Di Gubuk Sunyi Arifah, Harapan Masih Menunggu Negara

Uncategorized135 Dilihat

KETERANGAN GAMBAR:

Arifah (70), warga Tonronge, Dusun Welonge, Desa Laringgi, Kecamatan Marioriawa, Soppeng, duduk di teras rumah sederhananya. Di rumah inilah ia menjalani hari-hari seorang diri dengan segala keterbatasan yang dimilikinya. (Foto: Dokumentasi Palapa Media Group)

PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

FEATURE PALAPA

Kisah Kemanusiaan di Balik Fakta

Oleh: Idris

SUARA PALAPA, SOPPENG — Di sebuah sudut kampung yang jauh dari riuh pusat kehidupan, sebuah rumah sederhana menyimpan kisah tentang ketabahan seorang perempuan lanjut usia.

Di rumah itulah Arifah, 70 tahun, menjalani hari-harinya seorang diri.

Tonronge, Dusun Welonge, Desa Laringgi, Kecamatan Marioriawa, Kabupaten Soppeng, menjadi tempat Arifah menambatkan hidup. Rumah yang ditempatinya sangat sederhana. Dinding anyaman bambu dan bagian-bagian bangunan yang mulai dimakan usia menjadi saksi bagaimana waktu berjalan tanpa banyak berubah bagi perempuan itu.

Di balik kesederhanaan rumah tersebut, Arifah tetap berusaha bertahan dengan apa yang dimilikinya.

Ia tidak meminta kehidupan yang berlebihan.

Harapannya sederhana: mendapat perhatian dan bantuan yang semestinya dapat dirasakan oleh warga yang berada dalam keterbatasan.

Dalam perbincangannya dengan Idris, Reporter Palapa Media Group, Arifah menyampaikan harapannya agar pemerintah memperhatikan kehidupannya. Ia berharap dapat kembali memperoleh bantuan sosial, termasuk bantuan beras bagi masyarakat kurang mampu serta bantuan perbaikan rumah melalui program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS).

Dengan suara lirih, Arifah menuturkan bahwa dirinya pernah menerima bantuan berupa beras dan uang tunai. Namun, menurut pengakuannya, bantuan tersebut sudah hampir satu tahun tidak lagi diterimanya.

Harapan itu kemudian ia titipkan kepada pemerintah, mulai dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten, provinsi hingga pemerintah pusat.

Bukan semata karena ingin dikasihani.

Ia hanya ingin kehidupannya dilihat.

Bertahan dengan Tenaga yang Tersisa

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Arifah masih berusaha mengandalkan tenaga sendiri.

Jika ada warga yang membutuhkan bantuan untuk memanen jagung atau hasil bumi lainnya di kebun, ia bekerja. Kebun-kebun milik warga yang berada tidak jauh dari tempat tinggalnya menjadi salah satu tempat ia mencari penghasilan.

Di usia yang telah memasuki tujuh dekade, tubuhnya masih diajak bekerja ketika kesempatan datang.

Ketika ada pekerjaan, ia bekerja.

Ketika tidak ada, ia kembali ke rumah kecilnya.

Menunggu hari berikutnya.

Begitulah kehidupan Arifah berjalan.

Hari demi hari.

Tidak banyak yang berubah. Tidak banyak pula yang ia minta.

Hanya kesempatan untuk bertahan hidup dengan sedikit lebih layak.

Ketika Negara Diharapkan Hadir

Kisah Arifah bukan sekadar tentang sebuah rumah sederhana di pelosok kampung.

Ia adalah potret tentang bagaimana kemiskinan dan keterbatasan masih menjadi kenyataan bagi sebagian warga negara yang hidup jauh dari pusat perhatian.

Pembangunan memang dapat dilihat dari jalan yang semakin baik, gedung yang semakin tinggi, fasilitas publik yang semakin berkembang, dan angka-angka pertumbuhan ekonomi yang terus dicatat.

Namun, ukuran keberhasilan pembangunan pada akhirnya tetap kembali kepada manusia.

Apakah mereka yang hidup dalam keterbatasan ikut merasakan manfaatnya?

Apakah warga lanjut usia yang tinggal seorang diri masih dapat merasakan perhatian?

Apakah rumah yang menjadi tempat berlindung mereka cukup layak untuk disebut sebagai tempat tinggal?

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana.

Tetapi bagi Arifah, jawabannya menyangkut kehidupan sehari-hari.

Tentang bagaimana ia bertahan ketika tidak ada pekerjaan.

Tentang bagaimana ia melewati hari-hari di rumah yang sangat sederhana.

Dan tentang harapan agar negara hadir bukan hanya dalam kebijakan, tetapi juga dalam kehidupan nyata masyarakat yang membutuhkan.

Sebuah Harapan yang Belum Padam

Arifah mungkin hanya satu nama di antara begitu banyak warga yang hidup dalam keterbatasan.

Tetapi satu kehidupan manusia tetaplah sebuah amanah.

Di balik rumah sederhananya, ada seorang perempuan tua yang masih menyimpan harapan. Ada doa yang mungkin tidak terdengar oleh banyak telinga. Ada keyakinan bahwa perhatian masih mungkin datang dari mereka yang diberi amanah untuk mengurus kehidupan rakyat.

Karena negara bukan hanya tentang gedung pemerintahan, dokumen kebijakan, ataupun program pembangunan.

Negara juga hadir ketika seorang warga yang lemah tidak dibiarkan berjalan sendirian.

Kisah Arifah karena itu semestinya tidak berhenti sebagai sebuah berita.

Ia adalah ketukan kecil pada pintu nurani.

Bagi pemerintah di setiap jenjang, kisah ini menjadi pengingat bahwa perhatian kepada masyarakat tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang-kadang, ia bermula dari mendatangi sebuah rumah sederhana, mendengar suara seorang warga, melihat keadaannya, kemudian memastikan apakah hak-haknya telah terpenuhi.

Sebab keadilan sosial bukan hanya kalimat yang indah dalam dasar kehidupan bernegara.

Ia harus terasa dalam kehidupan manusia.

Dan di balik kesunyian sebuah gubuk di Tonronge, masih ada seorang ibu yang menunggu negara hadir, dengan perhatian, keadilan, dan kemanusiaan.

PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed