Di Gerbang Pedang Pora, Pengabdian Berpindah Menjadi Amanah

POLRI97 Dilihat

Keterangan Gambar:

AKBP Aditya Pradana, S.I.K., M.I.K. menerima penghormatan terakhir dari jajaran Polres Soppeng dalam tradisi Pedang Pora sebelum mengemban amanah baru sebagai Kapolres Pangkep. Prosesi ini menjadi simbol penghargaan atas dedikasi, pengabdian, dan estafet kepemimpinan di Bumi Latemmamala. (Foto: Dokumentasi Humas Polres Soppeng)

FEATURE PALAPA
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

Oleh: Chemank Farel

Ada perpisahan yang tak pernah benar-benar bernama akhir. Ia hanya jeda, sebelum langkah kembali diteruskan di tempat yang berbeda. Di bawah lengit cerah Bumi Latemmamala, Senin, 3 Agustus 2026, Gerbang Pedang Pora kembali menjadi saksi bahwa setiap amanah memiliki waktunya sendiri untuk datang dan berpindah.

Langkah-langkah itu terasa lebih pelan dari biasanya. Bukan karena ragu, melainkan karena setiap jejak menyimpan kenangan yang tak mudah ditinggalkan. Di halaman Mapolres Soppeng, Jalan Latenri Bali, Kelurahan Lalabata Rilau, penghormatan terakhir diberikan kepada AKBP Aditya Pradana, S.I.K., M.I.K., yang mengakhiri masa tugasnya sebagai Kapolres Soppeng sebelum melanjutkan pengabdian sebagai Kapolres Pangkep.

Prosesi diawali dengan pengalungan bunga kepada AKBP Aditya Pradana dan Ny. Ageng Aditya. Rangkaian bunga itu bukan sekadar untaian warna, melainkan lambang penghormatan atas dedikasi yang telah ditorehkan selama memimpin institusi kepolisian di Kabupaten Soppeng.

Di hadapan jajaran personel, Komandan Pedang Pora menyampaikan laporan penghormatan. Sesaat kemudian, pejabat lama bersama pejabat baru serta Ny. Anie Hari Budiyanto melangkah memasuki Gerbang Pedang Pora, tradisi yang sarat makna dalam kehidupan kepolisian.

Barisan personel berdiri tegak membentuk lorong kehormatan. Pedang-pedang terangkat, menciptakan gerbang simbolis yang hanya dilewati mereka yang telah menuntaskan amanah dengan penuh tanggung jawab. Di sanalah, penghormatan institusi bertemu dengan rasa hormat yang lahir dari hati para anggota.

Tak sedikit mata yang berkaca-kaca ketika prosesi salam perpisahan dimulai. Satu demi satu personel menjabat tangan sang pemimpin. Tak banyak kata terucap, sebab terkadang genggaman tangan mampu menyampaikan rasa terima kasih yang lebih dalam daripada pidato yang panjang.

Kepemimpinan, pada akhirnya, bukan hanya diukur dari jabatan yang disandang, melainkan dari jejak yang ditinggalkan dalam hati mereka yang pernah berjalan bersama. Kebersamaan, disiplin, dan semangat melayani masyarakat menjadi kenangan yang terus hidup dalam ingatan keluarga besar Polres Soppeng.

Prosesi pelepasan turut disaksikan para Pejabat Utama Polres Soppeng, Kapolsek jajaran, Bhayangkari, serta seluruh personel. Seluruh rangkaian berlangsung dengan tertib, khidmat, dan penuh nuansa kekeluargaan, mencerminkan kokohnya tradisi penghormatan dalam tubuh Polri.

Dalam perjalanan hidup, setiap jabatan hanyalah titipan, sedangkan pengabdian adalah warisan. Jabatan boleh berpindah, tetapi nilai-nilai ketulusan, keikhlasan, dan integritas akan tetap tinggal sebagai cahaya yang menerangi perjalanan mereka yang melanjutkan estafet kepemimpinan.

Gerbang Pedang Pora pun akhirnya ditinggalkan. Namun, sesungguhnya yang melintas bukan hanya seorang perwira, melainkan sebuah kisah tentang amanah yang telah ditunaikan dan doa-doa yang mengiringi langkah menuju medan pengabdian berikutnya.

Sebab dalam setiap perpisahan yang dibingkai keikhlasan, selalu ada keyakinan bahwa Allah tidak pernah memindahkan seseorang dari satu amanah ke amanah lainnya tanpa menyiapkan ruang pengabdian yang lebih luas. Dan di sanalah, jejak seorang pemimpin akan terus hidup, bukan pada kursinya, melainkan di hati orang-orang yang pernah dipimpinnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *