Keterangan Gambar:
Kompol Abd. Hamid, Kaur Binplin Bidpropam Polda Sulsel memberikan arahan tegas namun humanis kepada personel Polres Wajo di Aula Sandi, Rabu (29/7/2026). Disiplin adalah napas pengabdian. (Foto: Dokumentasi Humas Polres Wajo)
Oleh: Sabri
SUARA PALAPA, WAJO – Seragam itu adalah amanah. Ia tidak hanya melekat di tubuh, tetapi hidup di dalam dada. Dan pagi itu, di jantung Polres Wajo, amanah tersebut kembali ditimbang.
Rabu, 29 Juli 2026. Jarum jam baru menunjuk pukul 08.00 Wita ketika Aula Sandi Polres Wajo berubah menjadi ruang kontemplasi. Bukan sekadar apel, melainkan majelis peneguh disiplin. Bidang Profesi dan Pengamanan (Bidpropam) Polda Sulawesi Selatan hadir untuk melaksanakan Penegakan Ketertiban dan Disiplin (Gaktibplin).
Tim Bidpropam yang dipimpin Kaur Binplin, Kompol Abd. Hamid bersama delapan personel terbaiknya, datang tidak dengan kecurigaan, melainkan dengan kasih seorang penjaga. Bersama mereka, Tim Biddokkes Polda Sulsel di bawah pimpinan Kompol H. Backtiar, S.H., M.M. dengan empat personel medisnya, hadir menyempurnakan ikhtiar.
Kedatangan mereka disambut hangat oleh Kabag Ops Polres Wajo Kompol Nano, S.H., didampingi Kasi Propam Polres Wajo AKP H. Siswanto, S.H. Sebuah sambutan yang melambangkan kesiapan untuk dibenahi, karena hanya jiwa yang besar yang berani diaudit.
Pemeriksaan pun mengalun dengan khidmat. Satu per satu, marwah personel ditelisik: dari sikap tampang yang mencerminkan kebersihan hati, kelengkapan administrasi sebagai cermin ketertiban pikir, hingga pengecekan logistik dan gudang senjata api.
Tak ada yang luput. Senjata api dinas diperiksa bukan sekadar sebagai alat negara, tetapi sebagai titipan yang berat pertanggungjawabannya di dunia dan akhirat. Puncaknya adalah pengambilan sampel urine bagi seluruh personel. Sebuah ikhtiar sunyi namun tegas untuk memastikan tubuh penjaga rakyat steril dari noda narkoba.
Dalam arahannya, Ketua Tim Bidpropam menegaskan hakikat yang sering terlupa: Propam adalah garda terdepan sekaligus garda terakhir. Benteng keadilan di internal Polri. Karena itu, setiap pelanggaran harus ditindak secara profesional, objektif, dan berkeadilan, tanpa pandang bulu.
Ia berpesan, agar setiap pengaduan masyarakat tidak langsung dihakimi, melainkan diaudit dengan hati yang jernih sebelum proses hukum dijalankan. Objektivitas hingga memperoleh kepastian hukum adalah jalan kemuliaan.
Pesan paling keras menggema tentang narkoba. Tidak ada ruang, tidak ada toleransi, tidak ada kompromi bagi personel yang bermain-main dengan barang haram itu. Sebab sekali seorang polisi menyentuh narkoba, ia telah mengkhianati sumpah, seragam, dan Tuhannya.
Personel juga diingatkan untuk menjaga lisan dan jari di era digital. Bijaklah dalam bermedia sosial. Jauhi pamer kemewahan, baik anggota maupun Bhayangkari. Kesederhanaan adalah perisai marwah. Setiap tugas di lapangan wajib berpedoman pada Standar Operasional Prosedur (SOP), tertib administrasi melalui buku mutasi yang diisi lengkap, akurat, dan berdokumentasi. Disiplin kecil adalah cermin disiplin besar.
Menutup arahannya, tim mengajak seluruh personel Polres Wajo untuk terus berinovasi membangun citra positif Polri. Bukan dengan pencitraan, melainkan dengan menjunjung tinggi disiplin, hierarki, loyalitas, serta etika dan sopan santun, baik dalam kedinasan maupun saat berbaur di tengah masyarakat.
Pukul 10.00 Wita, kegiatan Gaktibplin usai. Aula Sandi kembali hening. Namun gaungnya tidak berhenti di sana. Ia tinggal sebagai pengingat yang lembut, bahwa disiplin bukanlah beban, melainkan jalan ibadah untuk memberikan pelayanan terbaik bagi umat manusia. Aman, tertib, dan lancar.












