Oleh: Alimuddin
Pemred Palapa Media Group
MAKASSAR – Sore itu, waktu seolah berjalan lebih lambat. Di sebuah rumah sederhana yang hangat di kawasan Antang, Makassar, tawa dan sapaan yang telah lama tersimpan kembali menemukan jalannya. Satu per satu wajah yang pernah mengisi ruang-ruang kelas di SMA Negeri 156 Watampone angkatan 1983 datang membawa cerita, kenangan, dan kerinduan yang selama puluhan tahun tetap terpelihara.
Bagi mereka, rumah itu bukan sekadar tempat berkumpul. Di sanalah jejak-jejak masa muda kembali disapa. Di sanalah rasa hormat kepada guru menemukan makna yang paling tulus.
Sedikitnya 60 alumni yang tergabung dalam keluarga besar Smabo 83 menggelar arisan dan temu silaturahmi di kediaman pasangan guru mereka, Hj. Andi Aidah Makkulawu, guru Ekonomi yang penuh ketelatenan, dan Abd. Rachman, guru Olahraga yang dahulu dikenal tegas namun penuh kasih.
Empat puluh tiga tahun telah berlalu sejak mereka meninggalkan bangku sekolah yang kini bernama SMAN 1 Bone. Namun perjumpaan itu membuktikan bahwa waktu hanya mampu mengubah usia, bukan persaudaraan.
Di antara para alumni yang hadir tampak Ketua Smabo 83, H. Asnawi, S.H., M.H., yang secara khusus datang dari Tangerang. Hadir pula Andi Alimuddin Maddussila, Abulkhair yang kini menjadi anggota DPRD Kabupaten Bone, Andi Ibtikhri Abbas, H. Capt. Ansyaruddin, M.Mart., Prof. Dr. Hj. Indah Raya, Ardi Bola, Sukarmi, St. Rahmah, serta sejumlah alumni lainnya yang datang dari berbagai daerah.
Suasana yang tercipta jauh dari kesan formal. Obrolan mengalir seperti sungai yang menemukan hulunya. Ada kisah tentang masa sekolah, tentang mimpi-mimpi yang dahulu dituliskan di buku catatan, hingga perjalanan hidup yang telah membawa mereka ke berbagai profesi dan penjuru negeri.
Namun inti dari pertemuan itu bukanlah nostalgia semata.
Arisan yang rutin digelar tersebut menjadi ruang untuk mempererat tali silaturahmi, memperkuat solidaritas, sekaligus mengevaluasi perjalanan organisasi alumni agar tetap memberi manfaat bagi sesama. Masa lalu tidak dikenang untuk diratapi, melainkan dijadikan cermin untuk memperbaiki langkah ke depan.
Menjelang petang, pertemuan itu semakin sarat makna ketika para alumni sepakat melanjutkan kebersamaan dengan menghadiri resepsi pernikahan putra salah seorang sahabat mereka, Agus Rahim, yang berlangsung di Hotel Claro Makassar pada malam harinya.
Kebahagiaan seorang sahabat pun menjadi kebahagiaan bersama. Sebuah tradisi persaudaraan yang masih terawat setelah lebih dari empat dekade.
Di hadapan para sahabat dan gurunya, Ketua Smabo 83, H. Asnawi, tak mampu menyembunyikan rasa harunya. Mantan Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat yang kini telah memasuki masa purnabakti itu mengaku pertemuan tersebut membangkitkan kembali kenangan yang terasa begitu dekat.
“Sudah 43 tahun kita meninggalkan almamater yang sama di Watampone, tetapi rasanya seperti baru kemarin kita berpisah,” ungkapnya dengan suara yang bergetar.
Bagi Asnawi dan rekan-rekannya, para guru bukan hanya pengajar yang pernah berdiri di depan kelas. Mereka adalah pelita yang menerangi jalan kehidupan. Karena itu, kesempatan berkumpul di rumah gurunda menjadi momen yang sangat istimewa.
Dengan penuh penghormatan, ia menyampaikan rasa terima kasih kepada Hj. Andi Aidah Makkulawu dan Abd. Rachman atas dedikasi yang pernah mereka berikan kepada para muridnya.
Tak ada hadiah yang lebih berharga selain doa yang tulus.
Doa agar kedua gurunda senantiasa diberi kesehatan, keberkahan usia, kelapangan rezeki, serta kebahagiaan bersama keluarga. Doa yang lahir dari hati para murid yang kini telah menapaki berbagai jalan kehidupan, namun tetap menyimpan rasa hormat yang sama kepada orang-orang yang pernah mengajarkan mereka arti ilmu, disiplin, dan akhlak.
Sore itu, arisan Smabo 83 bukan sekadar agenda rutin alumni.
Ia menjelma menjadi perayaan syukur atas nikmat persahabatan yang panjang, penghormatan kepada guru yang tak lekang oleh zaman, serta pengingat bahwa sejauh apa pun langkah seseorang melangkah, selalu ada jalan yang membawanya pulang kepada kenangan, persaudaraan, dan kasih sayang yang dirajut karena Allah SWT.
Di rumah gurunda itu, mereka kembali belajar satu pelajaran penting yang dahulu mungkin tidak tertulis di papan tulis: bahwa silaturahmi adalah salah satu bentuk ibadah yang membuat usia terasa panjang, hati menjadi lapang, dan persaudaraan tetap hidup melampaui waktu.












