Ketika Air Menipis, Keadilan Harus Mengalir ke Sawah

SDA8 Dilihat

Keterangan Gambar:

Petugas Unit Pengelola Irigasi (UPI) Saddang Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan Jeneberang bersama pihak terkait melakukan peninjauan dan koordinasi pengaturan aliran air di Saluran Induk Rappang, Kabupaten Sidrap, untuk menjaga ketersediaan air bagi tanaman padi di Sidrap dan Wajo. (Foto: Dokumentasi BBWS Pompengan Jeneberang)

PALAPA MEDIA GROUP
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

EDITORIAL PALAPA

Suara Nurani Redaksi

SUARA PALAPA, SIDRAP – Air tidak pernah memilih sawah mana yang lebih layak untuk dibasahi. Ia mengalir mengikuti hukum alam. Tetapi ketika air menjadi sedikit, manusia dituntut menghadirkan sesuatu yang lebih tinggi daripada sekadar aliran: keadilan.

Di Saluran Induk Rappang, Kabupaten Sidrap, persoalan itu kini menemukan wajahnya. UPI Saddang BBWS Pompengan Jeneberang bersama anggota DPRD Kabupaten Wajo dan Pengamat D.I. Saddang Wilayah Kabupaten Sidrap turun langsung melihat kondisi pengaliran air, Selasa (11/8/2026).

Kunjungan itu bukan sekadar melihat pintu air, saluran, atau debit yang menyusut. Di baliknya ada hamparan sawah yang menunggu air, ada petani yang menggantungkan penghidupan pada musim, dan ada harapan agar bulir-bulir padi tidak berhenti tumbuh sebelum waktunya.

Fakta di lapangan menunjukkan debit air relatif kecil. Kondisi tersebut disebut dipengaruhi kekeringan panjang dan fenomena El Niño. Dalam keadaan seperti itu, tidak ada pihak yang dapat menciptakan air dari ketiadaan.

Namun, masih ada yang dapat dilakukan manusia: mengatur yang sedikit agar manfaatnya dirasakan seluas mungkin.

Karena itulah kesepakatan pengaturan air secara bergilir antara wilayah Kabupaten Sidrap dan Kabupaten Wajo patut ditempatkan sebagai ikhtiar bersama. Air yang terbatas harus dibagi dengan pertimbangan kondisi dan kebutuhan masing-masing wilayah.

Inilah titik penting yang semestinya menjadi perhatian publik.

Pengelolaan air tidak boleh berhenti pada persoalan teknis. Ia menyentuh keadilan sosial. Ketika debit menyusut, setiap tetes air memiliki nilai yang lebih besar. Setiap keputusan membuka atau menutup aliran membawa konsekuensi terhadap kehidupan petani.

Maka koordinasi antardaerah bukan sekadar prosedur birokrasi. Ia adalah bentuk tanggung jawab.

Sidrap dan Wajo memiliki kepentingan yang sama: menjaga sawah tetap hidup. Karena itu, air semestinya tidak dipandang sebagai milik satu wilayah ketika sumber dan sistem pengelolaannya saling berhubungan. Yang diperlukan adalah kebijakan yang jernih, komunikasi yang terbuka, pemantauan yang konsisten, serta keberanian mengambil keputusan berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan.

Redaksi Palapa memandang, sistem pengaturan air secara bergilir merupakan langkah yang rasional di tengah keterbatasan debit. Tetapi ikhtiar itu tidak boleh berhenti pada kesepakatan hari ini.

Debit air harus terus dipantau. Kondisi tanaman harus diperhatikan. Distribusi harus dievaluasi. Dan jika keadaan berubah, kebijakan pun harus mampu menyesuaikan.

Sebab yang dipertaruhkan bukan sekadar angka debit pada alat ukur.

Ada petani yang telah mengeluarkan modal. Ada keluarga yang menunggu hasil panen. Ada lumbung pangan yang harus tetap terisi. Dan ada masa depan desa yang ikut bergantung pada apakah air sampai ke sawah pada waktunya.

Di sinilah pembangunan infrastruktur pengairan menemukan makna kemanusiaannya. Bendungan, saluran, pintu air dan jaringan irigasi pada akhirnya bukan hanya benda-benda teknis. Semuanya dibangun untuk satu tujuan yang sederhana tetapi mulia: agar kehidupan manusia dapat terus berlangsung.

Allah SWT mengingatkan manusia bahwa air adalah bagian dari kehidupan. Karena itu, mengelolanya dengan adil bukan hanya urusan administrasi, melainkan juga amanah.

Air yang sedikit mengajarkan manusia tentang berbagi.

Air yang mengalir mengajarkan manusia tentang keterhubungan.

Dan air yang dikelola dengan adil mengajarkan bahwa pembangunan sejatinya harus kembali kepada manusia.

Redaksi Palapa berharap koordinasi UPI Saddang BBWS Pompengan Jeneberang bersama pemerintah daerah, wakil rakyat, pengamat irigasi, serta para pemangku kepentingan tidak berhenti sebagai agenda lapangan.

Ia harus menjadi komitmen yang terus dijaga sampai musim panen tiba.

Sebab di tengah kemarau, ukuran keberhasilan bukanlah seberapa banyak air yang tersedia, melainkan seberapa adil air yang sedikit itu dikelola untuk menyelamatkan kehidupan.

Dan ketika air menipis, nurani manusia justru tidak boleh ikut mengering.

PALAPA MEDIA GROUP
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *