Gema Takzim di Bumi Latemmamala: Menenun Akhlak, Merajut Damai, dan Menjaga Masa Depan Santri dari Badai Jalanan

POLRI62 Dilihat

Keterangan Gambar: Kapolres Soppeng, AKBP Hari Budiyanto, S.H., S.I.K., M.H., saat bertindak sebagai Inspektur Upacara di Pondok Pesantren (Ponpes) Yasrib Lapajung, Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng, Senin (2/11/2026), menyampaikan pesan humanis dan religius tentang pentingnya menjaga kedamaian serta menjauhi segala bentuk kekerasan. (Foto: Dokumentasi Humas Polres Soppeng)

FEATURE PALAPA Kisah Kemanusiaan di Balik Fakta

Oleh: Petta Barang

SUARA PALAPA, SOPPENG — Di bawah naungan langit Soppeng yang tenang, tatkala embun pagi masih menyentuh pucuk-pucuk daun di Kompleks Pondok Pesantren Yasrib Lapajung, Kecamatan Lalabata, sebuah pemandangan khidmat tergelar. Ratusan santri berbaris rapi dalam balutan busana putih dan jas kebesaran mereka, menyimak setiap derap langkah yang membawa pesan kedamaian. Senin pagi itu, 2 November 2026, halaman pesantren tidak hanya menjadi arena upacara bendera, tetapi juga ruang perjumpaan nurani antara seorang penjaga keamanan negeri dan tunas-tunas harapan umat.

Adalah AKBP Hari Budiyanto, S.H., S.I.K., M.H., orang nomor satu di jajaran Kepolisian Resor Soppeng, yang berdiri tegak di atas podium sebagai Inspektur Upacara. Kehadirannya bukan sekadar penegak hukum yang datang berseragam lengkap, melainkan sebagai seorang bapak, seorang kakak, yang merangkul jiwa-jiwa muda dengan kelembutan bahasa agama dan kemanusiaan. Di hadapan para santri dan tenaga pendidik, ia membawa sebuah risalah sunyi: merawat akal sehat, memupuk akhlak mulia, dan menyelamatkan generasi dari gelapnya amarah serta ego zaman.

“Anak-anakku sekalian adalah generasi yang sedang dipersiapkan untuk masa depan. Manfaatkan waktu di pesantren untuk menuntut ilmu, memperbaiki akhlak, dan membangun kedisiplinan. Hormati guru, sayangi sesama teman, patuhi nasihat orang tua, dan jangan mudah terpengaruh oleh ajakan yang mengarah pada hal-hal negatif,” tutur AKBP Hari Budiyanto dengan nada mengalun penuh kebapakan.

Pesan tersebut terasa begitu universal. Di tengah gelombang modernitas yang kerap menyeret anak muda ke dalam pusaran kompetisi semu dan pencarian jati diri yang salah arah, pesantren tetap menjadi benteng moral yang kokoh. Kapolres mengingatkan bahwa jubah kesantrian melekatkan tanggung jawab batin yang besar: bahwa ilmu agama yang dihafal di dada harus menjelma menjadi laku lampah yang santun di tengah masyarakat.

Namun, di balik sejuknya dinding pesantren, bayang-bayang dunia luar kerap menyelinap membawa kerisauan. Secara khusus, Kapolres menyentuh satu isu krusial yang kerap meretakkan masa depan remaja: ancaman tawuran, perkelahian, perundungan, dan kenakalan jalanan. Dengan pandangan tajam namun menyejukkan, ia meluruskan cara pandang keliru yang kerap menjerat jiwa muda.

“Jangan pernah merasa hebat karena ditakuti orang lain. Jadilah pribadi yang dihormati karena akhlak, ilmu, dan perilaku yang baik. Jika ada persoalan dengan teman, selesaikan dengan kepala dingin dan cara yang baik. Jangan korbankan masa depan hanya karena emosi sesaat atau mengikuti ajakan kelompok,” tegasnya mengingatkan.

Lebih jauh, ia mengajak para santri untuk menjadi musafir digital yang bijak, mereka yang mampu menyaring arus informasi, menolak provokasi, dan tidak mudah diombang-ambingkan oleh kabar bohong yang memecah belah persaudaraan. Sebab, di tangan para santrilah simpul-simpul ketertiban sosial dan kedamaian di bumi Soppeng ini kelak disandarkan.

Menjelang akhir arahannya, tatapan sang perwira menyapu barisan santri satu per satu. Ada keheningan yang khusyuk menyelimuti lapangan upacara; seolah setiap kalimat yang terucap meresap ke dalam keheningan relung hati mereka yang paling dalam.

“Jadilah santri yang membanggakan orang tua dan guru. Bawa nama baik pesantren dengan prestasi dan akhlak yang mulia. Masa depan kalian masih panjang, jangan sampai dirusak oleh pergaulan yang salah. Belajar dengan sungguh-sungguh dan persiapkan diri menjadi generasi yang berguna bagi agama, bangsa, dan negara,” pungkasnya menutup upacara.

Upacara pun usai. Barisan dibubarkan. Namun, gema nasihat itu tertinggal di udara Lapajung. Di balik seragam kepolisian dan dinding-dinding pesantren, terpatri sebuah renungan sunyi: bahwa kedamaian sejati tidak lahir dari ujung parang atau kerasnya kepalan tangan, melainkan dari nurani yang bersih, sujud yang khusyuk, dan cinta kasih yang tulus pada sesama manusia.

PALAPA MEDIA GROUP (PMG) Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani Fakta Diberitakan. Manusia Dimuliakan. Nurani Dihidupkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *