Menjaga Lentera Jiwa di Gerbang Madrasah: Kala Seragam Cokelat Menuntun Generasi Robbani di Belawa

PENDIDIKAN29 Dilihat

KETERANGAN GAMBAR:

IKHTIAR MERAWAT GENERASI RABBANI: Kapolsek Belawa, AKP Awal Syahrani, S.Hi. (tengah), berdiri berdampingan bersama para pengurus organisasi siswa intra madrasah dan peserta didik baru MAN Wajo usai memberikan pembekalan edukasi Kamtibmas bernuansa humanis dan religius pada kegiatan Masa Ta’aruf Murid Madrasah (MATAMUDA) di aula MAN Wajo, Kecamatan Belawa, Kabupaten Wajo, Selasa (14/7/2026). Sinergi ini menjadi simbol komitmen bersama dalam membentengi moral remaja dari kenakalan remaja, bahaya narkoba, perundungan, dan pengaruh negatif media sosial demi terwujudnya generasi yang berakhlak mulia dan taat hukum. (Foto: Dokumentasi Humas Polres Wajo/Sabri)

Oleh: Sabri
Editor: Alimuddin

WAJO, SUARA PALAPA — Pagi itu, matahari di ufuk Belawa terbit membawa kehangatan yang tak biasa. Di dalam aula Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Wajo, riuh rendah tawa khas remaja perlahan luruh menjadi keheningan yang syahdu. Ratusan pasang mata yang jernih, jiwa-jiwa muda yang baru saja melangkahkan kaki di gerbang putih abu-abu, menatap ke depan dengan takzim. Di sana berdiri seorang pria berseragam cokelat presisi, bukan dengan wajah sangar penuh wibawa hukum yang kaku, melainkan dengan senyum teduh seorang ayah yang bersiap melepas anaknya mengarungi samudra kehidupan.

Selasa, 14 Juli 2026, jarum jam baru saja bergeser menunjukkan pukul 09.00 WITA. Hari itu adalah penanda sejarah baru bagi para santri baru MAN Wajo. Dalam balutan Masa Ta’aruf Murid Madrasah (MATAMUDA), mereka tidak hanya diperkenalkan pada bilik-bilik kelas atau tumpukan buku, melainkan pada sebuah ikhtiar besar menjaga fitrah kemanusiaan mereka di tengah badai zaman.

Hadir di tengah-tengah mereka, Kapolsek Belawa, AKP Awal Syahrani, S.Hi. Sosok penegak hukum yang juga menyandang gelar Sarjana Hukum Islam ini, memandang audiensnya dengan tatapan mendalam. Baginya, tugas polisi hari ini bukan sekadar mengejar pelanggar hukum di jalanan, melainkan mencegah agar lentera di dada anak-anak ini tidak padam oleh kegelapan dunia luar.

Dengan intonasi yang mengalun tenang namun bertenaga, AKP Awal Syahrani mulai menenun untaian nasihat kamtibmas. Ia tidak sedang mendikte pasal-pasal hukum yang dingin, melainkan mengetuk pintu hati nurani para siswa. Ia mengingatkan betapa rapuhnya masa muda jika tidak dibentengi oleh iman dan kepatuhan. Bahaya tawuran, jerat hitam narkotika, hingga perihnya luka akibat perundungan (bullying) ia kupas sebagai duri-duri yang siap mengoyak masa depan.

Anak-anakku sekalian, jemari kalian yang memegang gawai hari ini adalah penentu takdir kalian esok hari. Dunia digital adalah belantara tanpa batas. Gunakanlah ia sebagai wasilah (perantara) untuk menyebarkan kebaikan dan ilmu, bukan sebagai pemantik permusuhan atau caci maki yang akan merugikan dirimu di dunia dan akhirat,” ujar AKP Awal Syahrani dengan nada bapak yang menyentuh nurani.

Setiap kalimat yang terucap mengalir laksana air sejuk di tengah dahaga spiritual remaja. Kapolsek juga mengimbau agar mereka memprioritaskan ibadah dan belajar, menjaga kedisiplinan hidup, serta segera bergegas kembali ke rumah memeluk orang tua selepas sekolah usai, sebuah pesan sederhana namun sarat akan nilai-nilai baktinya seorang anak kepada orang tua.

Kehadiran Kapolsek Belawa dalam forum mulia ini didampingi langsung oleh Kepala MAN Wajo, Nur Asia Jamal B., S.Ag., bersama Kepala Puskesmas Belawa serta jajaran pendidik yang menyaksikan sinergi indah ini dengan penuh haru.

Nur Asia Jamal mengungkapkan bahwa MATAMUDA dirancang bukan sekadar seremoni adaptasi fisik sekolah.

“Tujuan utama kami adalah menanamkan karakter mandiri, disiplin, dan bertanggung jawab sejak dini, yang semuanya bersandar pada nilai-nilai keislaman yang kokoh,” tutur Kepala MAN Wajo dengan nada penuh harap.

Melalui sinergi lintas sektoral ini, madrasah bercita-cita mencetak generasi berprestasi yang berakhlak mulia, yang peduli pada kedamaian lingkungan sekitarnya.

Kala adzan dhuhur mulai berkumandang di kejauhan, acara pun purna. Namun, hangatnya ruang aula masih menyisakan getaran tekad yang kuat.

Pertemuan hari itu telah melampaui batas formalitas birokrasi; ia telah menjelma menjadi jembatan kasih sayang antara penegak hukum, pendidik, dan generasi masa depan. Di tanah Belawa, sebuah benih perdamaian dan akhlak mulia telah ditanam bersama, siap bertumbuh menjadi pohon rimbun yang meneduhkan semesta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *