Golkar Berkibar Tanpa Bupati: Absennya Suwardi Haseng Jadi Bisik-Bisik di Tengah Konsolidasi Akbar

Politik59 Dilihat

Keterangan Gambar

Di sela acara, Andi Baso Petta Karaeng, Anggota Dewan Penasehat Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kab Soppeng mewawancarai Plt. Ketua DPD I Partai Golkar Provinsi Sulawesi Selatan, Muhiddin M Said

Penulis: Syamsuddin Andy

SOPPENG — Lautan kuning memenuhi Gedung La Patau, Kota Watansoppeng, Sabtu (16/5/2026). Konsolidasi Partai Golkar Wilayah II Sulawesi Selatan berlangsung meriah, menghadirkan kader dan pengurus dari sembilan kabupaten. Namun di tengah gegap gempita itu, satu hal justru menjadi bahan perbincangan paling hangat: absennya , figur yang selama ini disebut sebagai salah satu pembina sekaligus kader penting Partai Golkar di Kabupaten Soppeng.

Ketidakhadiran orang nomor satu di Bumi Latemmamala itu memantik tanda tanya di kalangan kader maupun peserta konsolidasi. Sebab, agenda tersebut bukan sekadar seremoni biasa, melainkan momentum penting memperkuat barisan partai menjelang dinamika politik ke depan.

Di saat kader dari berbagai daerah hadir menunjukkan loyalitas dan soliditas, kursi yang semestinya ditempati Bupati Soppeng justru kosong. Situasi itu memunculkan bisik-bisik di arena konsolidasi. Sebagian mempertanyakan komitmen politik sang kepala daerah terhadap partai yang telah mengusung dan membesarkan namanya.

Plt Ketua DPD I Partai Golkar Sulsel, , berusaha meredam spekulasi. Ia menyebut ketidakhadiran Suwardi Haseng disebabkan adanya agenda penting di Jakarta. Menurutnya, informasi tersebut telah disampaikan langsung melalui pesan WhatsApp kepada pihak partai.

“Ada kepentingan lain yang mungkin lebih penting dan beliau sudah menyampaikan kepada kami,” ujar Muhiddin kepada awak media.

Meski tanpa kehadiran Bupati Soppeng, konsolidasi tetap berlangsung semarak. Muhiddin bahkan mengaku kagum melihat antusiasme kader Golkar di Soppeng. Ia menyebut atmosfer kegiatan tersebut terasa seperti Musyawarah Daerah (Musda), bukan sekadar konsolidasi biasa.

Baginya, memilih Soppeng sebagai tuan rumah bukan keputusan tanpa pertimbangan. Daerah itu dianggap memiliki sejarah panjang dan akar kekuatan Golkar yang masih kokoh hingga hari ini.

“Golkar di Soppeng punya sejarah dan basis yang kuat. Saya merasa beruntung kegiatan ini digelar di sini,” katanya.

Muhiddin juga mengungkapkan rasa emosionalnya kembali ke Soppeng setelah puluhan tahun merantau di dunia politik. Ia menyebut sudah sekitar 54 tahun meninggalkan kampung halaman sebelum akhirnya kembali dalam momentum konsolidasi besar Partai Golkar tersebut.

Namun, di balik pujian terhadap soliditas kader, absennya Bupati tetap menjadi bayang-bayang yang sulit diabaikan. Apalagi kegiatan itu dihadiri perwakilan sembilan kabupaten di Sulawesi Selatan, menjadikannya panggung strategis untuk menunjukkan kekuatan dan kekompakan partai.

Ironisnya, ketika kader dari berbagai daerah rela hadir memperlihatkan loyalitas, figur utama Golkar di Soppeng justru tidak tampak di tengah barisan. Situasi itu memunculkan tafsir liar di kalangan peserta, meski pihak partai terus menegaskan bahwa konsolidasi berjalan sukses dan penuh semangat kebersamaan.

Terlepas dari polemik absennya Bupati, konsolidasi Golkar Wilayah II Sulsel tetap menghasilkan satu pesan penting: mesin politik partai berlambang pohon beringin itu masih bergerak solid, bahkan ketika figur kepala daerahnya tidak berada di arena.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *