Empat Dekade Berlalu, Smabo 83 Kembali Merajut Persahabatan

PENDIDIKAN150 Dilihat

Keterangan Gambar:
Alumni SMA Negeri 156 Watampone (Smabo 83) saat berkumpul dalam arisan dan temu kangen di The Palm Tree Cafe & Resto, Watampone, Jumat (18/9/2026) malam. Pertemuan menjadi ruang untuk mengenang masa putih-abu-abu sekaligus merawat persahabatan yang telah melewati lebih dari empat dekade.

PALAPA MEDIA GROUP
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

Feature Palapa Kisah Kemanusiaan Di Balik Fakta

Oleh: Sudirman Sehe
Editor: Alimuddin

SUARA PALAPA, BONE – Ada pertemuan yang tidak sekadar mempertemukan orang. Ia mempertemukan kembali waktu yang pernah hilang, kenangan yang lama tersimpan, dan persahabatan yang ternyata tak pernah benar-benar pergi.

Begitulah suasana yang terasa di The Palm Tree Cafe & Resto, Jalan Stadion Lapatau No. 8 Watampone, Jumat (18/9/2026) malam. Sekitar pukul 19.30 WITA, sejumlah alumni SMA Negeri 156 Watampone atau yang lebih dikenal sebagai Smabo 83, berkumpul dalam agenda arisan sekaligus temu kangen.

Satu demi satu mereka datang.

Ada yang menempuh perjalanan dari Makassar, seperti Ardi Bola. Ada Hasanuddin, purnabakti kepolisian, yang datang dari Pangkep. Beberapa lainnya dari Sengkang. Bahkan, ada alumni yang datang dari luar Sulawesi, seperti Sudirman Sehe dari Ambon.

Jarak rupanya bukan lagi ukuran ketika yang hendak ditemui adalah sahabat yang pernah berbagi bangku sekolah, cerita, tawa, dan mimpi pada masa putih-abu-abu.

Malam itu, salam berubah menjadi pelukan. Senyum menjadi pintu pembuka bagi percakapan panjang yang seakan membawa mereka kembali ke lorong-lorong sekolah lebih dari empat dekade silam.

Beberapa alumni bahkan baru kembali bergabung dalam pertemuan setelah sekian lama. Salah satunya Muliati Kasim, alumni Kelas III IPS 3. Pertemuan itu berlangsung penuh haru. Teman lama kembali saling mengenali, lalu berpelukan seolah waktu yang panjang tak pernah menjadi jarak.

Putih-Abu-Abu yang Tak Pernah Pudar

Mereka rata-rata lahir pada 1963–1964. Usia telah membawa mereka jauh dari masa sekolah. Sebagian yang dahulu mengabdikan diri sebagai ASN, TNI, maupun Polri telah memasuki masa purnabakti.

Rambut yang dahulu hitam kini mulai memutih. Langkah yang dulu ringan mulai melambat. Wajah-wajah yang pernah muda kini menyimpan guratan perjalanan hidup.

Namun, ada sesuatu yang tampaknya tidak ikut menua: persahabatan.

Di antara meja dan percakapan malam, kisah-kisah lama kembali mengalir. Tentang masa sekolah. Tentang teman-teman yang dahulu setiap hari berjumpa. Tentang kenangan putih-abu-abu Smabo 83 yang tersimpan dalam ingatan masing-masing.

Mereka tertawa ketika mengingat masa lalu. Sesekali terdiam, mungkin karena ada nama dan wajah yang tiba-tiba muncul dalam ingatan.

Sebab usia mengajarkan satu hal: semakin jauh seseorang berjalan, semakin berharga kenangan tentang dari mana ia pernah memulai.

Hadir pula Andi Ibitkhri Abbas dari Kendari. Kehadiran para alumni dari berbagai daerah itu menjadi gambaran bahwa ikatan Smabo 83 tidak berhenti ketika seragam sekolah dilepas.

Ia terus hidup dalam silaturahmi.

Ketika Waktu Mengajarkan Arti Sebuah Pertemuan

Ketua Smabo 83, H. Asnawi, S.H., M.H., yang disebut pernah menjabat Kajati Sumatera Barat, tidak dapat hadir dalam pertemuan tersebut karena kondisi kesehatan yang sedang terganggu.

Informasi mengenai ketidakhadiran itu disampaikan dari Jakarta melalui grup WhatsApp Smabo 83.

Meski tanpa kehadiran sang ketua, suasana pertemuan tetap berlangsung hangat. Sebab, yang dipertemukan malam itu bukan sekadar nama-nama dalam daftar alumni.

Yang dipertemukan adalah perjalanan hidup.

Mereka pernah muda bersama. Kemudian berjalan melalui jalan hidup masing-masing—menjadi aparatur negara, anggota kepolisian, profesional, maupun menekuni berbagai bidang kehidupan. Empat puluh lebih tahun kemudian, mereka kembali duduk dalam satu ruang dengan cerita yang berbeda, tetapi membawa kenangan yang sama.

Mungkin itulah hakikat sebuah persahabatan.

Ia tidak selalu membutuhkan pertemuan setiap hari. Kadang ia cukup disimpan dalam hati, lalu ketika waktu mempertemukan kembali, ia tumbuh seketika seperti pohon tua yang tetap mengenali musim hujan.

Malam semakin larut di Watampone. Lampu-lampu The Palm Tree Cafe memantulkan cahaya di wajah-wajah yang telah matang oleh perjalanan hidup.

Di sana, Smabo 83 menemukan kembali sebuah pesan sederhana: usia boleh bertambah, waktu boleh berlari, tetapi silaturahmi selalu memiliki jalan untuk pulang.

Dan barangkali, setelah begitu panjang perjalanan, manusia akhirnya memahami bahwa yang paling berharga bukanlah seberapa jauh kita telah berjalan, melainkan siapa saja yang masih dapat kita rangkul ketika akhirnya kita menoleh ke belakang.

Sebab dalam usia yang kian senja, pertemuan bukan hanya tentang mengenang masa lalu. Ia juga menjadi cara untuk mensyukuri bahwa Tuhan masih memberi kesempatan untuk bertemu, bersalaman, tertawa, dan mengatakan kepada sahabat lama:

Kita pernah muda bersama. Dan malam ini, kita masih dipertemukan kembali.

Fakta Diberitakan. Manusia Dimuliakan. Nurani Dihidupkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *