Keterangan Gambar: Pengurus PC PFI Banyuasin masa bakti 2026–2030 mengikuti prosesi pengukuhan dalam rangkaian Sriwijaya Philately Exhibition (Sriwijaya Phex) 2026 di Atrium Palembang Square. (Foto: Dokumentasi PD PFI Sumsel)
PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani
ESSAY PALAPA
Refleksi Nurani di Atas Fakta
Ketika Prangko Menjadi Jejak Peradaban
SUARA PALAPA, PALEMBANG — Ada benda-benda kecil yang kerap luput dari perhatian, tetapi diam-diam menyimpan perjalanan panjang sebuah bangsa. Prangko adalah salah satunya. Ukurannya mungil, namun di balik gambar dan deretan angka yang tercetak di atasnya, tersimpan kisah tentang zaman, kebudayaan, teknologi, hingga wajah sebuah negeri.
Di tengah arus zaman digital yang serba cepat, jejak kecil itu kembali menemukan ruang untuk berbicara.
Pengurus Cabang Perkumpulan Penggemar Filateli Indonesia (PC PFI) Kabupaten Banyuasin masa bakti 2026–2030 resmi dikukuhkan oleh Ketua Pengurus Daerah (PD) PFI Sumatera Selatan, Ir. H. M. Affan Prapanca, M.T., IPM.
Pengukuhan berlangsung di Atrium Palembang Square, dalam rangkaian Sriwijaya Philately Exhibition (Sriwijaya Phex) 2026, yang digelar 10–13 September 2026.
Momentum tersebut bukan sekadar pergantian atau pembentukan kepengurusan. Ia menjadi penanda bahwa filateli masih memiliki tempat di tengah perubahan zaman—bukan hanya sebagai kegemaran mengoleksi benda pos, melainkan sebagai jalan untuk membaca sejarah melalui benda-benda yang pernah menyertai perjalanan komunikasi manusia.
Mewakili Ketua PC PFI Banyuasin, Herlani, S.Pd., M.Pd., Pebriyan Arisca Pratama, S.Sos., yang juga dipercaya sebagai bendahara, menyampaikan apresiasi atas pengukuhan tersebut.
Menurutnya, kehadiran PC PFI Banyuasin diharapkan menjadi rumah resmi bagi para penggemar dan kolektor filateli untuk merawat sekaligus mengkaji benda-benda pos, mulai dari prangko, Sampul Hari Pertama (SHP), souvenir sheet, hingga berbagai benda pos bersejarah lainnya.
Namun, lebih jauh dari sekadar mengumpulkan, terdapat tanggung jawab untuk menjaga pengetahuan yang melekat pada benda-benda tersebut.
PC PFI Banyuasin, kata Pebriyan, siap bersinergi dan mengedukasi masyarakat mengenai hakikat filateli.
Filateli, dalam pandangan itu, bukan sekadar menyimpan potongan kertas dari masa lalu. Ia merupakan kerja kuratorial yang membutuhkan ketekunan, pengetahuan, ketelitian, serta penghargaan terhadap sejarah.
Karena itu, kepengurusan baru tersebut berkomitmen mengajak para filatelis di Banyuasin untuk aktif mengikuti berbagai ekshibisi, sekaligus mengembangkan organisasi dengan semangat inovasi.
Di situlah sebuah hobi menemukan makna yang lebih luas.
Sebab benda yang hari ini tampak sederhana, bisa menjadi pintu untuk memahami masa lalu. Sebuah prangko dapat membawa ingatan tentang tokoh, tempat, peristiwa, kebudayaan, bahkan cita-cita sebuah bangsa.
Dari Masa Lalu untuk Generasi Masa Depan
Pengukuhan PC PFI Banyuasin menjadi bagian dari pengukuhan serentak pengurus cabang PFI dari empat kabupaten/kota di Sumatera Selatan.
Dalam momentum yang sama, PD PFI Sumsel juga meresmikan 100 klub filateli tingkat sekolah. Langkah tersebut sekaligus memperlihatkan perhatian terhadap keberlanjutan dan regenerasi filatelis di kalangan generasi muda.
Dukungan pemerintah daerah pun dipandang penting agar filateli tidak berhenti sebagai kenangan para kolektor lama, tetapi tumbuh sebagai ruang pembelajaran bagi anak-anak dan generasi muda.
Di sinilah nilai sebuah organisasi diuji: bukan hanya pada kemampuan mempertahankan apa yang telah ada, tetapi pada kesanggupan mewariskannya kepada mereka yang akan datang.
Sriwijaya Phex 2026 sendiri menghadirkan momentum berskala internasional. Acara tersebut turut disaksikan Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru, serta Wali Kota Palembang Ratu Dewa.
Dalam sambutannya, Fadli Zon menyoroti nilai historis yang melekat pada prangko dan benda-benda pos.
Ia mengingatkan bahwa perjalanan filateli di Indonesia memiliki akar sejarah yang panjang. Salah satu tonggak pentingnya terjadi pada 29 Maret 1922, ketika para kolektor prangko berkumpul di Batavia, yang kemudian menjadi bagian penting dari perkembangan organisasi filateli di Indonesia.
Filateli, yang berkembang kuat di Eropa dan Amerika, bahkan kerap disebut sebagai “hobi para raja”.
Namun, kemewahan istilah itu sesungguhnya tidak terletak pada harga sebuah koleksi. Nilainya justru tumbuh dari ketekunan orang-orang yang bersedia merawat benda kecil agar cerita besar di belakangnya tidak hilang.
Fadli Zon menegaskan bahwa prangko hingga kini masih relevan dan terus diperlombakan.
Ia juga melihat filateli sebagai kegiatan yang dapat membentuk karakter—melatih ketekunan, kerajinan, kejujuran, sekaligus membangun persahabatan.
Prangko, sebagai benda komunikasi masa lampau, pernah menjadi jembatan antara manusia yang dipisahkan jarak. Kini, ketika pesan dapat melintasi dunia hanya dalam hitungan detik, keberadaan benda-benda pos itu justru menjadi pengingat bahwa komunikasi manusia pernah tumbuh dari kesabaran.
Ada surat yang menunggu untuk sampai.
Ada kabar yang dinanti.
Ada tangan yang menulis dengan hati-hati.
Dan ada selembar prangko yang menjadi saksi bahwa pesan itu pernah menempuh perjalanan.
Karena itu, menjaga filateli bukan semata menjaga benda lama.
Ia adalah ikhtiar menjaga ingatan.
Dan ketika ingatan dirawat dengan pengetahuan, generasi muda tidak hanya belajar tentang prangko, tetapi juga belajar tentang ketekunan, kejujuran, persahabatan, sejarah, dan penghargaan terhadap perjalanan manusia.
PC PFI Banyuasin kini memulai langkahnya dalam amanah masa bakti 2026–2030.
Semoga dari benda-benda kecil yang dirawat dengan teliti, lahir generasi yang besar dalam cara menghargai sejarah. Sebab sebuah bangsa tidak hanya dibangun oleh apa yang diciptakannya hari ini, tetapi juga oleh kesediaannya menjaga jejak masa lalu agar tetap menjadi cahaya bagi masa depan.
Fakta diberitakan. Manusia dimuliakan. Sejarah dirawat. Nurani dihidupkan.
(PMG/Ibnu/Aris)
PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

