Ikhtiar Pulang Kampung dari Unhas Hotel

Berita111 Dilihat

Keterangan Gambar:

Satu Barisan, Satu Tujuan: Pengurus, tokoh masyarakat, akademisi, dan warga diaspora Sidenreng Rappang berfoto bersama usai penutupan Musyawarah Besar (Mubes) VIII IKM–ISA Sidrap di Unhas Hotel & Convention, Makassar, Sabtu (20/6/2026). Forum tersebut resmi menetapkan Wakil Rektor 1 Unhas Prof. Muhammad Ruslin sebagai Ketua IKM Sidrap dan pengusaha Hasdar Haedar sebagai Ketua ISA Sidrap periode 2026–2030.

Penulis: Masykur Thahir

Sore itu di Unhas Hotel & Convention, Makassar, Sabtu, 20 Juni 2026, keriuhan tidak sekadar mencerminkan sebuah hajatan seremonial. Di bawah lampu aula yang benderang, ratusan pasang mata yang datang dari berbagai penjuru berkumpul membawa satu identitas yang sama: kerinduan dan tanggung jawab moral terhadap tanah kelahiran, Sidenreng Rappang.

Musyawarah Besar (Mubes) VIII Ikatan Kekerabatan Masyarakat (IKM) Sidrap bersama Ikatan Sarjana (ISA) Sidrap hari itu bukan sekadar agenda lima tahunan untuk menghitung suara. Ia adalah panggung konsolidasi gagasan. Di tengah riuh rendah interupsi dan tawa khas diaspora Bugis, tersimpan sebuah kegelisahan kolektif tentang bagaimana merajut potensi kaum perantau dan kaum cerdik cendekia demi kemajuan daerah asal. Tema yang diusung pun lugas: “Transformasi Kepemimpinan Menuju IKM–ISA Sidrap yang Berdaya dan Solutif.”

Ketika riak musyawarah mulai mereda, sebuah mufakat bulat tercapai. Forum dengan suara bulat memercayakan nakhoda IKM Sidrap periode 2026–2030 kepada Prof. drg. Muhammad Ruslin, M.Kes., Ph.D., Sp.BM(K). Figur akademisi yang sehari-hari menjabat sebagai Wakil Rektor 1 Universitas Hasanuddin ini dipandang mampu membawa angin segar institusional.
Sementara itu, di lini Ikatan Sarjana (ISA) Sidrap, estafet kepemimpinan diserahkan kepada Hasdar Haedar, S.E., seorang pengusaha muda di balik jaringan Lasuna Chicken.

Kombinasi ini menarik: perpaduan antara kematangan akademis kelas menara gading dan kelincahan taktis dunia usaha.

Sinergi Menara Gading dan Akar Rumput

Bupati Sidenreng Rappang, yang hadir hingga pengujung acara, menangkap optimisme tersebut. Dalam sambutan penutupnya, ia tidak menutupi ekspektasi pemerintah daerah. Bagi sang Bupati, IKM dan ISA bukanlah sekadar organisasi paguyuban tempat melepas rindu mencicipi “nasu palekko” di perantauan. Lebih dari itu, mereka adalah “think-tank” dan mitra strategis.

“Pemerintah Kabupaten Sidrap membutuhkan dukungan seluruh elemen masyarakat, termasuk IKM dan ISA Sidrap, untuk bersama-sama menghadirkan inovasi serta solusi bagi kemajuan daerah,” ujarnya, menitipkan harapan besar pada kepengurusan baru.

Tantangan itu langsung disambut oleh Prof. Muhammad Ruslin. Baginya, menakhodai IKM Sidrap adalah kerja meruntuhkan sekat. Ia bertekad membawa organisasi ini menjadi lebih inklusif dan membumi.

“Kepercayaan ini adalah amanah besar. Saya mengajak seluruh keluarga besar IKM Sidrap untuk terus memperkuat persatuan dan berkontribusi nyata bagi Kabupaten Sidenreng Rappang,” ungkapnya retoris, menekankan bahwa kontribusi tak melulu soal kepulangan fisik, melainkan transfer pemikiran dan jejaring.

Di sisi lain, Hasdar Haedar melihat ISA Sidrap sebagai wadah inkubator potensi. Di era digital dan ketidakpastian ekonomi saat ini, kaum sarjana asal Sidrap yang tersebar di berbagai sektor profesi harus mampu dirajut dalam satu ekosistem kolaboratif. Tujuannya jelas: agar setiap keahlian yang lahir dari bangku kuliah bisa terkonversi menjadi program konkret yang menyentuh akar rumput di Sidrap.

Mubes VIII telah usai, menyisakan ruangan yang kembali lengang dan foto bersama yang mengabadikan senyum kepuasan. Namun, bagi Ruslin dan Hasdar, pekerjaan rumah yang sesungguhnya baru saja dimulai dari luar pintu aula.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *