Oleh: Alimuddin
Ketua Dewan Penasehat SMSI Kab. Soppeng
SOPPENG, SUARA PALAPA — Di balik seragam dan tanda pangkat, setiap amanah selalu menyimpan cerita tentang pengabdian, perpisahan, dan harapan baru. Di tubuh Kepolisian Negara Republik Indonesia, rotasi jabatan bukan sekadar pergantian nama pada sebuah meja kerja, melainkan estafet tanggung jawab untuk terus menjaga keamanan, ketertiban, dan kepercayaan masyarakat.
Angin penyegaran organisasi itu kini berembus di jajaran Polres Soppeng.
Berdasarkan telegram mutasi di lingkungan Polda Sulawesi Selatan, jabatan Kapolres Soppeng resmi berganti. AKBP Aditya Pradana, S.I.K., M.I.K., yang selama ini memimpin Polres Soppeng, mendapat amanah baru sebagai Kapolres Pangkep.
Tongkat komando selanjutnya dipercayakan kepada AKBP Hari Budiyanto, S.H., S.I.K., M.H., yang sebelumnya menjabat sebagai Kapolres Enrekang.
Informasi tersebut turut dikonfirmasi oleh personel Seksi Humas Polres Soppeng kepada Suara Palapa Jumat (26/6/2026), yang membenarkan isi telegram mutasi tersebut seraya menunggu agenda serah terima jabatan secara resmi.
Bagi masyarakat Soppeng, nama AKBP Aditya Pradana tentu bukan sosok yang asing. Dalam masa kepemimpinannya, ia dikenal aktif merawat komunikasi dengan berbagai elemen, mulai dari pemerintah daerah, tokoh masyarakat, insan pers, hingga warga akar rumput. Pendekatan humanis dan komunikasi yang cair menjadi warna tersendiri dalam menjaga stabilitas kamtibmas di Bumi Latemmamala. Bahkan ia dipandang sosok pemimpin yang religius.
Kini, lembaran baru akan segera dimulai.
Kehadiran AKBP Hari Budiyanto membawa harapan baru bagi institusi dan masyarakat. Pengalaman memimpin di Enrekang menjadi modal penting untuk melanjutkan fondasi yang telah dibangun, sekaligus memperkuat pelayanan kepolisian yang presisi, profesional, dan berorientasi pada kepentingan publik.
Dalam setiap pergantian kepemimpinan, selalu ada ruang bagi doa yang dipanjatkan: semoga yang melepas amanah diberikan keberkahan dalam tugas barunya, dan yang menerima amanah dianugerahi kekuatan, kebijaksanaan, serta ketulusan dalam mengemban tanggung jawab.
Sebab pada akhirnya, jabatan hanyalah titipan. Yang abadi adalah jejak pengabdian, tentang seberapa besar seorang pemimpin hadir untuk melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat.
Bumi Latemmamala kini bersiap menyambut nahkoda baru.
Dan waktu akan menjadi saksi, bagaimana estafet pengabdian itu terus berlanjut.







