Keterangan Gambar:
SAJADAH PELUH DI TEPI LAJOA: Seorang warga dengan penuh keikhlasan turun langsung ke dasar saluran air, disaksikan oleh personil TNI Koramil 1423-04/Liliriaja dan warga lainnya yang saling bahu-membahu dalam kegiatan Karya Bakti di Lajoa, Kelurahan JennaE, Kecamatan Liliriaja, Rabu (15/7/2026). Sinergi kemanunggalan TNI dan rakyat ini berhasil menuntaskan pembersihan parit sepanjang 150 meter guna mengantisipasi luapan banjir sekaligus merawat kelestarian lingkungan yang asri dan bermartabat. (Foto: Dok. Kodim 1423 Soppeng)
Oleh: Syukur Mariorante Katalawala
SOPPENG, SUARA PALAPA – Matahari pagi belum sepenuhnya tinggi di langit Lajoa ketika aroma tanah basah dan desau angin persawahan menyapa Kecamatan Liliriaja. Di bawah naungan langit biru yang membentang luas bagai sajadah penciptaan, sekelompok pria paruh baya, pemuda, dan para prajurit berseragam loreng berdiri bahu-membahu. Mereka tidak sedang bersiap menghadapi medan perang fisik, melainkan sebuah jihad kemanusiaan yang sunyi namun agung: menjaga bumi yang mereka pijak agar tetap bersahabat, bersih, dan memberi kehidupan.
Hari itu, Rabu (15/7/2026), kesunyian pagi Kelurahan JennaE pecah oleh gemercik air parit dan tawa hangat yang saling bersahutan. Sebanyak 15 warga setempat, dipandu oleh langkah tegap nan ramah Personil Koramil 1423-04/Liliriaja di bawah pimpinan langsung Serma Anwar, berbaur bersama Kepala Kelurahan JennaE, Muyassir, S.E. Mereka berkumpul bukan atas dasar paksaan birokrasi, melainkan sebuah panggilan nurani, sebuah pemahaman iman bahwa kebersihan adalah napas spiritualitas yang nyata di muka bumi.
Sasaran pagi itu adalah parit Lajoa sepanjang kurang lebih 150 meter. Saluran air yang selama ini menyangga aliran kehidupan pertanian dan pemukiman warga, perlahan mulai tersumbat oleh timbunan sampah dan rimbunnya belukar liar. Dengan sekop, cangkul, dan jemari yang tak takut kotor, para prajurit TNI dan warga membungkuk khusyuk.
Satu per satu rintangan yang menghambat jalannya air diangkat ke darat. Setiap helai rumput liar yang dibersihkan di sepanjang bahu jalan seolah menjadi simbol pembersihan diri dari kelalaian menjaga alam ciptaan Sang Khalik.
“Selain menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat, pembersihan ini juga untuk melancarkan aliran air. Harapannya bisa mengantisipasi terjadinya genangan maupun banjir, terutama saat musim hujan,” ujar Serma Anwar dengan nada penuh wibawa namun tetap bersahaja.
Bagi Serma Anwar, setiap peluh yang jatuh di tanah Lajoa adalah wujud kepedulian nyata TNI untuk menumbuhkan kembali kesadaran kolektif. Menjaga alam, pada hakikatnya, adalah cara manusia menjaga diri mereka sendiri dan mensyukuri anugerah keselamatan yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa.
Pembersihan ini memiliki makna ganda. Di satu sisi, ia adalah mitigasi bencana yang logis menjelang musim penghujan agar aliran air mengalir mulus tanpa menyisakan luapan yang merugikan. Di sisi lain, peluh yang bercucuran di dahi para tentara dan warga adalah perekat persaudaraan yang tak kasat mata. Sinergitas yang terbangun antara komando teritorial dan masyarakat setempat melahirkan kenyamanan sosial, sebuah ruang hidup yang aman, nyaman, dan bebas dari ego individu.
Ketika siang mulai menyengat, parit sepanjang 150 meter itu kini telah tampak lapang, mengalirkan air dengan riang menuju hilir. Warga dan tentara berteduh di bawah rindangnya pepohonan, meneguk segelas teh hangat yang disajikan penuh rasa kekeluargaan. Di Lajoa hari ini, gotong royong tidak sekadar menjadi jargon di atas kertas, melainkan sebuah ibadah sosial yang hidup. Sebuah pengingat lembut bahwa ketika manusia menjaga alam dengan cinta, maka alam pun akan mendekap manusia dengan kedamaian dan keselamatan.






