Keterangan Gambar: Para pendidik PAUD se-Kecamatan Marioriwawo mengabadikan momen kebersamaan di hamparan pasir putih Pantai Bira, Bulukumba, usai menggelar lomba alat peraga pembelajaran.
PALAPA MEDIA GROUP (PMG) Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani
ESSAY PALAPA Refleksi Nurani di Atas Fakta
Oleh: Syukur Mariorante Katalawala
SUARA PALAPA, BULUKUMBA — Perjalanan panjang menuju pesisir selatan Sulawesi Selatan pagi itu bukanlah sekadar petualangan biasa. Pukul 07.30 WITA, sebuah bus pariwisata bertolak dari Kabupaten Soppeng membawa 30 pendidik PAUD dari 14 lembaga. Mereka meniti lekuk jalan, memeluk asa, hingga roda-roda bus akhirnya berhenti di bumi Panrang Luhu, Bira, Bulukumba, saat mentari tepat membakar hari pukul 13.15 WITA, Sabtu (19/9/2026).
Di balik senyum lelah para pahlawan sunyi ini, ada tekad mendalam yang terawat. Melalui Kelompok Kerja Guru (KKG) dan Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKS) Gugus 8, mereka berkumpul bukan sekadar untuk bertemu, melainkan merawat titipan ilahi: jiwa-jiwa suci anak usia dini.
Di Wisma Panrang Luhu, ruang pertemuan berubah menjadi panggung dedikasi. Para guru membawa alat peraga masing-masing—hasil reka cipta sederhana namun kaya makna—guna mengikuti lomba pembelajaran mendalam. Setiap media yang mereka pamerkan dirancang selaras dengan alam dan denyut nadi lingkungan lembaga tempat mereka mengabdi.
Di bawah arahan Ketua Forum Penilik Kabupaten Soppeng sekaligus Penilik Kelompok Bermain (KB), Kasma, S.Pd., M.Pd., serta Ketua HIMPAUDI Kecamatan Marioriwawo, Dra. Hj. Ida Syamsidar, kegiatan ini menjadi ajang mengasah keikhlasan dan profesionalisme.
“Kegiatan ini berfokus pada pembelajaran mendalam dalam pengajaran dan mendidik peserta didik,” ujar Kasma. Pembelajaran tersebut berakar pada realitas hidup para murid—mengajarkan mereka mengenali Sang Pencipta melalui lingkungan di sekitarnya.
Menyemaikan ilmu pada jiwa anak-anak adalah bak mengukir di atas batu; membutuhkan kesabaran yang tak bertepi dan kelembutan nurani. Alat peraga yang dibawa para guru bukan sekadar benda mati, melainkan jembatan kasih sayang agar nilai-nilai kebaikan bertunas sempurna di dalam dada para santri cilik.
Seusai peluh tertumpah dalam asa kompetisi, acara ditutup dengan memeluk indahnya ciptaan Tuhan. Di atas pasir putih Bira yang lembut, para guru menyatukan langkah, menikmati buaian angin laut, dan basah bersama dalam kehangatan ombak. Ada derak tawa yang pecah, membalur keletihan menjadi kebahagiaan yang tulus.
Di tepi pantai Bira yang tenang, kita diingatkan bahwa pendidikan sejati tidak hanya mengasah ingatan, tetapi menuntun jiwa kembali kepada Sang Maha Pencipta. Dari Soppeng hingga Bira, para pendidik ini telah membuktikan bahwa tugas mengajar adalah ibadah, dan memuliakan anak manusia adalah jalan menghidupkan nurani.
Fakta Diberitakan. Manusia Dimuliakan. Nurani Dihidupkan.












