Keterangan Gambar:
SUARA MAHASISWA MAKASSAR: Jajaran pengurus dan pimpinan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Se-Kota Makassar saat membentangkan poster tuntutan dalam Forum Dialog Kebangsaan di Kopi Teko, Makassar, Selasa (16/6/2026). Dalam aksi simbolis tersebut, mereka menyerukan independensi gerakan mahasiswa, penolakan terhadap infiltrasi asing dan mafia migas, serta komitmen mengawal transisi menuju Indonesia Emas 2045. (Foto: Dok. Panitia)
Penulis: Ibnu Sultan
Editor: Masykur Thahir
Sejarah bangsa Indonesia senantiasa ditulis dengan tinta tebal gerakan mahasiswa. Setiap kali ada riak di tingkat nasional, dari fluktuasi ekonomi hingga pergeseran konjunktur politik, mata publik selalu tertuju pada koridor-koridor kampus. Namun, di tengah kepungan arus informasi yang kerap terpolarisasi, muncul pertanyaan mendasar: ke mana arah kompas gerakan mahasiswa hari ini?
Jawaban atas kegelisahan tersebut coba dirumuskan secara lugas oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Se-Kota Makassar. Di bawah atmosfer diskusi yang hangat namun sarat substansi di Kopi Teko, Makassar, pada Selasa (16/6/2026), BEM Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar sukses mengumpulkan para simpul pergerakan dalam sebuah Forum Dialog Kebangsaan. Bertajuk “Akselerasi Kesejahteraan Masyarakat: Peran Mahasiswa dalam Memutus Rantai Kesenjangan Menuju Indonesia Emas”, forum ini melampaui sekadar ruang debat akademis; ia menjadi panggung konsolidasi gagasan untuk merespons dinamika nasional yang kian kompleks.
Hadir dalam forum tersebut para pimpinan struktural kampus, di antaranya Andi Rama Ramadhan (Presma Unismuh Makassar), Nur Intan Maharani Illyas (Presma UNM), Muh. Zain Aditya (Presma STIEM Bongaya), Muh. Farhan Parsia (Presma Poltekkes), serta perwakilan dari DEMA UIN Alauddin Makassar. Kehadiran mereka menegaskan satu hal: Makassar tetap menjadi episentrum nalar kritis yang solid di I1ndonesia Timur.
Melawan Narasi Pesimisme dan Infiltrasi Kepentingan
Belakangan ini, ruang publik diwarnai oleh berbagai isu sensitif, mulai dari fluktuasi nilai tukar rupiah, kesiapan program Makan Bergizi Gratis (MBG), penguatan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), hingga sayup-sayup narasi gerakan yang mengarah pada “Reformasi Jilid II”. Di sinilah letak kedewasaan politik mahasiswa Makassar diuji.
Presiden Mahasiswa Unismuh Makassar, Andi Rama Ramadhan, secara tegas mengingatkan rekan-rekannya tentang pentingnya menjaga kesucian gerakan dari tunggangan elit oligarki dan kepentingan politik praktis. Baginya, gerakan mahasiswa tidak boleh digerakkan oleh sentimen buta atau sekadar romantisme masa lalu seperti “Reformasi Berjilid”.
“Gerakan kita harus matang, berbasis data, dan yang terpenting: tetap mengedepankan independensi,” ujar Andi Rama. Pernyataan ini menjadi pengingat penting bahwa kritik mahasiswa harus lahir dari rahim objektivitas, bukan dari pesanan aktor di balik layar.
Namun, independensi bukan berarti bersikap pasif atau sekadar memuji pemerintah.
Mahasiswa Makassar tetap menancapkan taji kritiknya pada sektor-sektor krusial.
Forum tersebut secara kolektif mendesak agar negara tidak boleh takluk di hadapan para mafia. Tata kelola pelaksanaan program kesejahteraan rakyat harus diawasi dengan ketat, pemberantasan korupsi wajib diakselerasi, dan mafia migas harus segera dibongkar demi melapangkan jalan menuju Indonesia Emas 2045.
Menatap Masa Depan dengan Optimisme Terukur
Menariknya, dialog ini juga mempertemukan perspektif segar mahasiswa aktif dengan kearifan para alumni pergerakan. Kehadiran para demisioner pimpinan BEM seperti Ahmad Aidil Fahri (UIN Alauddin), Muh. Hasby Assidiq (Unismuh), Hasrul (UNM), serta perspektif hukum dari akademisi Dr. Kurniawan, S.H., M.H., memberikan kedalaman analisis yang multidimensional.
Ahmad Aidil Fahri, dalam refleksinya, mengajak mahasiswa untuk memiliki kedaulatan berpikir dan tidak mudah terprovokasi oleh agenda-agenda yang berniat memecah belah bangsa di kala Indonesia sedang berupaya bangkit. Narasi yang dibangun bukanlah penolakan mutlak tanpa arah, melainkan oposisi konstruktif yang solutif.
“Negara kita bukan negara yang bisa didikte, negara kita kuat,” tegas Aidil.
Ia menggarisbawahi bahwa mendukung penguatan tata kelola program pemerintah yang berpihak pada rakyat adalah hal yang logis. “Tidak semua hal harus kita tolak.”
Pada akhirnya, dari dialektika di Kota Makassar ini, kita melihat sebuah evolusi gerakan mahasiswa yang kian matang. Mereka tidak lagi hanya pandai meneriakkan yel-yel di jalanan, tetapi juga cakap membedah data di meja diskusi. Di tengah ujian kebangsaan, mahasiswa Makassar memilih jalan pedang yang paling sunyi namun paling mematikan bagi para perusak bangsa: jalan kebenaran berbasis data, optimisme yang rasional, dan komitmen menjaga keutuhan NKRI.









