Purbaya Pergi, Pertanyaan Publik Jangan Dibiarkan Mengambang

TAJUK RENCANA181 Dilihat

ILUSTRASI

PALAPA MEDIA GROUP
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

TAJUK RENCANA PALAPA
Suara Resmi Redaksi

Ada pergantian jabatan yang selesai bersama upacara pelantikan. Ada pula yang justru membuka pertanyaan baru.

Pergantian Purbaya Yudhi Sadewa dari kursi Menteri Keuangan termasuk yang kedua.

Faktanya, Presiden Prabowo Subianto telah mengganti Menteri Keuangan dan menunjuk Suahasil Nazara sebagai penggantinya. Itu adalah keputusan konstitusional Presiden.

Faktanya pula, selama menjabat, Purbaya menjalankan sejumlah kebijakan fiskal yang mendapat perhatian publik, salah satunya penempatan dana pemerintah sebesar Rp200 triliun pada perbankan.

Tetapi dari dua fakta tersebut, kita tidak boleh melompat pada sebuah kesimpulan: bahwa Rp200 triliun merupakan penyebab Purbaya diberhentikan.

Sampai saat ini, belum ada penjelasan resmi yang membuktikan hubungan sebab-akibat tersebut.

Di sinilah batas antara fakta dan dugaan harus dijaga.

Fakta Tidak Boleh Dikalahkan Spekulasi

Redaksi Palapa berpandangan, publik berhak bertanya tentang alasan pergantian Menteri Keuangan.

Tetapi bertanya berbeda dengan menuduh.

Menganalisis berbeda dengan menyimpulkan.

Dan dugaan tidak boleh dinaikkan derajatnya menjadi fakta.

Karena itu, segala pembacaan mengenai kemungkinan adanya persoalan dalam kebijakan fiskal, tekanan terhadap rupiah, perbedaan pandangan dengan Bank Indonesia, ataupun evaluasi atas kebijakan Rp200 triliun, harus ditempatkan sebagai kemungkinan dan bahan analisis sampai terdapat keterangan resmi atau bukti yang memadai.

Inilah disiplin yang harus dijaga media.

Kebenaran jurnalistik tidak lahir dari dugaan yang diulang berkali-kali. Ia lahir dari fakta yang dapat diperiksa.

Rp200 Triliun: Fakta Kebijakannya, Bukan Motif Pencopotannya

Penempatan dana pemerintah Rp200 triliun merupakan fakta kebijakan.

Tujuan resminya berkaitan dengan pengelolaan likuiditas dan dorongan terhadap penyaluran kredit.

Yang belum dapat dinyatakan sebagai fakta adalah bahwa kebijakan tersebut menjadi alasan Presiden mengganti Purbaya.

Karena itu, Redaksi tidak akan mengatakan:

“Purbaya dicopot karena kebijakan Rp200 triliun.”

Kalimat tersebut terlalu jauh jika tidak disertai bukti.

Yang lebih tepat adalah:

“Kebijakan Rp200 triliun merupakan salah satu kebijakan penting pada masa Purbaya yang patut dievaluasi secara terbuka, terutama menyangkut manfaat, risiko, efektivitas, dan dampaknya terhadap ekonomi.”

Itulah perbedaan antara keberanian bersikap dan keberanian berspekulasi.

Palapa memilih yang pertama.

Rupiah: Indikator yang Harus Dibaca, Bukan Alat untuk Menuduh

Demikian pula dengan kondisi rupiah.

Pergerakan nilai tukar merupakan salah satu indikator penting kesehatan ekonomi. Namun, melemahnya rupiah tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seorang Menteri Keuangan gagal menjalankan tugasnya.

Nilai tukar dipengaruhi banyak faktor: kondisi global, arus modal, kebijakan moneter, neraca perdagangan, ekspektasi pasar, serta sentimen terhadap perekonomian.

Karena itu, jika ada yang menghubungkan pelemahan rupiah secara langsung dengan pencopotan Purbaya, hubungan tersebut masih membutuhkan pembuktian.

Redaksi menolak penyederhanaan semacam itu.

Tetapi pemerintah juga tidak boleh mengabaikannya.

Sebab rupiah adalah salah satu cermin kepercayaan terhadap perekonomian.

Bank Indonesia: Sinergi Harus Dibuktikan, Konflik Jangan Diasumsikan

Hal yang sama berlaku terhadap hubungan Purbaya dengan Bank Indonesia.

Tidak tepat menyebut telah terjadi konflik terbuka apabila tidak terdapat bukti yang cukup.

Perbedaan pandangan kebijakan fiskal dan moneter merupakan sesuatu yang mungkin terjadi dalam pemerintahan modern. Fiskal dan moneter mempunyai mandat yang berbeda, meskipun harus bersinergi menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi.

Maka pertanyaan yang lebih sehat bukan:

“Apakah Purbaya berkonflik dengan Bank Indonesia?”

Melainkan:

“Seberapa kuat koordinasi kebijakan fiskal dan moneter dalam menghadapi tantangan ekonomi saat ini?”

Pertanyaan tersebut lebih objektif dan jauh lebih penting bagi kepentingan publik.

Di Sinilah Pemerintah Harus Terbuka

Justru karena berbagai dugaan bermunculan, pemerintah sebaiknya memberikan penjelasan yang memadai.

Jika alasan pergantian adalah evaluasi kinerja, publik berhak mengetahui kerangka evaluasinya.

Jika alasan utamanya perubahan strategi fiskal, pemerintah dapat menjelaskan arah baru tersebut.

Jika ada persoalan koordinasi, pemerintah dapat menjelaskan tanpa membuka informasi yang memang bersifat rahasia.

Dan jika tidak ada kaitan dengan kebijakan Rp200 triliun, rupiah, ataupun Bank Indonesia, pemerintah pun sebaiknya mengatakan demikian.

Keterbukaan bukan kelemahan.

Keterbukaan adalah cara pemerintah memelihara kepercayaan.

Sikap Resmi Redaksi

Atas dasar itu, PALAPA MEDIA GROUP menyatakan sikap:

Pertama, pergantian Purbaya Yudhi Sadewa harus dihormati sebagai keputusan Presiden. Namun, keputusan tersebut tetap layak memperoleh penjelasan publik yang proporsional.

Kedua, Redaksi tidak menyimpulkan bahwa kebijakan penempatan dana Rp200 triliun merupakan penyebab pencopotan Purbaya, karena belum terdapat bukti resmi yang menunjukkan hubungan tersebut.

Ketiga, kondisi rupiah tidak boleh digunakan sebagai dasar untuk menuduh kegagalan seorang pejabat tanpa analisis ekonomi yang utuh dan bukti yang memadai.

Keempat, dugaan konflik antara Menteri Keuangan dan Bank Indonesia tidak boleh diberitakan sebagai fakta sebelum terdapat bukti atau keterangan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Kelima, kebijakan Rp200 triliun tetap harus dievaluasi secara transparan. Publik berhak mengetahui efektivitasnya, manfaatnya bagi sektor riil, serta risiko yang melekat pada penggunaan dana negara tersebut.

Keenam, Suahasil Nazara harus diberi ruang untuk membuktikan arah kebijakan barunya melalui kerja nyata, bukan melalui perbandingan politik dengan pendahulunya.

Dan ketujuh, media massa harus menjadi penjaga batas antara fakta dan spekulasi.

Sebab media yang terlalu cepat menghakimi dapat kehilangan kepercayaan pembacanya.

Ketajaman Tidak Berarti Menuduh

Palapa percaya, keberanian media bukanlah kemampuan membuat tuduhan paling keras.

Keberanian media adalah berani mengatakan apa yang diketahui sebagai fakta, berani mengakui apa yang belum diketahui, dan berani mempertanyakan apa yang memang layak dipertanyakan.

Di situlah nurani jurnalistik bekerja.

Kita boleh kritis terhadap pemerintah tanpa menjadi lawan pemerintah.

Kita boleh mengawasi kekuasaan tanpa membenci pemegang kekuasaan.

Kita boleh mempertanyakan kebijakan tanpa menuduh pembuat kebijakan.

Karena tugas pers bukan mencari musuh.

Tugas pers adalah menjaga agar kekuasaan tidak berjalan tanpa cahaya pengawasan.

Dan cahaya itu harus bersumber dari fakta.

Bukan rumor.

Bukan prasangka.

Bukan kepentingan.

Amanah yang Lebih Panjang daripada Jabatan

Pada akhirnya, Purbaya pergi dan Suahasil datang.

Tetapi uang negara tetap uang rakyat.

APBN tetap amanah.

Rupiah tetap harus dijaga.

Pertumbuhan ekonomi tetap harus diperjuangkan.

Dan setiap kebijakan tetap harus dipertanggungjawabkan.

Di situlah nilai religius menemukan tempatnya—bukan sebagai khotbah, melainkan sebagai kesadaran bahwa kekuasaan dan kekayaan negara bukan milik pribadi siapa pun.

Jabatan mempunyai masa.

Kebijakan mempunyai akibat.

Tetapi pertanggungjawaban mempunyai jejak yang jauh lebih panjang.

Maka kepada pemerintah, Palapa berpesan:

Jelaskan yang perlu dijelaskan.

Buktikan yang perlu dibuktikan.

Evaluasi yang perlu dievaluasi.

Dan kepada media:

Beritakan fakta sebagai fakta. Tandai analisis sebagai analisis. Sebut dugaan sebagai dugaan.

Jangan biarkan batas itu kabur hanya karena sebuah berita ingin terlihat tajam.

Sebab ketajaman tanpa kehati-hatian dapat berubah menjadi kecerobohan.

Sebaliknya, kehati-hatian yang berpijak pada fakta justru dapat menjadi keberanian yang paling bermartabat.

Purbaya boleh pergi. Suahasil boleh datang.

Tetapi negara tidak boleh kehilangan arah.

Dan rakyat tidak boleh kehilangan hak untuk mengetahui mengapa sebuah keputusan besar diambil atas nama kepentingan mereka.

PALAPA MEDIA GROUP
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed