Akhlak dan Nurani, Wajah Lain Profesionalisme Kepolisian

POLRI63 Dilihat

Keterangan Gambar:

Kapolres Soppeng AKBP Hari Budiyanto bersama Ustaz Dr. H. Das’ad Latif dalam kegiatan tausiah dan doa bersama di Mapolres Soppeng, Kamis (10/9/2026). (Foto: Dok. Humas Polres Soppeng)

PALAPA MEDIA GROUP
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

TAJUK RENCANA PALAPA

Suara Resmi Redaksi

Ada saat ketika seragam tidak cukup berbicara tentang pengabdian. Ada tugas yang tidak selesai hanya dengan aturan, kewenangan, dan prosedur. Di balik semua itu, selalu ada satu perkara yang jauh lebih dalam: akhlak manusia yang menjalankan amanah.

Pesan itulah yang terasa dalam kegiatan tausiah dan doa bersama yang digelar Polres Soppeng di Lapangan Apel Mapolres Soppeng, Jalan Latenri Bali, Watansoppeng, Kamis, 10 September 2026. Kehadiran Ustaz Dr. H. Das’ad Latif memberi ruang bagi jajaran kepolisian, unsur Forkopimda, tokoh agama, masyarakat, dan para undangan untuk sejenak berhenti dari rutinitas, lalu menengok ke dalam diri.

Tema yang diangkat, “Merajut Keakraban dengan Meneladani Akhlak Rasulullah SAW Melalui Polri Presisi, Kita Wujudkan Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”, sesungguhnya membawa pesan yang melampaui seremoni.

Sebab, kepolisian tidak hanya berhadapan dengan perkara hukum. Polisi berhadapan dengan manusia. Dengan warga yang datang membawa keluhan, ketakutan, harapan, bahkan kadang kemarahan. Karena itu, profesionalisme yang sejati bukan semata-mata kecakapan menjalankan kewenangan, melainkan kemampuan menggunakan kewenangan dengan adil, manusiawi, dan bertanggung jawab.

Di titik inilah akhlak menemukan tempatnya.

Kapolres Soppeng AKBP Hari Budiyanto menegaskan bahwa profesionalitas anggota Polri harus berjalan seiring dengan karakter dan integritas pribadi. Sikap, ucapan, serta perilaku ketika berhadapan dengan masyarakat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari wajah institusi.

Pandangan tersebut patut ditempatkan sebagai pengingat bersama.

Masyarakat mungkin tidak selalu memahami seluruh prosedur kepolisian. Tetapi masyarakat dapat merasakan apakah dirinya dihormati atau diabaikan; dilayani dengan tulus atau sekadar diperlakukan sebagai urusan; didengar dengan sabar atau justru dihadapi dengan jarak dan kekuasaan.

Di situlah kualitas pelayanan publik diuji.

Tausiah Ustaz Das’ad Latif tentang keteladanan akhlak Rasulullah SAW menjadi relevan bukan hanya sebagai pesan keagamaan, melainkan juga sebagai refleksi etis bagi setiap insan yang memegang amanah publik. Kejujuran, kesabaran, tanggung jawab, dan penghormatan kepada sesama bukanlah nilai yang berhenti di ruang ibadah. Nilai-nilai itu semestinya hadir pula di ruang pelayanan masyarakat.

Redaksi Palapa memandang, kegiatan pembinaan rohani seperti ini akan menemukan maknanya apabila tidak berhenti sebagai agenda kalender kelembagaan.

Doa yang dipanjatkan bersama hendaknya berlanjut menjadi perilaku. Nasihat yang didengar hendaknya menjelma menjadi keteladanan. Dan pesan tentang akhlak hendaknya terlihat dalam cara seorang anggota Polri berbicara, bertindak, mengambil keputusan, serta memperlakukan setiap warga, siapa pun dia.

Sebab, kepercayaan publik tidak dibangun oleh kata-kata semata. Ia tumbuh perlahan dari pengalaman masyarakat ketika berhadapan dengan institusi negara.

Polri Presisi membutuhkan profesionalisme. Tetapi profesionalisme tanpa integritas dapat kehilangan arah. Kewenangan tanpa kebijaksanaan dapat melahirkan jarak. Dan penegakan hukum tanpa kemanusiaan berisiko membuat hukum terasa jauh dari rasa keadilan.

Karena itu, akhlak dan nurani bukan pelengkap dalam pengabdian kepolisian. Keduanya justru menjadi kompas agar kewenangan tetap berada di jalan yang benar.

Kegiatan Polres Soppeng bersama Ustaz Das’ad Latif, yang dilanjutkan dengan doa bersama dan pemberian cinderamata, semestinya dibaca sebagai ikhtiar membangun manusia di balik seragam. Manusia yang profesional ketika bekerja, santun ketika berbicara, tegas ketika harus bertindak, tetapi tetap mampu melihat sesamanya sebagai manusia yang memiliki martabat.

Pada akhirnya, masyarakat tidak hanya membutuhkan polisi yang kuat menghadapi kejahatan. Masyarakat juga membutuhkan polisi yang kuat menahan ego, kuat menjaga integritas, dan kuat berdiri di sisi kebenaran ketika tidak ada yang melihat.

Di sanalah pengabdian menemukan kemuliaannya.

Sebab seragam dapat dikenakan setiap pagi, tetapi kehormatan harus dijaga setiap saat. Dan ketika akhlak, hukum, profesionalisme, serta nurani berjalan dalam satu langkah, di sanalah wajah kepolisian menjadi lebih dekat dengan cita-cita pelayanan yang sesungguhnya: melindungi tanpa merendahkan, mengayomi tanpa membeda-bedakan, dan menegakkan hukum tanpa kehilangan kemanusiaan.

Redaksi Palapa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *