Air Sawah, Amarah, dan Jalan Pulang

KAMTIBMAS98 Dilihat

Keterangan Gambar:

Personel Polsek Gilireng melakukan pemantauan dan pengamanan setelah perkelahian dua petani yang dipicu persoalan pengairan sawah. Polisi mengimbau kedua pihak menahan diri dan mencegah konflik susulan. (Foto: Dok. Humas Polres Wajo)

PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

FEATURE PALAPA
Kisah Kemanusiaan di Balik Fakta

SUARA PALAPA, WAJO — Senja baru saja turun di atas persawahan Gilireng ketika persoalan air berubah menjadi bara. Di tempat yang semestinya menjadi ruang bagi petani menanam harapan, dua lelaki justru terlibat perkelahian.

Selasa (18/8/2026), sekitar pukul 17.30 Wita, Muh. Arafah (55), warga Dusun Laropo, Desa Lamata, dan Ramli (57), warga Dusun Alelimpo, Desa Polewalie, Kecamatan Gilireng, bertemu di area persawahan.

Pertemuan itu bermula dari persoalan yang tampak sederhana: air.

Namun, ketika kata-kata meninggi dan emosi kehilangan kendali, persoalan pengairan sawah berujung pada perkelahian yang diduga menggunakan senjata tajam berupa parang.

Keduanya mengalami luka.

Muh. Arafah mengalami luka pada pergelangan tangan kiri dan punggung sebelah kiri. Sementara Ramli mengalami luka pada bagian kepala sebelah kiri, punggung sebelah kiri, serta jari manis tangan kiri.

Tidak ada yang benar-benar menang dalam peristiwa seperti itu. Yang tersisa hanyalah luka, pada tubuh, pada keluarga, dan mungkin pada hubungan sesama warga yang sebelumnya berjalan biasa.

Ketika Air Menjadi Persoalan

Berdasarkan keterangan yang dihimpun kepolisian, persoalan tersebut diduga berawal beberapa hari sebelumnya.

Muh. Arafah disebut merasa jengkel setelah kolam air miliknya dipompa oleh Ramli untuk mengairi sawah miliknya. Akibatnya, kolam tersebut menjadi kering.

Persoalan itu kemudian kembali bertemu ketika keduanya berada di area persawahan pada Selasa sore.

Cekcok mulut terjadi.

Emosi memuncak.

Dan dalam sekejap, persoalan pengairan sawah yang seharusnya dapat dibicarakan dengan kepala dingin berubah menjadi perkelahian.

Sekitar pukul 18.00 Wita, Darmawan, anak Muh. Arafah, datang ke sawah untuk menjemput ayahnya. Ia mendapati orangtuanya sudah dalam kondisi mengalami luka-luka.

Muh. Arafah kemudian dibawa ke Puskesmas Maniangpajo untuk mendapatkan perawatan medis. Sementara Ramli dibawa keluarganya ke Puskesmas Gilireng.

Di antara hamparan sawah dan air yang menjadi sumber kehidupan, keluarga akhirnya harus berhadapan dengan kenyataan bahwa amarah yang hanya berlangsung sesaat dapat meninggalkan akibat yang panjang.

Polisi Mencegah Bara Membesar

Setelah menerima informasi mengenai kejadian tersebut, Kapolsek Gilireng AKP Bachri, SH, bersama personel Polsek Gilireng mendatangi lokasi.

Kehadiran polisi bukan semata untuk mencatat sebuah peristiwa, tetapi juga memastikan luka tidak berubah menjadi dendam dan persoalan antarkedua pihak tidak berkembang menjadi konflik baru.

Personel Polsek Gilireng melakukan sejumlah langkah, antara lain mendatangi tempat kejadian perkara, melakukan penggalangan terhadap keluarga kedua belah pihak, serta membuat laporan terkait peristiwa tersebut.

Langkah itu penting, sebab dalam sebuah konflik, api tidak selalu padam ketika pertengkaran berhenti. Ia dapat tetap menyala dalam ingatan, dalam bisik-bisik keluarga, bahkan dalam rasa sakit yang belum sembuh.

Karena itu, polisi mengimbau kedua pihak beserta keluarga masing-masing agar menahan diri dan menyerahkan penanganan perkara kepada pihak kepolisian.

Masyarakat juga diingatkan untuk tidak melakukan tindakan yang dapat memperkeruh suasana ataupun memicu konflik susulan.

Dari Sawah, Sebuah Pelajaran

Air adalah kehidupan bagi petani.

Dari air, benih tumbuh. Dari sawah, keluarga menggantungkan harapan. Dari tanah yang basah, rezeki diupayakan dengan keringat dan doa.

Tetapi air pula yang sore itu menjadi awal dari sebuah pertengkaran.

Peristiwa di Gilireng mengingatkan bahwa tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan suara keras, apalagi dengan kekerasan. Ada musyawarah yang dapat ditempuh. Ada keluarga yang dapat menjadi penengah. Ada aparat yang dapat dimintai bantuan ketika persoalan mulai menemui jalan buntu.

Sebab, sebesar apa pun persoalan, manusia tetap lebih mulia ketika mampu menahan amarah.

Dalam kehidupan masyarakat, menjaga hubungan baik sesama warga sesungguhnya juga bagian dari menjaga kehidupan itu sendiri. Sebab sawah membutuhkan air, tetapi masyarakat membutuhkan kedamaian.

Dan pada akhirnya, setiap manusia akan kembali kepada-Nya membawa bukan hanya apa yang telah diperbuat, tetapi juga bagaimana ia memperlakukan sesamanya.

Semoga luka di tubuh kedua petani segera sembuh. Dan semoga luka yang lebih dalam, yang mungkin tidak terlihat oleh mata, tidak berubah menjadi dendam.

Sebab di atas tanah yang sama, di bawah langit yang sama, manusia semestinya belajar bahwa air boleh diperebutkan melalui musyawarah, tetapi persaudaraan jangan sampai dikorbankan oleh amarah.
(PMG/Sabri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *