Estafet Kedamaian di Tanah Wajo: Menjemput Amanah, Melepas Pengabdian Suci

POLRI54 Dilihat

Keterangan Gambar:

LANGKAH AWAL SEBUAH IBADAH: Berselimutkan doa dan tradisi luhur, AKBP Diouglas Mahendrajaya dan Ny. Elisa Diouglas membawa buket bunga serta kalung sutera khas Bugis setibanya di Mapolres Wajo. Prosesi ini menjadi simbol diterimanya amanah baru sebagai pelindung dan pengayom masyarakat Kabupaten Wajo, Jumat (31/7/2026). (Foto: Dokumentasi Humas Polres Wajo)

FEATURE SUARA PALAPA

Oleh: Sabri

​SUARA PALAPA, WAJO — Matahari Jumat beringsut teduh di langit Kabupaten Wajo, memendarkan cahaya yang seolah ikut mengiringi bait-bait perpisahan dan kehangatan sebuah sambutan. Di bawah ketetapan takdir Yang Maha Kuasa, sebuah lembaran baru sejarah Kepolisian Resor Wajo resmi terbentang, membawa rotasi kepemimpinan yang tidak sekadar bermakna formalitas, melainkan sebuah perjalanan spiritual dan pengabdian luhur.

​Jumat (31/7/2026), menjadi saksi bisu terjadinya riak humanis yang menggetarkan sanubari di Mapolres Wajo. Hari itu, estafet suci kepemimpinan diserahterimakan dari AKBP Muhammad Rosid Ridho, S.I.K. kepada penerusnya, AKBP Diouglas Mahendrajaya, S.H., S.I.K., M.I.K., M.Tr.Opsla. Sebuah titian amanah untuk melanjutkan pengabdian demi ketenteraman bumi berjuluk Kota Sutera.

Pagi yang bening, jarum jam menunjuk angka 09.10 Wita ketika derap langkah kaki AKBP Diouglas Mahendrajaya memasuki gerbang penugasan yang baru. Langkahnya mantap, cerminan jiwa satria yang siap memikul tanggung jawab sebagai pelindung rakyat. Di ambang pintu, AKBP Muhammad Rosid Ridho menyambutnya dengan senyuman tulus—sebuah simbol keikhlasan seorang pemimpin yang telah menuntaskan masa baktinya dengan husnul khatimah.
Prosesi penyambutan pun mengalir laksana simfoni kebudayaan. Laporan resmi Wakapolres menyela keheningan, disusul kehangatan pengalungan bunga, hingga gerak gemulai Tari Padduppa yang menyuguhkan filosofi pemuliaan tamu dalam khazanah Bugis. Keteguhan korps Bhayangkara tegak berdiri, menggambarkan harmoni penghormatan atas dedikasi yang telah berlalu.

Menjelang siang, suasana beralih ke Aula Sandi Polres Wajo dalam tajuk Temu Pamit yang sarat emosi. Di ruangan inilah untaian kalimat perpisahan bergema. Kesan dan pesan yang dituturkan oleh pejabat lama menjadi cermin refleksi, sementara untaian harapan dari Kapolres baru terucap bagai doa yang membubung ke langit. Suasana kian syahdu kala vokal grup Bhayangkari melantunkan nada-nada penuh rasa, diiringi tradisi pedang pora yang megah namun penuh kekeluargaan.

Kasi Humas Polres Wajo, IPTU Kaomi, S.H., merefleksikan momentum ini dengan penuh kebijaksanaan. “Kegiatan kenal pamit ini merupakan bagian dari tradisi organisasi sebagai bentuk penghormatan tertinggi kepada pejabat lama sekaligus penyambutan penuh takzim kepada pejabat baru. Kami berharap estafet kepemimpinan ini dapat terus memperkuat soliditas internal Polres Wajo serta meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa seluruh personel siap bersinergi secara total dan mendukung penuh setiap derap langkah kepemimpinan yang baru.

Waktu jua yang membatasi perjumpaan fisik. Tepat pukul 16.05 Wita, saat semburat senja mulai merona, AKBP Muhammad Rosid Ridho beserta istri melangkah keluar dari Mapolres Wajo. Prosesi pelepasan berjalan aman dan khidmat, meninggalkan jejak air mata haru serta doa-doa keselamatan yang dipanjatkan senyap oleh seluruh personel.


Kini, di bawah nakhoda AKBP Diouglas Mahendrajaya, layar pelayanan Polres Wajo kembali dikembangkan. Tugas menjaga keamanan dan ketertiban umum bukan lagi sekadar tanggung jawab profesi, melainkan ladang amal kebajikan yang harus ditunaikan demi kesejahteraan lahir dan batin masyarakat Kabupaten Wajo. Selamat jalan sang pengabdi yang telah mengukir budi, selamat datang sang pembawa amanah yang siap menabur bakti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *