Dari Tutur ke Literasi, Festival Dongeng Mandar Disiapkan untuk 2027

SULBAR21 Dilihat

Keterangan Gambar: Gubernur Sulawesi Barat Suhardi Duka menerima audiensi Komunitas Tutur Pandongeng di Kantor Gubernur Sulbar, Mamuju, Kamis (17/9/2026). Pertemuan membahas rencana Festival Dongeng Mandar 2027 di Pambusuang, Polewali Mandar. (Foto: Dok. Tutur Pandongeng)


PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

ESSAY PALAPA

Refleksi Nurani di Atas Fakta

Oleh: Ibnu Sultan

SUARA PALAPA, MAMUJU — Ada sesuatu yang tidak pernah benar-benar tua dalam kehidupan manusia: cerita.

Ia berpindah dari mulut ke telinga, dari orang tua kepada anak, dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Dalam cerita, manusia bukan hanya mengenang masa lalu, tetapi juga belajar memahami kehidupan.

Dari ruang sederhana itulah dongeng menemukan maknanya.

Di tengah zaman ketika layar digital semakin akrab dengan kehidupan anak-anak dan pemuda, tradisi bertutur justru menemukan alasan baru untuk kembali dihidupkan. Bukan untuk melawan zaman, melainkan untuk memberi ruang bagi nilai, imajinasi, bahasa, dan kemanusiaan agar tetap tumbuh di dalamnya.

Gagasan itulah yang dibawa Komunitas Tutur Pandongeng ketika menemui Gubernur Sulawesi Barat Suhardi Duka di Kantor Gubernur Sulbar, Mamuju, Kamis (17/9/2026).

Audiensi tersebut membicarakan rencana Festival Dongeng Mandar 2027, yang dijadwalkan berlangsung pada 24–25 Juli 2027 di Pambusuang, Kabupaten Polewali Mandar.

Festival itu dirancang bukan sekadar sebagai perhelatan budaya. Berdasarkan penjelasan Komunitas Tutur Pandongeng, kegiatan tersebut diarahkan menjadi bagian dari upaya memperkuat budaya literasi, terutama di kalangan pelajar dan pemuda di Sulawesi Barat.

Ketua Tutur Pandongeng, Ainur Basirah Mulya, menyampaikan bahwa komunitasnya ingin mengambil bagian, meski dari ruang yang sederhana, dalam membantu meningkatkan budaya literasi di tengah masyarakat.

“Kami berharap Tutur Pandongeng menjadi bagian kecil dari masyarakat yang membantu meningkatkan budaya literasi,” ujar Ainur.

Menurutnya, festival tersebut diharapkan menjadi ruang bagi pelajar dan pemuda untuk mengembangkan keterampilan serta kemampuan mereka melalui kegiatan yang dekat dengan dunia cerita dan budaya.

Di balik gagasan itu terdapat kesadaran bahwa literasi tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang rumit.

Kadang ia lahir dari sebuah cerita yang didengarkan dengan saksama. Dari kata-kata yang diucapkan dengan baik. Dari seorang anak yang belajar menyimak, kemudian bertanya. Dari keberanian seorang pemuda untuk berbicara, menulis, dan menyampaikan gagasan.

Sebab, membaca kehidupan juga merupakan bentuk literasi.

Ainur berharap Gubernur Sulawesi Barat dapat hadir sekaligus memberikan dukungan terhadap rangkaian Festival Dongeng Mandar 2027 agar kegiatan tersebut dapat terlaksana secara maksimal.

Harapan itu mendapat respons dari Gubernur Suhardi Duka.

Ia menyampaikan dukungan terhadap rencana pelaksanaan festival sekaligus mendorong agar komunitas pegiat literasi membangun koordinasi dengan perangkat daerah terkait.

“Insyaallah, untuk pelaksanaan festival, kita dukung penuh. Segera berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan untuk bersinergi dalam program yang sudah dicanangkan,” ujar Suhardi Duka.

Pernyataan tersebut membuka ruang bagi gagasan masyarakat untuk bertemu dengan kerja-kerja pemerintah. Bukan dalam posisi saling menggantikan, tetapi dalam semangat bersinergi untuk tujuan yang sama: menghadirkan ruang tumbuh bagi generasi muda.

Sekretaris Panitia Festival Dongeng Mandar, Fadly Idris, mengapresiasi respons Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat terhadap audiensi tersebut.

Ia menilai keterbukaan pemerintah dalam menerima komunitas dan mengarahkan koordinasi dengan perangkat daerah merupakan langkah yang penting bagi kegiatan berbasis masyarakat.

“Bukti nyata pemerintah seperti ini yang dibutuhkan masyarakat,” kata Fadly.

Ia juga menyampaikan apresiasi karena audiensi tersebut turut didampingi Dinas Perpustakaan serta diarahkan untuk berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan guna membicarakan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan.

Menjaga Cerita, Menjaga Manusia

Pambusuang, tempat yang direncanakan menjadi lokasi festival, bukan sekadar sebuah titik di peta Sulawesi Barat. Ia adalah ruang yang hidup bersama tradisi, kebudayaan, dan ingatan masyarakat Mandar.

Di sana, cerita memiliki rumahnya sendiri.

Maka, ketika dongeng dibawa ke ruang festival, yang hendak dijaga sesungguhnya bukan hanya sebuah pertunjukan. Ada bahasa, nilai budaya, keberanian berbicara, kemampuan menyimak, serta hubungan antargenerasi yang ikut dirawat.

Literasi dengan demikian tidak berhenti pada kemampuan membaca huruf.

Ia juga menyentuh kemampuan manusia membaca keadaan, memahami sesama, mengenali akar budayanya, serta menggunakan pengetahuan untuk menghadirkan kehidupan yang lebih bermartabat.

Di titik itu, dongeng memperoleh tempat yang lebih luas.

Ia bukan sekadar cerita sebelum tidur. Ia dapat menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan; antara tradisi dan teknologi; antara kebudayaan dan pendidikan.

Dan ketika pemerintah membuka pintu bagi inisiatif masyarakat, sementara komunitas hadir dengan gagasan yang terukur dan semangat untuk berkolaborasi, sebuah ikhtiar kecil dapat menemukan jalan yang lebih panjang.

Festival Dongeng Mandar 2027 masih berada di depan.

Pelaksanaannya pun masih membutuhkan persiapan, koordinasi, dan kerja bersama sebagaimana disampaikan dalam audiensi tersebut. Namun, setiap perubahan besar memang kerap bermula dari percakapan kecil yang dilakukan dengan niat baik.

Barangkali, dari sebuah dongeng yang dituturkan dengan tulus, seorang anak menemukan keberanian untuk bermimpi.

Dari sebuah cerita, ia belajar bahwa manusia memiliki masa lalu yang patut dihormati dan masa depan yang harus diperjuangkan.

Dan dari kata-kata yang diwariskan dengan kasih, sebuah generasi mungkin belajar bahwa kemajuan tidak harus membuat manusia kehilangan akar budayanya.

Sebab ilmu menerangi pikiran, budaya memberi akar, dan nurani mengajarkan manusia ke mana pengetahuan itu seharusnya diarahkan.

Fakta diberitakan. Manusia dimuliakan. Nurani dihidupkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed