Ketika Pengabdian Tidak Pernah Mencari Tepuk Tangan

EDITORIAL16 Dilihat

EDITORIAL SUARA PALAPA

Ada orang-orang yang hidup di balik halaman-halaman sejarah. Namanya jarang menjadi tajuk utama, wajahnya nyaris tak pernah menghiasi ruang publik, tetapi tanpa kehadirannya, sejarah itu mungkin tidak akan pernah tertulis dengan rapi. Mereka adalah para pengabdi yang memilih bekerja dalam sunyi, membangun tanpa menuntut pujian, dan melayani tanpa berharap dikenang.

Kepergian H. Murtadji S.Arwy pada Minggu malam, 12 Juli 2026, menghadirkan duka yang melampaui kehilangan seorang mantan Kepala Sekretariat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Selatan. Kepergiannya mengingatkan kita bahwa setiap organisasi besar sesungguhnya berdiri di atas pundak orang-orang sederhana yang mengabdikan hidupnya dengan ketulusan.

Di tengah arus zaman yang sering mengukur keberhasilan dari popularitas, jabatan, atau sorotan kamera, sosok H. Murtadji justru menghadirkan pelajaran berbeda. Ia membuktikan bahwa kemuliaan tidak selalu lahir dari mereka yang berdiri di mimbar, melainkan juga dari mereka yang tekun merawat fondasi agar rumah besar bernama organisasi tetap kokoh.

Puluhan tahun ia mengelola denyut administrasi PWI Sulawesi Selatan. Surat-menyurat ditata dengan cermat, Kartu Tanda Anggota diproses dengan penuh tanggung jawab, iuran organisasi dikelola dengan amanah, dan setiap anggota dilayani dengan keramahan yang lahir dari hati, bukan sekadar kewajiban. Semua dilakukan tanpa gemuruh pujian, tanpa keinginan untuk tampil sebagai tokoh utama.

Di era ketika pelayanan publik sering dikeluhkan karena berbelit dan kehilangan sentuhan kemanusiaan, cara kerja H. Murtadji menjadi pengingat bahwa profesionalisme selalu menemukan pasangan terbaiknya dalam ketulusan. Administrasi bukan sekadar urusan dokumen, melainkan bentuk penghormatan terhadap manusia yang dilayani.

Kehadiran Ketua PWI Sulawesi Selatan Suwardi Thahir bersama Ketua Dewan Kehormatan Provinsi PWI Sulsel M. Dahlan Abubakar dan jajaran pengurus di rumah duka bukanlah sekadar tradisi takziah. Itu adalah simbol bahwa organisasi yang sehat tidak melupakan orang-orang yang telah menanamkan akar pengabdiannya. Sebab organisasi yang kehilangan ingatan terhadap para pengabdinya, perlahan akan kehilangan jiwanya.

Dunia pers sendiri tengah menghadapi tantangan yang tidak ringan. Disrupsi digital, perubahan pola konsumsi informasi, hingga tekanan terhadap profesionalisme wartawan menuntut organisasi pers untuk semakin kuat. Namun kekuatan itu tidak cukup dibangun oleh regulasi atau teknologi semata. Ia harus bertumpu pada budaya organisasi yang menghargai integritas, loyalitas, dan dedikasi, nilai-nilai yang diwariskan oleh sosok seperti H. Murtadji S.Arwy.

Dalam perspektif keimanan, setiap amal yang dikerjakan dengan ikhlas tidak pernah sia-sia. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Kahfi: 30). Ayat ini mengajarkan bahwa nilai sebuah pengabdian tidak ditentukan oleh seberapa banyak manusia mengenangnya, melainkan oleh seberapa tulus ia dipersembahkan kepada Sang Pencipta.

Karena itu, kepergian H. Murtadji seharusnya tidak hanya menjadi berita duka, tetapi juga momentum untuk melakukan muhasabah. Sudahkah setiap insan pers menjalankan profesinya dengan kejujuran? Sudahkah organisasi menghargai mereka yang bekerja dalam diam? Dan sudahkah pengabdian menjadi jalan ibadah, bukan sekadar jalan menuju penghargaan?

Pada akhirnya, manusia memang akan meninggalkan dunia. Jabatan akan berganti, ruang kerja akan dihuni orang lain, dan nama perlahan akan memudar dari percakapan. Namun ketulusan akan selalu menemukan jalannya menuju keabadian. Ia hidup dalam doa-doa yang dipanjatkan, dalam nilai-nilai yang diwariskan, dan dalam jejak kebaikan yang terus menginspirasi generasi berikutnya.

Selamat jalan, H. Murtadji S.Arwy. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadahmu, melapangkan alam kuburmu, dan menempatkanmu di sisi orang-orang yang saleh. Sebab pengabdian yang dilakukan dengan hati yang ikhlas sesungguhnya tidak pernah berakhir; ia terus hidup dalam ingatan, dalam teladan, dan di hadapan Allah sebagai amal yang tak pernah putus. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *