Menanti Penerus Beringin di Bumi Latemmamala

Politik218 Dilihat

Ilustrasi

Oleh: Alimuddin
Ketua Dewan Penasehat SMSI Kab. Soppeng

Dua periode A. Kaswadi Razak memimpin Golkar Soppeng segera memasuki garis akhir. Di tengah senyap konsolidasi dan belum munculnya deklarasi kandidat, publik mulai bertanya: ke mana arah pohon beringin akan bertumbuh setelah ini?

Politik tidak selalu bergerak dalam hiruk-pikuk. Ada saat-saat tertentu ketika ia justru berjalan dalam kesunyian, tetapi menyimpan begitu banyak makna.

Begitulah suasana yang kini terasa di tubuh Partai Golkar Kabupaten Soppeng.

Di berbagai sudut Kota Watansoppeng, percakapan tentang masa depan partai berlambang pohon beringin mulai terdengar. Tidak menggelegar. Tidak pula dipenuhi deklarasi yang ramai. Namun cukup untuk menghadirkan satu pertanyaan yang terus berulang di kalangan kader dan pemerhati politik lokal: siapa yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan Golkar Soppeng setelah era H. A. Kaswadi Razak?

Pertanyaan itu wajar muncul.

Selama dua periode terakhir, nama Andi Kaswadi Razak telah menjadi bagian penting dari perjalanan Golkar di Bumi Latemmamala. Di bawah kepemimpinannya, Golkar tidak hanya mampu mempertahankan eksistensi politiknya, tetapi juga tetap menjadi salah satu kekuatan dominan dalam percaturan politik daerah.

Golkar tetap berdiri kokoh di tengah perubahan zaman, pergantian generasi politik, dan dinamika demokrasi yang semakin kompetitif. Kader-kadernya tersebar di berbagai lini pemerintahan dan legislatif. Mesin organisasi tetap bergerak. Basis pendukung tetap terpelihara.

Namun setiap kepemimpinan memiliki batas waktunya.

Regulasi organisasi mengharuskan seorang ketua hanya menjabat selama dua periode. Artinya, cepat atau lambat, Golkar Soppeng akan memasuki babak baru. Sebuah fase yang selalu menjadi ujian bagi setiap organisasi politik: regenerasi.

Menariknya, hingga kini belum ada figur yang secara terbuka menyatakan diri siap bertarung memperebutkan kursi Ketua DPD II Golkar Soppeng. Tidak ada baliho politik yang menguasai ruang publik. Tidak ada manuver yang dilakukan secara vulgar.

Tetapi politik sering kali bekerja jauh sebelum pernyataan resmi diumumkan.

Di ruang-ruang diskusi kader, di meja-meja kopi, hingga dalam berbagai forum informal, sejumlah nama mulai diperbincangkan. Dari sekian banyak kader yang dimiliki Golkar Soppeng, dua figur paling sering disebut memiliki peluang dan kapasitas untuk melanjutkan kepemimpinan partai.

Nama pertama adalah H. Suwardi Haseng.

Sebagai Bupati Soppeng, ia memiliki pengalaman pemerintahan yang luas serta kedekatan dengan berbagai lapisan masyarakat. Posisinya sebagai kepala daerah membuat namanya kerap masuk dalam perbincangan ketika berbicara mengenai masa depan kepemimpinan Golkar di daerah ini.

Nama kedua adalah Andi Muhammad Farid.

Ketua DPRD Kabupaten Soppeng tersebut dikenal sebagai salah satu kader yang tumbuh dalam tradisi politik Golkar. Pengalamannya memimpin lembaga legislatif serta keterlibatannya dalam dinamika partai menjadikan namanya tidak pernah absen dalam pembahasan mengenai regenerasi kepemimpinan.

Meski demikian, politik Golkar selama ini mengajarkan satu hal: kejutan selalu mungkin terjadi.

Partai ini memiliki tradisi kaderisasi yang panjang. Tidak jarang figur yang pada awalnya tidak banyak diperbincangkan justru muncul sebagai titik temu berbagai kepentingan dan harapan kader.

Karena itu, terlalu dini untuk menyimpulkan siapa yang akan menjadi penerus.

Yang pasti, Golkar Soppeng saat ini sedang berada pada sebuah persimpangan sejarah. Bukan karena konflik. Bukan pula karena perpecahan. Melainkan karena kebutuhan alami sebuah organisasi untuk menyiapkan generasi pemimpin berikutnya.

Di tengah dinamika politik Sulawesi Selatan yang juga sedang bergerak menjelang proses konsolidasi dan pergantian kepemimpinan partai di tingkat provinsi, posisi Soppeng tetap diperhitungkan sebagai salah satu basis penting Golkar. Bahkan berbagai agenda konsolidasi Golkar Sulawesi Selatan belakangan dipusatkan di daerah ini, sebuah penanda bahwa Bumi Latemmamala masih memiliki arti strategis dalam peta politik partai.

Pada akhirnya, pergantian ketua bukan sekadar soal siapa yang menang dan siapa yang kalah. Lebih dari itu, ia adalah tentang bagaimana sebuah organisasi menjaga kesinambungan, merawat tradisi, sekaligus membuka ruang bagi lahirnya energi baru.

Pohon beringin yang telah lama menaungi perjalanan politik Golkar di Soppeng akan tetap berdiri.

Yang sedang ditunggu hari ini bukanlah pohonnya.

Melainkan siapa yang kelak akan dipercaya merawatnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *