Keterangan Gambar:
Kapolres Soppeng AKBP Aditya Pradana menyerahkan langsung bantuan sedekah kepada warga kurang mampu di halaman Mapolsek Marioriwawo, Selasa (17/3/2026), sebagai bentuk kepedulian di penghujung bulan suci Ramadhan.
Oleh: Syukur Mariorante Katalawala
Pagi itu, cahaya matahari jatuh lembut di halaman Mapolsek Marioriwawo. Udara masih menyimpan sisa kesejukan subuh, ketika langkah-langkah kecil harapan datang menghampiri. Di minggu terakhir Ramadhan, bulan yang mengajarkan arti menahan, sekaligus memberi, sejumlah warga berdiri dengan wajah teduh, menunggu bukan sekadar bantuan, tetapi sentuhan kepedulian.
Di tengah suasana itu, Kapolres Soppeng, AKBP Aditya Pradana, tampak menyapa satu per satu. Bukan sekadar seremonial, melainkan perjumpaan yang hangat, ketika tangan yang memberi bertemu dengan tangan yang menerima, dalam diam yang sarat makna.
Selasa pagi, 17 Maret 2026, selepas apel rutin, halaman Mapolsek Marioriwawo berubah menjadi ruang kecil penuh empati. Sedekah disalurkan langsung kepada warga kurang mampu. Tidak ada jarak, tidak ada sekat. Yang tersisa hanyalah rasa, bahwa di ujung Ramadhan, kepedulian menemukan jalannya.
“Ini bukan tentang besar kecilnya bantuan,” ucap Kapolres dengan nada tenang, “tetapi tentang bagaimana kita memanfaatkan hari-hari terakhir Ramadhan untuk berbagi dan memperbanyak amal.”
Kalimat itu sederhana, namun terasa dalam. Sebab Ramadhan, bagi banyak orang, adalah perjalanan batin, dan di penghujungnya, manusia diuji: seberapa tulus ia memberi, seberapa luas ia peduli.
Bagi warga yang hadir, bantuan itu bukan hanya soal materi. Ada kelegaan yang terpancar dari raut wajah mereka. Ada harapan yang diam-diam tumbuh, bahwa mereka tidak sendiri.
Kapolsek Marioriwawo, AKP Mashudi, menyebut momen ini sebagai jembatan kemanusiaan. Sebuah pengingat bahwa tugas kepolisian tak berhenti pada menjaga keamanan, tetapi juga merawat hubungan dengan masyarakat.
“Kehadiran Bapak Kapolres di sini bukan hanya membawa bantuan, tapi juga membawa rasa dekat. Ini yang membuat masyarakat merasa diperhatikan,” ujarnya.
Di sudut halaman, beberapa warga tampak menggenggam erat bantuan yang diterima. Mungkin nilainya tak seberapa, namun di dalamnya tersimpan makna yang jauh lebih besar: kepedulian, kehangatan, dan harapan.
Ramadhan memang hampir usai. Namun dari peristiwa kecil di Marioriwawo pagi itu, tersirat satu pesan yang tak lekang oleh waktu, bahwa kebaikan, sekecil apa pun, akan selalu menemukan jalannya untuk menyentuh hati manusia.
Dan di antara seragam, prosedur, dan tugas negara, ada ruang sunyi tempat kemanusiaan tetap hidup, mengalir, memberi, dan menguatkan.







