Al-Qur’an di Hati Santri, Cahaya bagi Negeri

SYI'AR ISLAM31 Dilihat

Keterangan Gambar: Seorang santri mengikuti lomba hafalan Al-Qur’an dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2026 tingkat Kabupaten Soppeng. Kegiatan berlangsung di SDN 51 Tonronge, Desa Laringgi, Kecamatan Marioriawa, Rabu (21/10/2026), dengan diikuti 25 peserta dari 15 pesantren dan lembaga tahfidz. (Foto: Dokumentasi PMG/Idris)

PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

FEATURE PALAPA

Kisah Kemanusiaan di Balik Fakta

Lima Belas Pesantren, Dua Puluh Lima Peserta, Menyemai Kecintaan pada Kalam Ilahi

Oleh: Idris

SUARA PALAPA, SOPPENG — Ada ayat-ayat suci yang tidak sekadar dihafalkan, tetapi juga ditanamkan ke dalam hati. Ia tumbuh menjadi pengingat ketika manusia mulai lupa, menjadi penuntun ketika langkah kehilangan arah, dan menjadi cahaya yang menemani perjalanan hidup.

Di antara nilai-nilai itulah semangat Hari Santri Nasional menemukan maknanya. Bukan semata-mata dalam peringatan seremonial, melainkan juga dalam ikhtiar merawat kecintaan terhadap Al-Qur’an, menumbuhkan akhlak, dan menyiapkan generasi yang menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian.

Semangat tersebut terasa dalam perlombaan hafalan Al-Qur’an tingkat Kabupaten Soppeng yang digelar di SDN 51 Tonronge, Dusun Welonge, Desa Laringgi, Kecamatan Marioriawa, Rabu (21/10/2026).

Sebanyak 25 peserta dari 15 pondok pesantren dan lembaga tahfidz mengikuti kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri Nasional 2026 tersebut.

Di ruangan sederhana dengan dinding berwarna cerah, seorang santri duduk di hadapan para penguji. Mikrofon berada di tangannya. Di belakangnya, sebuah spanduk bertuliskan Hari Santri Tahun 2026 Tingkat Kabupaten Soppeng menjadi penanda bahwa hari itu bukanlah hari biasa bagi mereka yang sedang menekuni jalan ilmu dan pengabdian.

Di hadapan para penguji, hafalan diuji. Ketelitian dijaga. Setiap ayat menuntut ingatan yang kuat, pengucapan yang tepat, dan ketenangan hati.

Namun, di balik perlombaan itu, ada sesuatu yang lebih luas daripada sekadar penilaian dan perolehan juara.

Ada waktu yang diluangkan untuk menghafal. Ada kesungguhan yang dipelihara dalam pengulangan ayat demi ayat. Ada guru yang membimbing, orang tua yang berharap, serta lingkungan pesantren yang berusaha menanamkan nilai-nilai agama dalam keseharian para santri.

Semua itu tidak selalu terlihat di atas panggung. Akan tetapi, justru dari proses yang sunyi itulah ketekunan sering kali tumbuh.

Menjaga Warisan, Menyiapkan Masa Depan

Hari Santri Nasional diperingati setiap 22 Oktober. Penetapannya melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2015 menjadi pengingat atas peran santri dan ulama dalam perjalanan sejarah bangsa, termasuk semangat Resolusi Jihad yang diserukan KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Sejarah tersebut menyimpan pesan bahwa pengabdian kepada agama dan kecintaan kepada Tanah Air dapat berjalan beriringan.

Santri bukan hanya mereka yang mempelajari kitab-kitab di lingkungan pesantren. Lebih dari itu, santri adalah bagian dari generasi yang diharapkan mampu membawa nilai-nilai kebaikan ke tengah masyarakat: kejujuran dalam perkataan, kesantunan dalam pergaulan, keteguhan dalam memegang prinsip, dan kepedulian terhadap sesama.

Dalam konteks itu, lomba hafalan Al-Qur’an memiliki ruang makna yang penting.

Hafalan bukanlah garis akhir. Ia merupakan salah satu pintu menuju pemahaman, penghayatan, dan pengamalan. Ayat-ayat yang tersimpan dalam ingatan diharapkan dapat menemukan tempatnya dalam perilaku, sehingga kesalehan tidak berhenti pada bacaan, tetapi menjelma menjadi kebaikan yang dirasakan orang lain.

Sebab, kemuliaan ilmu tidak hanya terlihat dari seberapa banyak seseorang mengetahui, melainkan juga dari bagaimana pengetahuan itu membimbingnya memperlakukan sesama manusia.

Lima Belas Pesantren, Satu Semangat Kebaikan

Kegiatan di Tonronge mempertemukan peserta yang berasal dari 15 pondok pesantren dan lembaga tahfidz di Kabupaten Soppeng.

Mereka adalah:

  1. Pondok Pesantren Yasrib Lapajung.
  2. Pondok Pesantren Perguruan Islam Ganra.
  3. Pondok Pesantren Shirathal Mustaqim Lompulle.
  4. Pondok Pesantren DDI Al Irsyad Pattojo.
  5. Pondok Pesantren Darushalihin Berru.
  6. Pondok Pesantren Darunnaim Pesse.
  7. Pondok Pesantren Al Ihsan Appanang.
  8. Pondok Pesantren Li Nahdhatil Ulama As’adiyah Kebo.
  9. Pondok Pesantren NU Sering.
  10. Pondok Pesantren Al Imam Hafs Soppeng.
  11. Pondok Pesantren Darul Ulum As’adiyah Tokare.
  12. Pondok Pesantren Hidayatullah.
  13. Pondok Pesantren Al Fatah Lamappoleonro.
  14. PPTQ Rofi’U Darajat Welonge.
  15. Lembaga Tahfidz Syahid Al Haq Kampong Awo.

Kehadiran para peserta dari berbagai lembaga tersebut memperlihatkan ruang perjumpaan yang mempertemukan semangat belajar, tradisi keilmuan Islam, dan harapan terhadap masa depan generasi muda.

Mereka datang membawa hafalan masing-masing. Namun, di balik perbedaan asal lembaga, terdapat tujuan yang sejalan: menjaga kedekatan dengan Al-Qur’an dan menumbuhkan kecintaan terhadap nilai-nilai yang diajarkannya.

Dalam sebuah perlombaan, tentu ada penilaian dan hasil yang akan menentukan siapa yang memperoleh prestasi terbaik. Hal itu merupakan bagian wajar dari proses pembelajaran.

Tetapi, ada pula pencapaian yang tidak selalu tercatat dalam daftar pemenang.

Keberanian tampil di hadapan penguji, kesanggupan menjaga ketenangan, kedisiplinan berlatih, serta kerendahan hati untuk terus belajar merupakan bagian dari pendidikan karakter yang nilainya tidak berhenti ketika perlombaan usai.

Di sanalah kemenangan memperoleh makna yang lebih luas.

Dari Lisan Menuju Akhlak

Al-Qur’an mengajarkan manusia untuk mengenal kebaikan, berlaku adil, menjaga amanah, dan tidak melupakan tanggung jawab terhadap sesama.

Karena itu, kecintaan kepada kitab suci semestinya berjalan bersama kesungguhan membangun akhlak. Hafalan yang kuat akan semakin bermakna ketika disertai perilaku yang santun. Pengetahuan agama akan semakin bercahaya ketika melahirkan kepedulian kepada mereka yang membutuhkan.

Harapan semacam itu tentu tidak dapat dibebankan kepada para santri semata. Keluarga, guru, lembaga pendidikan, masyarakat, dan pemerintah memiliki tanggung jawab masing-masing untuk menghadirkan lingkungan yang mendukung tumbuhnya generasi berilmu dan berkarakter.

Anak-anak yang hari ini belajar melafalkan ayat-ayat suci adalah bagian dari masa depan bangsa. Mereka membutuhkan bimbingan yang berkesinambungan, kesempatan untuk berkembang, serta teladan yang dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari.

Peringatan Hari Santri Nasional, dengan demikian, bukan hanya kesempatan untuk mengenang sejarah. Ia juga menjadi ruang untuk bertanya kepada diri sendiri: sudah sejauh mana nilai-nilai agama kita hadir dalam cara berbicara, mengambil keputusan, dan memperlakukan orang lain?

Pertanyaan itu layak direnungkan oleh siapa pun, tanpa memandang usia, kedudukan, maupun latar belakang.

Sebab, kebaikan tidak pernah kehilangan tempat di tengah kehidupan manusia. Ia selalu dibutuhkan, terutama ketika dunia bergerak cepat dan banyak orang mulai lupa menyediakan waktu untuk mendengarkan suara hati.

Ketika Hafalan Menjadi Cahaya Kehidupan

Di SDN 51 Tonronge, pada Rabu yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri Nasional 2026, ayat-ayat Al-Qur’an kembali dilantunkan oleh generasi muda yang sedang menapaki jalan ilmu.

Mungkin, bagi sebagian orang, kegiatan itu hanya sebuah perlombaan. Ada peserta, penguji, meja penilaian, dan panggung sederhana. Setelah kegiatan berakhir, ruangan akan kembali seperti semula.

Namun, makna pendidikan tidak selalu selesai bersama berakhirnya sebuah acara.

Apa yang dipelajari hari ini dapat tumbuh menjadi pegangan pada masa mendatang. Ketekunan yang dilatih dalam menghafal dapat menjadi bekal menghadapi kesulitan. Nilai-nilai yang ditanamkan oleh guru dapat menjadi pengingat ketika seseorang dihadapkan pada pilihan antara kepentingan diri sendiri dan kebaikan bersama.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pendidikan agama tidak hanya terletak pada banyaknya ayat yang mampu diingat, tetapi juga pada sejauh mana nilai-nilainya menuntun manusia untuk hidup lebih jujur, lebih adil, dan lebih berbelas kasih.

Sebab, Al-Qur’an yang dihafal oleh lisan akan menemukan kemuliaannya ketika nilai-nilainya hidup dalam perbuatan. Dan santri yang mencintai ilmu akan meninggalkan jejak terbaik bukan hanya melalui prestasi, melainkan melalui kebaikan yang tumbuh dari dirinya.

Semoga dari ruang-ruang belajar yang sederhana, lahir generasi yang tidak hanya fasih melantunkan ayat-ayat suci, tetapi juga teguh menjaga amanah, lembut terhadap sesama, serta berani menegakkan kebenaran.

Sebab, pada setiap ayat yang dihafalkan dengan sungguh-sungguh, ada harapan yang sedang dirawat. Dan pada setiap akhlak baik yang diamalkan, ada cahaya yang diam-diam menerangi kehidupan orang lain.


PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

Fakta Diberitakan. Manusia Dimuliakan. Nurani Dihidupkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *