Ketika Langit Ditunggu: Doa dan Ikhtiar Warga Pitumpanua Memohon Rahmat Hujan

POLRI47 Dilihat

Keterangan Gambar:

Personel Polsek Urban Pitumpanua bersama unsur pemerintah dan masyarakat saat berada di sekitar lokasi pelaksanaan Salat Istisqa di Lapangan Latike Buriko, Desa Buriko, Kecamatan Pitumpanua, Kabupaten Wajo, Sabtu (26/9/2026). Pengamanan dilakukan untuk memastikan rangkaian kegiatan berlangsung aman, tertib, dan lancar. (Foto: Dokumentasi Humas Polres Wajo)

PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

FEATURE PALAPA

Kisah Kemanusiaan di Balik Fakta

Oleh: Sabri
Editor: Alimuddin

SUARA PALAPA, WAJO — Pagi belum sepenuhnya tinggi ketika ratusan manusia berkumpul di Lapangan Latike Buriko, Desa Buriko, Kecamatan Pitumpanua, Kabupaten Wajo, Sabtu (26/9/2026). Mereka datang membawa satu harapan yang sama: semoga langit kembali menurunkan rahmatnya dalam bentuk hujan.

Di tengah kondisi kekeringan yang dirasakan masyarakat, lapangan itu menjadi ruang untuk menundukkan kepala. Bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan tempat manusia mengakui keterbatasan dirinya di hadapan kebesaran Sang Pencipta.

Sekitar pukul 07.00 Wita, ratusan jamaah mengikuti pelaksanaan Salat Istisqa, salat sunnah yang dilakukan sebagai ikhtiar memohon turunnya hujan kepada Allah SWT.

Kegiatan tersebut diikuti Kapolsek Urban Pitumpanua, Camat Pitumpanua, Kepala Desa Buriko, Kepala Desa Tellesang, para santri Pondok Pesantren Al-Mu’minun, serta masyarakat dari sejumlah wilayah sekitar.

Di antara jamaah, hadir pula personel Polsek Urban Pitumpanua. Mereka tidak datang untuk mengambil tempat di tengah kekhusyukan ibadah, tetapi memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman, tertib, dan lancar.

Sebab, dalam sebuah ikhtiar bersama, ketenteraman juga menjadi bagian penting. Ketika masyarakat menengadahkan tangan, aparat berada di sisi mereka untuk menjaga ruang agar doa dapat berlangsung dengan tenang.

Salat Istisqa dipimpin salah seorang tenaga pendidik Pondok Pesantren Al-Mu’minun, Ustaz Irfan. Sementara khutbah disampaikan Ustaz Haerul.

Suasana pun berubah menjadi hening. Suara doa dan istighfar mengalun, mengiringi harapan orang-orang yang sedang menanti turunnya hujan.

Ada kesadaran yang sederhana tetapi dalam: manusia boleh berusaha sekuat tenaga, tetapi pada akhirnya tetap ada perkara yang berada di luar kuasanya.

Karena itu, selain melaksanakan Salat Istisqa, jamaah diajak memperbanyak istighfar, doa, amal kebaikan, serta meningkatkan keimanan dan ketakwaan.

Kekeringan yang dirasakan masyarakat menjadi salah satu alasan dilaksanakannya salat tersebut. Ikhtiar lahir dan batin dipertemukan dalam satu harapan: agar Allah SWT menurunkan hujan yang membawa rahmat, keberkahan, dan kemaslahatan bagi kehidupan.

Kapolsek Urban Pitumpanua, Kompol H. Anwar, S.Sos., berharap pelaksanaan Salat Istisqa menjadi momentum bagi masyarakat untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.

“Semoga melalui Salat Istisqa ini, Allah SWT mengabulkan doa kita, menurunkan hujan yang membawa keberkahan, serta memberikan keselamatan dan kemudahan bagi seluruh masyarakat,” harapnya.

Ia juga mengajak masyarakat menjaga lingkungan, memperbanyak amal kebaikan, dan terus mendekatkan diri kepada Allah SWT dalam menghadapi kondisi kekeringan.

Menurutnya, hujan merupakan rahmat dan nikmat Allah SWT yang memiliki arti penting bagi kehidupan manusia, hewan, tumbuhan, dan seluruh makhluk hidup.

“Sesungguhnya hujan merupakan rahmat dari Allah SWT. Karena itu, mari kita bersama-sama berdoa, berikhtiar, dan memohon ampun kepada-Nya,” tuturnya.

Pesan itu terasa semakin bermakna ketika dikaitkan dengan keadaan alam. Kekeringan bukan hanya soal tanah yang kehilangan kelembapan. Ia menyentuh banyak sisi kehidupan—kebutuhan manusia, keberlangsungan tumbuhan, serta kehidupan makhluk lainnya.

Karena itu, doa yang dipanjatkan di Lapangan Latike Buriko bukan semata permintaan agar awan menurunkan air. Ia juga menjadi pengingat bahwa nikmat yang sering dianggap biasa—setetes demi setetes air hujan—sesungguhnya memiliki arti yang sangat besar bagi kehidupan.

Di sana, spiritualitas dan kepedulian terhadap lingkungan bertemu. Memohon hujan sekaligus mengingatkan manusia agar tidak lalai menjaga bumi tempat kehidupan berlangsung.

Usai rangkaian ibadah, para jamaah meninggalkan lapangan dengan membawa kembali harapan masing-masing. Langit mungkin belum serta-merta berubah, tetapi ikhtiar telah ditunaikan. Doa telah dipanjatkan. Hati telah ditundukkan.

Selebihnya, manusia hanya dapat menunggu dengan sabar sembari terus berbuat baik.

Sebab, terkadang hujan tidak hanya mengajarkan tentang air yang jatuh dari langit. Ia juga mengajarkan manusia tentang kesabaran, rasa syukur, dan kesadaran bahwa di balik segala ikhtiar, ada kehendak Allah SWT yang menjadi tempat manusia menggantungkan harapan.

Dan pagi itu, di Lapangan Latike Buriko, harapan itu dititipkan kepada langit—dengan doa yang sederhana, tetapi penuh keyakinan: semoga hujan segera turun sebagai rahmat bagi Pitumpanua dan sekitarnya.


PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Fakta Diberitakan. Manusia Dimuliakan. Nurani Dihidupkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *