Dr. H. M. Dahlan Abubakar, Penjaga Api Literasi dan Marwah Pers dari Timur Indonesia

PROFIL150 Dilihat

Penulis: Alimuddin
Pemred Palapa Media Group

Terpilihnya Dr. H. Muhammad Dahlan Abubakar, M.Hum., sebagai Ketua Dewan Kehormatan Provinsi PWI Sulawesi Selatan bersama Ketua PWI Sulsel Dr. Ir. H. Suwardi Thahir, M.Si., hasil Konferprov PWI Sulsel 2026, pada Selasa (2/6), penulispun tergerak gati untuk menulis profil kedua tokoh tersebut. Kali ini profil Dr. Dahlan Abubakar, penulis tampilkan riwayat hidupnya.

Tulisan ini penulis mengakui, merupakan hasil pencarian jejak tulisan yang sudah ada di berbagai media online.

Di sebuah rumah yang nyaris tak pernah sepi dari buku, lembar demi lembar tulisan lahir tanpa banyak kegaduhan. Bagi sebagian orang, masa pensiun adalah titik akhir pengabdian. Namun bagi Dr. H. M. Dahlan Abubakar, M.Hum, pensiun justru menjadi ruang yang lebih luas untuk menulis, mengajar, dan merawat ingatan kolektif masyarakat Sulawesi Selatan.

Namanya telah lama menjadi bagian dari sejarah pers di kawasan timur Indonesia. Ia bukan sekadar wartawan senior. Ia adalah penulis, akademisi, budayawan, komunikator, sekaligus saksi hidup perjalanan media cetak dari era mesin tik hingga revolusi digital.

Pada Juni 2026, perjalanan panjang itu memperoleh babak baru ketika ia dipercaya menjadi Ketua Dewan Kehormatan PWI Sulawesi Selatan periode 2026–2031, mendampingi Ketua PWI Sulsel, Suwardi Thahir. Amanah tersebut lahir dari kepercayaan kalangan wartawan terhadap integritas, pengalaman, dan keteladanan yang selama puluhan tahun ia bangun.

Anak Bima yang Menemukan Takdir di Dunia Kata

Muhammad Dahlan Abubakar lahir di Bima, Nusa Tenggara Barat, 12 Januari 1952. Masa kecilnya tumbuh dalam lingkungan yang menghargai pendidikan dan tradisi membaca.

Perjalanannya membawanya ke Makassar untuk menempuh pendidikan tinggi di Universitas Hasanuddin. Di kampus inilah benih kecintaannya terhadap dunia tulis-menulis tumbuh semakin kuat. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana sastra, kemudian melanjutkan studi magister hingga meraih gelar doktor.

Bagi Dahlan, pendidikan bukan sekadar jenjang akademik. Pendidikan adalah cara memahami manusia dan kebudayaannya. Karena itu, dalam banyak tulisannya, pembaca menemukan perpaduan antara disiplin jurnalistik, pendekatan ilmiah, dan kepekaan sastra.

Wartawan yang Tidak Pernah Berhenti Menulis

Dunia jurnalistik menjadi rumah panjang bagi Dahlan Abubakar.

Ia tumbuh dalam tradisi pers yang menempatkan wartawan sebagai pencatat zaman. Generasinya mengalami masa ketika berita diketik dengan mesin manual, dikirim melalui telepon, hingga akhirnya masuk ke era internet yang serba cepat.

Kariernya mencapai salah satu puncak ketika dipercaya menjadi Pemimpin Redaksi Harian Pedoman Rakyat, surat kabar legendaris yang selama puluhan tahun menjadi rujukan masyarakat Sulawesi Selatan.

Namun bagi Dahlan, jabatan redaksi hanyalah sarana. Yang lebih penting adalah menjaga budaya menulis.

Dalam berbagai forum, ia berulang kali menegaskan bahwa tidak ada tulisan yang sia-sia. Setiap tulisan akan menemukan pembacanya sendiri. Prinsip itulah yang membuatnya tetap produktif bahkan setelah tidak lagi aktif memimpin ruang redaksi.

Akademisi yang Menjembatani Kampus dan Ruang Redaksi

Tidak banyak wartawan yang mampu berdiri kokoh di dua dunia sekaligus: akademik dan jurnalistik. Dahlan termasuk pengecualian.

Selain dikenal sebagai wartawan senior, ia juga berkiprah sebagai dosen dan akademisi. Ia pernah mengabdi sebagai Kepala Humas Universitas Hasanuddin selama lebih dari dua dekade serta mengajar di berbagai perguruan tinggi di Makassar.

Pengalaman itu membentuk perspektif unik dalam dirinya. Ia memahami bahwa jurnalisme bukan hanya keterampilan menulis berita, tetapi juga proses pendidikan publik.

Karena itu, banyak wartawan muda memandangnya sebagai guru yang tidak menggurui. Ia lebih sering mengajak berdiskusi daripada memberi ceramah.

Penulis yang Merawat Memori Sulawesi Selatan

Jika ada satu hal yang membuat Dahlan Abubakar berbeda dari banyak wartawan sezamannya, itu adalah produktivitasnya dalam menulis buku.

Puluhan buku telah lahir dari tangannya. Sebagian besar merekam jejak tokoh, institusi, perguruan tinggi, pemerintahan daerah, hingga dinamika sosial budaya Sulawesi Selatan.

Melalui buku-buku tersebut, Dahlan sesungguhnya sedang melakukan pekerjaan yang sering luput dari perhatian: menyelamatkan memori.

Ia memahami bahwa masyarakat yang kehilangan ingatan akan mudah kehilangan arah. Karena itu, dokumentasi sejarah menjadi bagian penting dari pengabdiannya.

Pada 2021, ia menerbitkan autobiografi berjudul Lorong Waktu, sebuah karya yang tidak hanya merekam perjalanan hidupnya, tetapi juga memotret perkembangan dunia pers, pendidikan, dan kebudayaan Sulawesi Selatan selama beberapa dekade terakhir.

Sosok yang Dihormati Lintas Generasi

Di kalangan wartawan senior, Dahlan dikenal sebagai pribadi yang tenang, santun, dan terbuka terhadap perbedaan pandangan.

Di kalangan wartawan muda, ia dihormati karena kesediaannya berbagi pengalaman tanpa merasa paling tahu.

Sementara di lingkungan akademik, ia dikenal sebagai intelektual publik yang tetap membumi.

Kombinasi itulah yang membuat namanya relatif diterima oleh berbagai kelompok dalam komunitas pers Sulawesi Selatan. Ketika namanya diajukan menjadi Ketua Dewan Kehormatan PWI Sulsel, banyak pihak melihatnya sebagai figur yang mampu menjadi penengah sekaligus penjaga etika organisasi.

Dewan Kehormatan dan Tanggung Jawab Moral

Jabatan Ketua Dewan Kehormatan bukan sekadar posisi struktural.

Di tengah maraknya disinformasi, tekanan ekonomi media, dan perubahan lanskap digital, Dewan Kehormatan menjadi benteng terakhir yang menjaga etika profesi.

Kepercayaan yang diberikan kepada Dahlan Abubakar pada periode 2026–2031 mencerminkan harapan besar insan pers Sulawesi Selatan agar organisasi tetap berpijak pada nilai-nilai profesionalisme dan integritas.

Baginya, kehormatan wartawan tidak diukur dari banyaknya pengikut di media sosial atau tingginya trafik sebuah media, melainkan dari kemampuan menjaga kepercayaan publik.

Warisan yang Sedang Ditinggalkan

Suatu hari nanti, jabatan akan berakhir. Ruang redaksi akan berganti generasi. Organisasi akan memiliki pemimpin baru.

Namun nama Dahlan Abubakar kemungkinan akan tetap dikenang bukan karena kursi yang pernah didudukinya.

Ia akan dikenang sebagai seorang penulis yang tak pernah lelah menulis.

Sebagai wartawan yang percaya bahwa kata-kata dapat merawat peradaban.

Sebagai akademisi yang menjadikan ilmu sebagai pengabdian.

Dan sebagai tokoh pers yang memahami bahwa tugas terbesar seorang jurnalis bukan sekadar memberitakan peristiwa, melainkan menjaga agar sejarah tidak hilang ditelan waktu.

Di tengah derasnya arus informasi digital, sosok seperti Dahlan Abubakar mengingatkan bahwa jurnalisme sejati pada akhirnya adalah pekerjaan merawat ingatan manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed