Keterangan Gambar:
Kapolres Wajo AKBP Muhammad Rosid Ridho meninjau harga telur di salah satu lapak pedagang saat pemantauan harga dan ketersediaan bahan pokok oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah di Pasar Mini Sengkang, Jumat (13/3/2026). Kegiatan ini dilakukan untuk memastikan stabilitas harga dan ketersediaan bahan pangan menjelang Idul Fitri di wilayah Kabupaten Wajo. (Foto: Dokumentasi Humas Polres Wajo)

Oleh: Sabri
Editor: Alimuddin
Menjelang siang, lorong-lorong pasar mulai padat.
Suara tawar-menawar berlapis dengan bunyi plastik, timbangan, dan langkah orang-orang yang datang silih berganti. Di atas meja kayu yang memerah oleh usia, baki-baki telur disusun bertingkat, seperti menara kecil dari dapur-dapur rumah tangga.
Di salah satu lapak itulah rombongan pemerintah daerah berhenti.
Jumat pagi, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Wajo menyusuri lorong-lorong Pasar Mini Sengkang. Kunjungan itu dipimpin Bupati Wajo H. Andi Rosman, didampingi Kapolres Wajo AKBP Muhammad Rosid Ridho, Sekretaris Daerah Ir. Armayani, serta sejumlah pejabat dari instansi yang tergabung dalam tim pengendali harga daerah.
Bagi pemerintah daerah, pasar tradisional adalah tempat paling jujur untuk membaca keadaan ekonomi rakyat.
Di papan data statistik, harga bahan pokok bisa terlihat stabil. Namun di pasar, angka itu berubah menjadi percakapan, antara pedagang yang menghitung stok dan pembeli yang menimbang kemampuan belanja.
Karena itu, rombongan tak hanya melihat. Mereka berhenti di setiap lapak.
Beras diperiksa. Minyak goreng ditanya harganya. Gula, cabai, hingga telur diperhatikan satu per satu.
Ramadan hampir memasuki pertengahan. Dalam siklus ekonomi tahunan, masa ini selalu menjadi titik sensitif. Permintaan meningkat, distribusi diuji, dan harga sering bergerak pelan tapi pasti.
Pemerintah daerah mencoba memastikan garis itu tidak menanjak terlalu curam.
Bupati Wajo Andi Rosman mengatakan pemantauan dilakukan untuk memastikan stok bahan pokok tetap tersedia dan harga tetap berada dalam batas yang wajar menjelang Idul Fitri.
“Kami ingin memastikan stok bahan pokok di Kabupaten Wajo aman dan harga masih stabil. Pemerintah bersama TPID terus melakukan pemantauan agar tidak terjadi lonjakan harga yang memberatkan masyarakat,” katanya.
Namun stabilitas harga bukan hanya soal ketersediaan barang. Ia juga bergantung pada jalur distribusi yang tidak terganggu dan pasar yang bebas dari praktik penimbunan.
Di titik itulah aparat kepolisian ikut masuk dalam lingkar pengawasan.
Kapolres Wajo AKBP Muhammad Rosid Ridho mengatakan pihaknya akan mendukung langkah pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga bahan pokok, termasuk mengawasi kemungkinan praktik penimbunan barang menjelang hari besar keagamaan.
“Kami akan terus melakukan pengawasan bersama instansi terkait agar distribusi bahan pokok berjalan lancar dan tidak ada praktik yang dapat mengganggu stabilitas harga di pasar,” ujarnya.
Di banyak daerah, inflasi sering kali terasa sebagai istilah ekonomi yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Namun di pasar tradisional, inflasi memiliki bentuk yang sangat konkret: harga yang berubah di papan kecil, atau jumlah belanja yang tiba-tiba harus dikurangi.
Itulah sebabnya pengendalian harga bahan pokok selalu menjadi pekerjaan yang berulang setiap tahun.
Ramadan datang. Permintaan meningkat. Pasar bergerak.
Lalu pemerintah turun ke lapangan, memastikan satu hal sederhana tetap terjaga: dapur masyarakat tidak boleh ikut gelisah.
Sebab bagi banyak keluarga, kestabilan harga bukan sekadar angka ekonomi.













