Seragam Bukan Kekuasaan: Kapolres Soppeng Larang Polisi Mempersulit Warga

POLRI116 Dilihat

Keterangan Gambar:

Kapolres Soppeng AKBP Hari Budiyanto, S.H., S.I.K., M.H., memberikan arahan kepada personel saat memimpin apel pagi di halaman Mapolres Soppeng, Senin, 10 Agustus 2026. Dalam arahannya, ia menegaskan pentingnya pelayanan yang humanis, kedisiplinan, serta tanggung jawab menjaga keamanan kegiatan masyarakat. (Foto: Dokumentasi Humas Polres Soppeng)

PALAPA MEDIA GROUP
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

FEATURE PALAPA

Kisah Kemanusiaan di Balik Fakta

Oleh: Idris

Seragam yang Mengandung Amanah

SUARA PALAPA, SOPPENG — Ada kekuasaan yang tampak dari sebuah seragam. Ada pula amanah yang jauh lebih besar, tetapi tak selalu terlihat oleh mata.

Di balik warna abu-abu yang dikenakan seorang polisi, sesungguhnya ada harapan masyarakat: dilindungi ketika takut, dibantu ketika kesulitan, dan dilayani ketika berhadapan dengan negara.

Karena itu, ketika apel pagi dimulai di halaman Mapolres Soppeng, Senin, 10 Agustus 2026, pesan Kapolres Soppeng AKBP Hari Budiyanto, S.H., S.I.K., M.H., tidak semata-mata berbicara tentang tugas kedinasan.

Ia berbicara tentang cara memperlakukan manusia.

Di hadapan seluruh personel, Kapolres menegaskan bahwa tugas kepolisian bukan sekadar menjalankan kewenangan, tetapi memberikan pelayanan, perlindungan dan pengayoman kepada masyarakat.

Pesannya sederhana, tetapi justru karena kesederhanaannya itulah ia menjadi penting.

Jangan mempersulit masyarakat.

“Yang paling penting adalah berbuat baik kepada siapa pun dan jangan mempersulit masyarakat. Kita harus benar-benar memahami posisi kita sebagai pelayan masyarakat,” ujar AKBP Hari Budiyanto.

Kalimat itu seperti mengingatkan kembali hakikat sebuah seragam.

Bahwa kewenangan tidak diberikan untuk menciptakan jarak dengan rakyat. Sebaliknya, kewenangan melekat bersama tanggung jawab untuk hadir ketika masyarakat membutuhkan.

Polisi berada di tengah masyarakat bukan untuk membuat warga merasa kecil, melainkan memastikan setiap orang memperoleh rasa aman dan pelayanan yang semestinya.

Polisi yang Hadir, Bukan Sekadar Berdiri

Kapolres juga mendorong seluruh personel membangun budaya kerja yang sehat. Saling mendukung, saling mengingatkan, dan bersama-sama menjaga agar pelayanan kepolisian terus bergerak ke arah yang lebih baik.

Sebab institusi tidak hanya dibangun oleh aturan dan struktur.

Ia dibangun oleh perilaku manusia-manusia yang menjalankannya.

Seorang anggota yang menyambut masyarakat dengan baik mungkin hanya membutuhkan beberapa detik. Namun bagi warga yang datang dengan persoalan, sikap itu bisa menjadi pengalaman yang diingat jauh lebih lama.

Begitu pula sebaliknya.

Sebuah pelayanan yang dipersulit dapat meninggalkan luka, bahkan ketika persoalan yang dibawa sebenarnya sederhana.

Di situlah nilai kemanusiaan dalam tugas kepolisian menemukan tempatnya.

Memasuki bulan kemerdekaan, perhatian jajaran Polres Soppeng juga diarahkan pada berbagai kegiatan masyarakat yang digelar untuk memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Para Kabag, Kasat, Kapolsek hingga Bhabinkamtibmas diminta aktif memantau kegiatan di wilayah masing-masing sekaligus membangun komunikasi dengan masyarakat.

Bukan sekadar mengawasi, tetapi mengantisipasi.

Bukan hanya hadir ketika persoalan muncul, tetapi membangun komunikasi sebelum persoalan terjadi.

“Kita perlu berkoordinasi dengan masyarakat agar setiap kegiatan dapat kita monitor dan antisipasi bersama. Apabila ada kegiatan masyarakat, arahkan untuk berkoordinasi dan mengurus perizinan sesuai ketentuan,” jelasnya.

Pesan tersebut menempatkan keamanan sebagai tanggung jawab bersama. Masyarakat memiliki ruang untuk berkegiatan, sementara kepolisian memiliki tanggung jawab memastikan kegiatan itu berlangsung aman dan sesuai ketentuan.

Membenahi dari Hal-Hal Sederhana

Namun amanah pelayanan, menurut Kapolres, tidak berhenti di hadapan masyarakat.

Ia juga dimulai dari lingkungan kerja sendiri.

Kedisiplinan dan kebersihan Mapolres Soppeng turut menjadi perhatian. Setiap bagian diminta memiliki tanggung jawab terhadap kebersihan lingkungan kerja serta menjaga fasilitas yang telah tersedia.

Sebab institusi yang ingin memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat harus terlebih dahulu belajar menata rumahnya sendiri.

Pembenahan sarana dan prasarana yang masih membutuhkan perhatian pun akan dilakukan secara bertahap.

“Pelan-pelan, mari kita benahi apa yang masih kurang dan kita tingkatkan apa yang sudah baik,” katanya.

Tidak ada perubahan besar yang selalu lahir dalam satu malam.

Kadang ia tumbuh dari halaman yang bersih, dari disiplin yang dijaga, dari meja pelayanan yang tertata, dari seorang petugas yang mau mendengar keluhan warga tanpa menunjukkan wajah keberatan.

Hal-hal kecil itulah yang perlahan membentuk wajah sebuah institusi.

Ketika Tugas Menjadi Ibadah

Pada akhirnya, pesan Kapolres Soppeng kembali kepada satu hal yang paling mendasar: keikhlasan dalam menjalankan tugas.

AKBP Hari Budiyanto berharap seluruh personel bekerja secara profesional, bertanggung jawab dan penuh keikhlasan agar keberadaan Polres Soppeng benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

“Jangan hanya bekerja karena kewajiban, tetapi mari kita ciptakan suasana kerja yang positif, saling mendukung dan bersama-sama membangun Polres Soppeng menjadi lebih baik,” pungkasnya.

Di tengah rutinitas apel dan barisan seragam, pesan itu menyimpan makna yang lebih dalam.

Bahwa pekerjaan yang dilakukan hanya karena kewajiban mungkin selesai ketika jam kerja berakhir.

Tetapi pekerjaan yang dilakukan dengan hati akan meninggalkan manfaat bahkan setelah seorang petugas meninggalkan tempatnya.

Pada akhirnya, seragam hanyalah kain.

Pangkat hanyalah tanda.

Jabatan hanyalah titipan.

Yang kelak memiliki nilai di hadapan manusia, dan terlebih di hadapan Allah SWT, adalah bagaimana amanah itu dijalankan.

Sebab menjadi pelayan masyarakat bukan tentang seberapa besar kewenangan yang dimiliki, melainkan seberapa banyak kebaikan yang dapat diberikan.

Dan mungkin, di sanalah wajah kepolisian yang sesungguhnya bermula: ketika seorang warga datang tanpa rasa takut, pulang dengan membawa rasa lega, dan percaya bahwa negara masih hadir untuk menjaganya.

PMG/Idris

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *