Keterangan Gambar:
Warga bersama petugas kesehatan menandu seorang warga lanjut usia dari wilayah Wawogalungnge menuju titik yang dapat dijangkau kendaraan untuk mendapatkan penanganan medis. (Foto: Dokumentasi Humas Polres Soppeng)
PALAPA MEDIA GROUP
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani
ESSAY PALAPA
Refleksi Nurani di Atas Fakta
Reporter: Chemank Farel
SUARA PALAPA, SOPPENG — Ada kalanya sebuah perjalanan menuju tempat pelayanan kesehatan tidak cukup ditempuh dengan kendaraan. Ketika jalan terputus dan medan tak lagi bersahabat, yang tersisa adalah kekuatan tangan manusia, kepedulian keluarga, dan kesediaan warga untuk saling menopang.
Pagi Minggu, 16 Agustus 2026, di Wawogalungnge, Desa Bule, Kecamatan Marioriawa, Kabupaten Soppeng, sebuah ikhtiar kemanusiaan berlangsung dalam kesederhanaan.
Seorang warga berinisial K, laki-laki berusia 74 tahun, membutuhkan pertolongan setelah mengalami keluhan sesak napas, demam, tidak berselera makan, serta nyeri ulu hati selama kurang lebih tiga hari.
Dalam kondisi demikian, waktu menjadi sesuatu yang berharga. Namun, persoalannya bukan semata bagaimana pasien mendapatkan pertolongan, melainkan bagaimana ia dapat mencapai fasilitas kesehatan ketika akses kendaraan tidak mudah dilalui.
Medan jalan di wilayah tersebut sebagian sulit dijangkau kendaraan Puskesmas Keliling. Terlebih, terdapat jembatan yang terputus sehingga perjalanan tidak dapat dilanjutkan dengan kendaraan hingga ke lokasi pasien.
Di tengah keterbatasan itu, warga, pihak keluarga, serta tenaga kesehatan yang bertugas di Wawogalungnge mengambil peran.
Pasien kemudian dievakuasi secara manual menggunakan tandu sederhana dari sarung. Beberapa tangan bergantian menopang tubuh seorang warga lanjut usia yang sedang membutuhkan pertolongan. Langkah demi langkah ditempuh melalui medan yang tidak mudah, menuju satu titik di Tana Cellae, yang masih berada di wilayah Wawogalungnge.
Dari titik itulah perjalanan dapat dilanjutkan menggunakan kendaraan menuju UPTD Puskesmas Batu-Batu untuk memperoleh pemeriksaan, penanganan, dan perawatan medis lebih lanjut.
Peristiwa sederhana ini mungkin tidak terdengar seperti sebuah peristiwa besar.
Tidak ada sirene yang meraung. Tidak ada fasilitas evakuasi yang serba lengkap. Tidak pula ada jalan mulus yang mengantar seorang pasien langsung ke pintu puskesmas.
Yang ada hanyalah manusia yang bergerak karena manusia lain membutuhkan pertolongan.
Di situlah nilai kemanusiaan menemukan bentuknya yang paling jujur.
Sebab pelayanan kesehatan bukan hanya tentang gedung, tenaga medis, obat-obatan, dan kendaraan. Ia juga tentang akses. Tentang jalan yang harus tetap terbuka. Tentang jembatan yang semestinya menjadi penghubung. Dan tentang tanggung jawab bersama agar warga, terutama mereka yang sedang sakit dan lanjut usia, tidak kehilangan kesempatan untuk memperoleh pertolongan hanya karena keterbatasan geografis.
Apa yang dilakukan warga dan tenaga kesehatan di Wawogalungnge menjadi pengingat bahwa kepedulian sering kali lahir dari hal-hal yang sederhana.
Sarung yang dijadikan tandu mungkin bukan peralatan medis. Namun di tangan orang-orang yang peduli, ia berubah menjadi alat untuk menyelamatkan perjalanan seorang manusia menuju pertolongan.
Ada doa yang tidak terdengar di antara langkah-langkah itu. Ada kecemasan keluarga yang disimpan dalam diam. Ada harapan agar seorang ayah, saudara, tetangga, dan bagian dari sebuah keluarga dapat tiba dengan selamat untuk mendapatkan perawatan.
Dan mungkin, di situlah kita memahami kembali makna kemerdekaan dalam wajah yang paling dekat dengan kehidupan.
Kemerdekaan bukan hanya tentang bendera yang berkibar dan upacara yang khidmat. Kemerdekaan juga berarti ketika setiap warga memiliki hak untuk mendapatkan pertolongan, termasuk mereka yang tinggal jauh di pelosok dengan akses yang masih penuh tantangan.
Karena jalan boleh terputus, tetapi kepedulian tidak boleh ikut terputus.
Jembatan dapat runtuh, tetapi jembatan kemanusiaan harus tetap dibangun—oleh tangan-tangan yang bersedia menolong, oleh pemerintah yang terus memperbaiki akses, dan oleh masyarakat yang tidak membiarkan sesamanya berjalan sendirian menghadapi kesulitan.
Dari Wawogalungnge, kita belajar satu hal yang sederhana tetapi dalam: ketika fasilitas belum sempurna, nurani tidak boleh kehilangan kesempurnaannya.
Sebab pada akhirnya, ukuran kemajuan sebuah daerah bukan hanya seberapa baik jalan dibangun, tetapi seberapa cepat tangan-tangan kemanusiaan hadir ketika seorang warganya sedang berada dalam kesulitan.
Dan pagi itu, di antara jalan yang sulit dan jembatan yang terputus, kemanusiaan menemukan jalannya sendiri.
Rilis diterima dari Aiptu Ibrahim, Bhabinkamtibmas Polsek Marioriawa.
PALAPA MEDIA GROUP (PMG) / Chemank Farel












