Idul Fitri yang Datang Lebih Awal, Negara Hadir Lebih Cepat: Menjaga Sunyi di Tengah Perbedaan

KAMTIBMAS137 Dilihat

Keterangan Gambar:

Dua personel TNI-Polri berjaga di ruas jalan di Kabupaten Soppeng saat pelaksanaan Shalat Idul Fitri 1447 H oleh jamaah Muhammadiyah, Jumat (20/3/2026). Di tengah perbedaan waktu perayaan, aparat memastikan ibadah berlangsung aman tanpa gesekan. (Foto: Dokumentasi Humas Polres Soppeng)

Oleh: Alimuddin

Pagi itu datang lebih cepat dari biasanya. Bukan karena matahari terburu-buru terbit, melainkan karena sebagian umat telah lebih dulu memanggil hari raya.

Jumat, 20 Maret 2026, di Kabupaten Soppeng, gema takbir sudah mengalun ketika sebagian besar wilayah lain masih menunggu penetapan. Di tengah perbedaan yang berulang saban tahun itu, negara memilih tidak absen. Ia hadir, dalam wujud seragam, sepatu lars, dan tatapan waspada di pinggir jalan.

Polres Soppeng menggelar pengamanan Shalat Idul Fitri 1447 Hijriah yang dilaksanakan oleh jamaah Muhammadiyah. Tidak ada pengerahan besar-besaran yang mencolok. Namun kehadiran itu cukup untuk menyampaikan satu pesan: perbedaan tak boleh berubah menjadi kegaduhan.

Di sejumlah titik, Lalabata, Donri-Donri, hingga Liliriaja, personel kepolisian berdiri dalam senyap. Mereka mengatur arus kendaraan, mengawasi kerumunan, memastikan tak ada gesekan yang merembes dari hal-hal kecil yang kerap diabaikan.

Di Masjid Mujahidin Sewo, Masjid Uswatun Hasana, hingga Mushollah di sudut kampung, ratusan jamaah melaksanakan salat dengan khusyuk. Di luar pagar, aparat berjaga. Jarak itu tipis, tapi maknanya dalam: yang satu beribadah, yang lain menjaga agar ibadah itu tetap utuh.

Kapolres Soppeng, AKBP Aditya Pradana, menyebut pengamanan dilakukan untuk memastikan situasi tetap aman dan kondusif. Bahasa yang terdengar standar. Nyaris klise. Namun di lapangan, kalimat itu menjelma kerja sunyi yang tak sederhana.

Sebab yang dijaga bukan sekadar keramaian. Yang dijaga adalah kepercayaan.

Perbedaan penentuan Idul Fitri, antara metode hisab hakiki wujudul hilal yang digunakan Muhammadiyah dan keputusan pemerintah, bukan hal baru. Ia datang tiap tahun, berulang, seperti ujian kecil tentang seberapa dewasa masyarakat menerima perbedaan.

Sejauh ini, Soppeng lulus.

Tak ada laporan konflik. Tak ada gesekan berarti. Yang tersisa hanya perbedaan waktu, tanpa perpecahan makna.

Namun harmoni semacam itu tidak lahir begitu saja. Ia dijaga. Dirawat. Diawasi.

Dan di situlah peran aparat menjadi krusial, bukan sekadar sebagai penegak hukum, tetapi sebagai penjaga ruang sosial agar tetap teduh.

Di pinggir jalan itu, dua sosok berdiri berdampingan, Polri dan TNI. Mereka tidak sedang beribadah dalam saf yang sama. Tapi mereka memastikan saf itu tetap lurus.

Sebagian petugas tampak sangat patuh melaksanakan perintah komandannya. Namun di balik itu, ada kepatuhan lain yang lebih sunyi, kepatuhan terhadap panggilan nurani.

Bahwa di hari raya, menjaga orang lain agar bisa beribadah dengan tenang adalah bentuk ibadah yang lain.

Mereka mungkin tidak mengangkat tangan saat takbiratul ihram. Tidak ikut rukuk dan sujud bersama jamaah. Tapi mereka menjaga agar ratusan orang bisa melakukannya tanpa rasa takut.

Dalam kerja-kerja semacam itulah, negara menemukan wajah paling sederhananya, hadir tanpa banyak kata, bekerja tanpa banyak sorotan.

Dan Idul Fitri, yang datang lebih awal itu, akhirnya berjalan seperti seharusnya: khusyuk, damai, dan nyaris tanpa riak.

Sebuah perayaan yang mungkin sederhana, tapi menyimpan satu pelajaran penting, bahwa perbedaan, jika dijaga dengan akal sehat dan ketulusan, tak harus berujung pada perpecahan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *