Kapolres Soppeng Pimpin Gotong Royong, Harapan Tumbuh di Puing Pasar Batu-Batu

POLRI320 Dilihat

Keterangan Gambar:

Kapolres Soppeng AKBP Hari Budianto bersama unsur terkait melaksanakan kerja bakti membersihkan puing-puing sisa kebakaran di Pasar Batu-Batu, Kelurahan Manorang Salo, Kecamatan Marioriawa, Kabupaten Soppeng, Selasa (27/10/2026). Aksi gotong royong lintas instansi ini menjadi bagian dari upaya membantu penanganan dampak kebakaran dan mendukung pemulihan kawasan pasar. (Foto: Dokumentasi Humas Polres Soppeng)

PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

FEATURE PALAPA
Kisah Kemanusiaan di Balik Fakta

Oleh: Chemank Farel

SUARA PALAPA SOPPENG — Api telah padam. Namun, bagi mereka yang menggantungkan hidup di Pasar Batu-Batu, sisa-sisa kebakaran masih menyisakan pekerjaan panjang. Lembaran seng yang menghitam, material bangunan yang berserakan, dan puing-puing yang memenuhi kawasan pasar menjadi saksi bisu atas musibah yang terjadi beberapa hari sebelumnya.

Di tempat yang sama, pada Selasa pagi, 27 Oktober 2026, langkah-langkah kebersamaan mulai mengambil peran.

Kapolres Soppeng AKBP Hari Budianto, S.H., S.I.K., M.H., memimpin apel gabungan di depan lokasi kebakaran, Kelurahan Manorang Salo, Kecamatan Marioriawa, Kabupaten Soppeng. Sekitar pukul 08.00 Wita, sejumlah personel dan unsur pemerintah berkumpul, menyatukan tekad untuk membersihkan sisa-sisa kebakaran yang terjadi pada Sabtu, 24 Oktober 2026.

Pagi itu, mereka datang bukan sekadar untuk melihat apa yang tersisa setelah api melalap kawasan pasar. Mereka datang untuk bekerja bersama, mengangkat puing demi puing, sekaligus membantu membuka jalan bagi pemulihan lingkungan yang terdampak.

Di antara sisa-sisa bangunan yang rusak, gotong royong menemukan maknanya yang paling sederhana: ketika musibah meninggalkan beban, kebersamaan membuat beban itu tidak harus dipikul sendirian.

Ketika Banyak Tangan Bergerak Bersama

Kerja bakti tersebut melibatkan personel Polres Soppeng dan Polsek Marioriawa, jajaran Koramil 1423-02/MRW, Satpol PP Kabupaten Soppeng, staf Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Soppeng, staf Kecamatan Marioriawa, UPTD Puskesmas Batu-Batu, staf Kelurahan Manorang Salo, serta guru dan siswa MAN 2 Soppeng.

Turut hadir Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi dan UKM Kabupaten Soppeng, Jumiar, S.T., M.M.; Camat Marioriawa A. Massalangka Raya, S.Si.; Danramil 1423-02/MRW Letda Arm Hertasning; serta para pejabat utama Polres Soppeng.

Sesudah apel, para peserta bergerak membersihkan material dan puing-puing yang masih memenuhi area pasar.

Masing-masing unsur mengambil bagian dalam pekerjaan yang sama. Tidak ada sekat yang berarti ketika lingkungan yang terdampak musibah membutuhkan uluran tangan. Aparat keamanan, pemerintah daerah, tenaga pelayanan masyarakat, pendidik, hingga para siswa hadir dalam satu ruang kepedulian.

Di sana, yang dibutuhkan bukan hanya tenaga untuk memindahkan puing, melainkan juga kesediaan untuk saling menguatkan.

Bagi masyarakat yang terdampak, pemandangan banyak orang bekerja bersama dapat menjadi pengingat bahwa kehidupan sosial tidak berhenti ketika bencana datang. Selalu ada tangan yang dapat diulurkan, selalu ada jalan yang dapat dibuka, dan selalu ada harapan yang bisa dirawat bersama.

Kehadiran yang Lebih Berarti daripada Kata-Kata

Kapolres Soppeng AKBP Hari Budianto menegaskan bahwa kepedulian terhadap masyarakat yang tertimpa musibah perlu diwujudkan melalui tindakan nyata dan kerja sama berbagai pihak.

“Dalam situasi seperti ini, yang dibutuhkan masyarakat bukan hanya simpati, tetapi juga kehadiran dan tindakan nyata. Karena itu, kami bersama TNI, pemerintah daerah, dan seluruh unsur terkait turun langsung untuk membantu membersihkan lokasi kebakaran. Semangat gotong royong inilah yang harus terus kita jaga agar masyarakat tidak merasa menghadapi musibah ini sendirian,” ujar Kapolres.

Pesan itu menemukan maknanya dalam pekerjaan yang dilakukan pagi itu.

Sebab, simpati memang dapat disampaikan melalui kata-kata. Namun, kepedulian memperoleh wujud yang lebih nyata ketika seseorang bersedia hadir, meluangkan waktu, dan ikut mengerjakan sesuatu yang dibutuhkan sesamanya.

Kapolres juga menekankan pentingnya menjaga koordinasi dan kebersamaan dalam setiap tahapan penanganan pascakebakaran. Dengan demikian, upaya pemulihan dapat dilakukan secara terarah, seraya tetap memperhatikan kebutuhan masyarakat yang terdampak.

Langkah tersebut menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk membantu menata kembali kawasan pasar setelah kebakaran. Pembersihan puing merupakan salah satu tahapan awal, sementara pemulihan kehidupan para pedagang dan masyarakat yang bergantung pada aktivitas pasar tetap membutuhkan perhatian sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

Sebab, pasar bukan semata-mata tempat orang bertemu untuk melakukan transaksi. Di dalamnya ada usaha kecil yang dirawat bertahun-tahun, ada keluarga yang menggantungkan penghasilan harian, dan ada harapan yang tumbuh dari kerja keras yang kerap luput dari perhatian.

Ketika pasar terbakar, yang terdampak bukan hanya bangunan dan barang-barang. Bagi sebagian orang, musibah itu juga menyentuh rasa aman dan keberlanjutan kehidupan ekonomi keluarga.

Karena itu, membersihkan puing memiliki arti lebih luas daripada sekadar merapikan kawasan yang rusak. Ia menjadi bagian dari usaha untuk membuka ruang bagi kehidupan agar perlahan-lahan dapat ditata kembali.

Gotong Royong, Bahasa Kemanusiaan yang Tak Lekang

Keterlibatan berbagai unsur dalam kegiatan tersebut memperlihatkan pentingnya sinergi antara Polri, TNI, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan unsur pelayanan masyarakat.

Setiap pihak memiliki tugas dan tanggung jawab masing-masing. Namun, ketika masyarakat menghadapi kesulitan, kepedulian dapat mempertemukan berbagai tanggung jawab itu dalam satu tujuan: membantu sesama melewati masa yang tidak mudah.

Kehadiran para personel dan aparatur di lokasi kebakaran juga menjadi bentuk dukungan moral bagi masyarakat yang terdampak. Mereka menyaksikan bahwa upaya penanganan musibah tidak harus dikerjakan oleh satu pihak saja, tetapi dapat tumbuh melalui kerja bersama.

Di tengah puing-puing yang berserakan, nilai gotong royong kembali menemukan tempatnya. Nilai yang tumbuh dari kehidupan masyarakat Indonesia ini mengajarkan bahwa kekuatan tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar. Terkadang, kekuatan itu justru terlihat ketika banyak orang bersedia melakukan pekerjaan sederhana secara bersama-sama.

Tidak semua luka dapat segera disembuhkan. Tidak semua kerugian dapat dipulihkan dalam satu hari. Namun, langkah kecil yang dilakukan dengan ketulusan dapat menjadi awal dari perjalanan yang lebih panjang menuju keadaan yang lebih baik.

Melalui kegiatan tersebut, Polres Soppeng menegaskan komitmennya untuk hadir di tengah masyarakat, menumbuhkan kepedulian sosial, dan memperkuat kolaborasi lintas instansi dalam membantu warga menghadapi situasi sulit.

Pada akhirnya, makna kehadiran tidak semata-mata diukur dari siapa yang datang atau seberapa banyak puing yang berhasil dipindahkan. Lebih dari itu, kehadiran memperoleh arti ketika masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan merasa bahwa mereka masih memiliki saudara dalam kehidupan bersama.

Harapan yang Tumbuh dari Sisa Kebakaran

Puing-puing mungkin masih menyisakan jejak kehancuran. Bekas api mungkin belum sepenuhnya hilang dari ingatan. Dan bagi mereka yang kehilangan tempat usaha atau mengalami kerugian, perjalanan untuk kembali berdiri tentu tidak selalu mudah.

Namun, kehidupan mengajarkan bahwa kehancuran bukanlah satu-satunya cerita yang dapat ditulis setelah sebuah musibah.

Ada cerita lain tentang orang-orang yang datang membantu. Tentang tangan-tangan yang bekerja tanpa harus menunggu diminta. Tentang kepedulian yang tumbuh melampaui batas institusi, jabatan, dan perbedaan tugas.

Di Pasar Batu-Batu, kerja bakti itu menjadi bagian dari cerita tersebut.

Dalam pandangan iman, musibah mengingatkan manusia akan keterbatasannya. Sementara itu, kepedulian mengingatkan bahwa di tengah keterbatasan, manusia masih diberi kesempatan untuk menjadi jalan pertolongan bagi sesamanya.

Sebab, tidak seorang pun dapat menjamin bahwa hidup akan selalu berjalan tanpa cobaan. Namun, setiap orang dapat memilih untuk tidak membiarkan saudaranya menghadapi cobaan itu seorang diri.

Api mungkin telah menghanguskan sebagian bangunan, tetapi jangan sampai ia ikut menghanguskan kepedulian. Sebab, pasar dapat dibangun kembali dengan tenaga dan biaya, sementara harapan manusia akan lebih mudah tumbuh ketika ia tahu bahwa masih ada tangan-tangan yang bersedia menggenggamnya.

Fakta Diberitakan. Manusia Dimuliakan. Nurani Dihidupkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *