Sajadah Aspal di Jalan Kemakmuran: Sebuah Ikhtiar Menjaga Nyawa

POLANTAS373 Dilihat

Penulis: Alimuddin (Pemred Palapa Media Group)

SOPPENG – Matahari Selasa, 10 Maret 2026, membasuh Kota Kalong dengan cahaya yang lamat-lamat menghangat. Di Jalan Kemakmuran, detak jantung Kabupaten Soppeng mulai berdenyut kencang. Deru mesin dan klakson bersahutan, menciptakan simfoni rutinitas yang tak pernah lelah. Namun, di antara keriuhan itu, ada sekelompok pria berseragam yang memandang aspal bukan sekadar jalan, melainkan amanah yang harus dijaga kesuciannya.

Pukul sepuluh pagi, ketika bayang-bayang mulai memendek, personel Satuan Lalu Lintas Polres Soppeng melangkah pasti. Mereka tidak datang untuk sekadar berdiri gagah, melainkan untuk melakukan sebuah laku spiritual dalam wujud tugas negara: Analisis Dampak Lalu Lintas (Andalalin). Bersama Tim Subdit Kamsel Ditlantas Polda Sulsel yang dipimpin AKP Husman, serta bahu-membahu dengan para punggawa Dinas Perhubungan, mereka sedang menenun keselamatan di atas rencana pembangunan.

Ada getaran yang berbeda saat kaki mereka berpijak di depan lokasi pembangunan MRDIY dan bangunan tua Misi Pasaraya. Di sana, masa depan ekonomi sedang dibangun, namun di sisi lain, risiko keselamatan nyawa manusia sedang dipertaruhkan. Bagi AIPTU H. Mahmuddin A, AIPDA Armin Arfah, dan BRIPDA Anugrah Saputra, setiap sudut jalan adalah garis yang memisahkan antara kelancaran dan petaka. Dalam setiap jengkal ukurannya, terselip doa agar tak ada air mata yang tumpah di jalanan hanya karena kelalaian sebuah perencanaan.

Secara humanis, ini bukan sekadar urusan teknis pembangunan. Ini adalah tentang memastikan seorang ayah bisa pulang dengan senyum untuk memeluk anaknya, atau seorang pedagang yang bisa mengantar dagangannya tanpa terhambat kemacetan yang menyiksa batin. Secara religius, ketertiban jalan adalah manifestasi dari iman, sebuah upaya menyingkirkan duri dari jalan agar sesama tak tergelincir.

“Polres Soppeng hadir bukan untuk menghambat kemajuan, tapi untuk memastikan kemajuan itu tidak memakan korban,” ucap AKBP Aditya Pradana, sang Kapolres, dengan nada yang tenang namun menghentak sanubari. Baginya, sinergi dengan pemerintah daerah adalah ibadah kolektif. Menjaga keamanan, keselamatan, dan ketertiban lalu lintas adalah cara mereka memuliakan manusia sebagai ciptaan Tuhan yang paling berharga.

Survey ini akan menjadi lembaran rekomendasi yang dingin dan presisi, namun ruh di dalamnya sangatlah hangat. Ia adalah kompas yang akan menuntun para pengembang agar bangunan megah mereka tak menjadi beban bagi pengguna jalan.

Ketika mentari merangkak naik menuju puncaknya, tugas itu selesai dengan keheningan yang syahdu. Jalan Kemakmuran tetap ramai, tetap sibuk, namun kini ada sebuah janji yang tertulis di atas debu jalanan: bahwa di bawah langit Soppeng, keselamatan warga adalah hukum tertinggi yang harus dijunjung, dan setiap langkah petugas adalah pengabdian yang tak akan putus dimakan waktu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *