah yang mengingatkan kita bahwa tanah ini tidak pernah benar-benar tidur. Ia sedang berzikir, merawat ingatan tentang sebuah peradaban yang telah melampaui tujuh abad lamanya.

Di usianya yang ke-765 tahun, Soppeng tidak sedang berpesta dalam kemegahan fana. Ia justru sedang bersimpuh, berdialog dengan nurani kolektifnya tentang ke mana arah biduk ini akan berlayar. Di tengah riuh rendah perubahan zaman, sebuah suara jernih bergema dari kejauhan, dibawa oleh angin kerinduan seorang putra daerah yang meniti karier di belantara ibu kota. Dr. Hendra Sudrajat, S.H., M.H., Adv., sosok akademisi dan praktisi hukum yang darahnya mengalir kental nilai-nilai Bugis, memandang momentum ini bukan sekadar angka di atas kalender. Baginya, Soppeng adalah sajadah pengabdian tempat nilai-nilai luhur harus ditegakkan.

“Nusabugisme itu ibarat akar yang menghujam ke bumi leluhur, namun dahan dan buahnya harus mampu menaungi seluruh Nusantara,” tuturnya dengan nada bicara yang tenang namun berwibawa, mencerminkan kedalaman pemikiran seorang intelektual yang tak kehilangan pijakan spiritual.

Mahkota Budaya dan Nafas Ilahiah

Bagi Hendrajat, menjaga Soppeng adalah menjaga amanah Tuhan melalui wasiat leluhur. Di tengah gempuran globalisasi yang seringkali mencabut manusia dari akarnya, ia menawarkan oase bernama Peraturan Daerah Pemajuan Kebudayaan. Ini bukan sekadar regulasi administratif, melainkan ikhtiar langit untuk menjaga marwah jati diri agar tidak lumat ditelan masa. Ia membayangkan sebuah ekosistem pendidikan di Soppeng yang tidak hanya memuja angka-angka kecerdasan intelektual, tetapi juga memuliakan akhlak.

Sebuah madrasah kehidupan di mana kampus-kampus menjadi rahim bagi lahirnya manusia yang “kokoh secara kultural, teguh secara moral, dan tunduk secara spiritual.”

“Pendidikan tanpa akar budaya adalah raga tanpa jiwa,” ujarnya lirih, seolah sedang merapal doa bagi generasi masa depan.

Politik Memori dan Cahaya Sang Ulama

Langkah humanis Hendrajat semakin terasa saat ia menyentuh sisi sensitif dari memori kolektif masyarakat. Ia mengingatkan bahwa demokrasi di tanah Bugis adalah tentang harmoni, tentang prinsip “Laoni Mae Siatting Lima, Tosionra Ola, Tessiabelang”. Sebuah filosofi yang mengajarkan bahwa perbedaan adalah rahmat, bukan alasan untuk memutus silaturahmi.

Namun, yang paling menggetarkan nurani adalah usulannya untuk mengabadikan nama Syekh Abdul Majid Tuan Uddungeng pada Masjid Agung Darussalam Watansoppeng. Bagi Hendrajat, ini adalah bentuk ta’zim kepada sang pelita iman yang telah membawa cahaya Islam ke bumi Soppeng. Menamai rumah Tuhan dengan nama sang ulama adalah cara kita mengakui bahwa wajah Soppeng hari ini adalah kristalisasi dari keringat dan doa para pendahulu.

Begitu pula dengan nama-nama jalan. Ia ingin setiap sudut kota Watansoppeng berbicara tentang kepahlawanan Latemmala hingga Arung Bila. “Penamaan jalan adalah politik memori,” tegasnya. Ia ingin setiap anak muda yang melintas tahu bahwa mereka sedang berpijak di atas jejak para raksasa peradaban.

Cahaya dari Selatan

Di bidang hukum pun, Hendrajat tetap teguh pada prinsip “Iyaro ade’e de nakeana, de to nakeeppo”. Baginya, keadilan adalah bayang-bayang Tuhan di muka bumi; ia tidak boleh tebang pilih, tidak boleh tunduk pada relasi kuasa.

Peringatan Hari Jadi Soppeng ke-765 akhirnya menjadi sebuah titik balik. Bukan sekadar seremoni yang usai saat lampu panggung dipadamkan, melainkan sebuah awal untuk menyemai kembali benih-benih kebaikan.
Di bawah langit Soppeng yang teduh, sebuah harapan besar sedang ditenun. Bahwa dari rahim tanah Latemmamala, Nusabugisme akan terus merekah, menebar harum keadaban, dan menjadi cahaya bagi Indonesia yang lebih bermartabat. Sebab pada akhirnya, peradaban yang sejati adalah peradaban yang memanusiakan manusia dan memuliakan Sang Pencipta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *