Dalam Doa yang Mengalun, Dilla Menyulam Cinta Menuju Sakinah

UCAPAN SELAMAT91 Dilihat

Oleh: Idris
Reporter Palapa Media Group

PAREPARE — Ada yang berbeda dari selembar undangan berwarna lembut itu. Ia bukan sekadar pemberitahuan waktu dan tempat, melainkan juga doa yang mengalir perlahan, seolah mengajak siapa pun yang membacanya untuk sejenak menundukkan hati.

Diawali dengan basmalah dan salam penuh kesejukan, undangan itu membawa kabar bahagia: Siti Nur Fadillahurriqqui, S.Pd., atau yang akrab disapa Dilla, akan menapaki fase baru dalam hidupnya. Putri kedua dari pasangan Bapak Jufri, S.Pd. dan Ibu Nur Elis itu bersiap menjemput takdir cinta dalam ikatan suci pernikahan.

Di balik nama Dilla, tersimpan kisah tentang seorang anak perempuan yang tumbuh dalam dekapan nilai-nilai keluarga. Ia bukan hanya putri, tetapi juga harapan yang perlahan dititipkan kepada waktu, dibesarkan dengan doa, disemai dengan kasih, dan kini dilepas dengan keikhlasan.

“Ya Allah, dengan kerendahan hati kami memanjatkan doa,” begitu kira-kira ruh yang terasa dari setiap kalimat undangan tersebut. Sebuah pengakuan bahwa pernikahan bukan sekadar peristiwa sosial, melainkan ibadah panjang yang dimulai dari niat yang suci.

Hari yang dinanti itu akan tiba pada Sabtu, 18 April 2026. Di Hotel Delima Sari, Kota Parepare, akad nikah akan dilangsungkan pada pagi hari, disusul resepsi yang menjadi ruang perjumpaan cinta dan doa dari keluarga, sahabat, dan kerabat.

Namun, lebih dari sekadar tanggal dan lokasi, peristiwa ini adalah tentang seorang ibu yang diam-diam menata rasa, antara bahagia dan haru, melepas putri yang dulu digandengnya berjalan. Tentang seorang ayah yang mungkin tak banyak berkata, tetapi menyimpan doa panjang dalam setiap sujudnya.

Dilla berdiri di persimpangan hidup yang indah. Ia melangkah bukan sendiri, melainkan bersama restu yang mengakar dari keluarga. Di pundaknya, tersemat harapan untuk membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah, sebuah cita yang tak hanya diucapkan, tetapi juga diperjuangkan.

Undangan itu pun menjadi saksi: bahwa cinta yang dirawat dalam diam, kini menemukan jalannya. Bahwa doa-doa yang dilangitkan selama ini, perlahan turun menjadi kenyataan.

Dan di antara baris-baris kata yang sederhana itu, terselip pesan yang begitu dalam, bahwa setiap pernikahan sejatinya adalah perjalanan spiritual, tempat dua jiwa saling menguatkan, dalam ridha Ilahi yang menjadi tujuan.

Di sanalah, Dilla akan memulai kisah barunya. Sebuah kisah yang tak lagi hanya tentang dirinya, tetapi tentang “kami”, tentang kebersamaan yang dilandasi iman, dan cinta yang bertumbuh dalam keberkahan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *