Menanam Nilai, Menjaga Marwah: Pesan Humanis Kapolres Soppeng untuk Generasi Bhayangkara Muda

POLRI98 Dilihat

Keterangan Gambar:

Kapolres Soppeng AKBP Aditya Pradana memberikan arahan kepada siswa Latja Diktukba Polri Angkatan 54 di Aula Tantya Sudhirajati Mapolres Soppeng, Rabu (29/4/2026). Dalam kegiatan tersebut, ditekankan pentingnya sikap humanis, integritas, dan profesionalisme dalam menjalankan tugas kepolisian. (Foto: Dokumentasi Humas Polres Soppeng)

Penulis: Syukur Mariorante Katalawala

Di sebuah ruangan yang hening namun sarat makna, puluhan pasang mata tertuju ke satu arah. Di Aula Tantya Sudhirajati Mapolres Soppeng, suara arahan itu mengalir tenang, namun mengandung bobot tanggung jawab yang kelak akan mereka emban. Hari itu, Rabu, 29 April 2026, bukan sekadar seremoni. Ia menjadi ruang pembentukan nilai bagi para siswa Latihan Kerja (Latja) Diktukba Polri Angkatan 54.

Kapolres Soppeng, AKBP Aditya Pradana, hadir bukan hanya sebagai pemimpin, tetapi sebagai pengingat jalan. Ia berbicara tentang hal yang kerap terlupakan dalam kerasnya tugas kepolisian: menjadi manusia yang utuh sebelum menjadi aparat penegak hukum. Humanisme, katanya, bukan kelemahan, melainkan kekuatan yang membedakan antara kekuasaan dan pelayanan.

Dalam narasi yang mengalir, ia menegaskan bahwa kekuatan bukan untuk dipamerkan, apalagi disalahgunakan. Senjata dan kewenangan hanyalah alat, yang penggunaannya dibatasi oleh etika dan situasi genting. Selebihnya, pendekatan persuasif dan sikap bijak adalah jalan utama dalam merawat kepercayaan masyarakat.

Namun, pesan itu tidak berhenti pada aspek tugas. Ia masuk lebih dalam, menyentuh kehidupan pribadi para calon Bhayangkara. Tentang bagaimana mengelola penghasilan dengan sederhana, tentang pentingnya menahan diri dari gemerlap semu media sosial, hingga tentang bahaya laten dari kebiasaan menyimpang yang sering berawal dari rasa ingin tahu. Perjudian, narkoba, dan perilaku menyimpang lainnya bukan sekadar pelanggaran, tetapi awal dari runtuhnya masa depan.

Dalam setiap kalimatnya, tersirat satu hal: menjadi anggota Polri adalah pilihan hidup yang menuntut disiplin lahir dan batin. Tidak hanya menjaga hukum, tetapi juga menjaga diri. Tidak hanya bertanggung jawab pada masyarakat, tetapi juga pada pimpinan dan institusi.

Ada kehangatan tersendiri saat ia menutup arahannya. Sebuah apresiasi bagi mereka yang telah berjalan di jalur yang benar, dan doa bagi masa depan yang lebih baik. “Kalian adalah yang terpilih,” pesannya, sederhana namun mengikat. Sebuah pengingat bahwa kehormatan itu tidak datang begitu saja, melainkan dijaga dengan sikap, perilaku, dan kedekatan kepada nilai-nilai spiritual.

Kegiatan ini bukan hanya bagian dari kurikulum pelatihan. Ia adalah proses menanam benih, tentang integritas, profesionalisme, dan kesadaran moral. Sebab pada akhirnya, seorang polisi tidak hanya diukur dari ketegasannya, tetapi dari kemampuannya memahami dan melayani manusia dengan hati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *