Menyemai Adab di Tanah Panincong: Kala Seragam Cokelat Merangkul Masa Depan

POLRI260 Dilihat

Ilustrasi

Oleh: Alimuddin
Pemred Palapa Media Group

SOPPENG – Di bawah langit Panincong yang teduh, sebuah amanah besar sedang ditunaikan. Bukan tentang deru sirene atau pengejaran raga yang melanggar hukum, melainkan tentang pengejaran jiwa-jiwa muda yang nyaris kehilangan arah. Di sana, di antara aroma tanah dan bisikan angin, Polsek Marioriawa hadir bukan sebagai penegak hukum yang kaku, melainkan sebagai tangan Tuhan yang memulangkan anak-anak bangsa ke dalam ruang-ruang ilmu.

Peristiwa ini bermula dari sebuah kegelisahan luhur. Wakapolres Soppeng, Kompol Sudarmin, S.Sos., putra daerah yang tak pernah melupakan akar asalnya, menitipkan sebuah perintah yang penuh kasih.

Mendengar kabar dari Kepala SMPN 3 Marioriawa tentang tunas-tunas muda yang kerap berkelana di luar pagar sekolah saat lonceng pelajaran berdentang, nurani beliau terusik. Baginya, setiap anak di Panincong adalah keluarga; setiap siswa yang bolos adalah satu pelita yang meredup bagi masa depan negeri.

“Demi masa depan mereka, tak ada pengecualian,” tutur sang Kompol dalam sebuah instruksi yang tegas namun penuh cinta. Pesan ini segera disambut oleh Kapolsek Marioriawa, AKP Mus Mulyadi, S.Pd.I., yang memahami betul bahwa mendidik manusia adalah bagian dari ibadah.

Senin pagi itu, suasana di sekitar Panincong terasa berbeda. Aiptu Nurdin, dengan langkah tenang namun berwibawa, menyisir sudut-sudut desa. Di sana, ia menemukan beberapa siswa yang tengah asyik bercengkerama, seolah lupa bahwa waktu adalah nikmat yang akan dimintai pertanggungjawaban. Tak ada amarah yang meledak, yang ada hanyalah nasihat layaknya seorang ayah kepada anaknya.

“Nak, bangku sekolahmu sedang menanti. Di sana, impian orang tuamu sedang dirajut,” bisik langkah persuasif petugas di lapangan. Para siswa pun perlahan melangkah kembali ke gerbang sekolah, memikul tas yang kembali berisi harapan.

Namun, aparat kepolisian sadar bahwa mendidik karakter tidak bisa dilakukan dalam kesendirian. Sejalan dengan napas agama yang menekankan pentingnya sinergi antara keluarga dan sekolah, AKP Mus Mulyadi melalui Aiptu Nurdin merajut mufakat dengan pihak sekolah. Besok, Selasa 28 April 2026, para orang tua akan diundang duduk bersama.

Pertemuan tersebut bukan untuk menghakimi, melainkan untuk membangun kembali benteng disiplin di rumah. Sebab, di tangan pemuda yang beradab dan berilmu sajalah, Panincong akan tetap jaya, dan Ridho Illahi akan senantiasa menaungi Bumi Latemmamala. Tugas polisi hari ini bukan sekadar menjaga keamanan, tapi memastikan bahwa setiap anak memiliki kesempatan untuk menjadi “mutiara” yang bersinar di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *