Menakar Arah Baru PWI Sulsel di Tengah Bayang-Bayang Kepemimpinan

PERS62 Dilihat

Oleh: Alimuddin

Langit organisasi pers di Sulawesi Selatan tengah bergerak menuju sebuah persimpangan penting. Di balik riuh agenda Konferensi Provinsi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulsel yang dijadwalkan berlangsung Juni mendatang, tersimpan harapan, kecemasan, sekaligus pertaruhan besar tentang masa depan rumah bersama para wartawan.

Bagi sebagian orang, pemilihan Ketua PWI Sulsel periode 2026–2031 mungkin hanya tampak sebagai rutinitas organisasi lima tahunan. Namun di mata banyak insan pers, momentum itu jauh lebih dalam dari sekadar pergantian struktur kepengurusan. Ia adalah penentuan arah: ke mana organisasi profesi wartawan ini akan dibawa di tengah derasnya perubahan zaman, tekanan kepentingan, dan dinamika internal yang terus bergerak.

Di sebuah sudut perbincangan bersama awak media di Makassar, Anwar Sanusi berbicara dengan nada tenang, namun sarat kegelisahan. Baginya, PWI Sulsel saat ini tidak sedang membutuhkan figur pemimpin yang hanya kuat di panggung popularitas. Organisasi, katanya, membutuhkan sosok yang matang dalam berpikir, teduh dalam bersikap, dan kokoh menjaga marwah profesi.

“Di tengah berbagai dinamika yang terjadi, figur pemimpin yang dibutuhkan bukan sekadar populer atau lahir karena nepotisme, melainkan sosok yang mampu menyatukan seluruh elemen, menghadirkan kesejukan, dan membawa organisasi kembali fokus pada penguatan profesionalisme wartawan,” ujar Anwar Sanusi.

Ucapan itu meluncur seperti refleksi panjang atas perjalanan organisasi yang selama beberapa tahun terakhir tak lepas dari gesekan dan perdebatan. Dunia pers, yang seharusnya menjadi benteng independensi dan etika publik, kini menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks. Tidak hanya soal kompetensi wartawan, tetapi juga soal menjaga kepercayaan masyarakat terhadap organisasi profesi itu sendiri.

Anwar menilai, tantangan ke depan bukan perkara ringan. PWI Sulsel, menurutnya, membutuhkan pemimpin yang mampu menjaga solidaritas internal tanpa kehilangan keberanian mengambil sikap. Sosok yang tidak mudah terseret kepentingan kelompok, tetapi hadir sebagai pelindung bagi seluruh anggota.

Dalam pandangannya, nama Dr. Suwardi Thahir menjadi salah satu figur yang dianggap memiliki kapasitas itu. Bukan semata karena pengalaman, tetapi karena dinilai mampu menghadirkan ruang komunikasi yang lebih sehat dan terbuka di tengah organisasi.

“Jujur, sekarang PWI butuh sosok ketua seperti Dr. Suwardi Thahir. Kita membutuhkan pemimpin yang matang, bijaksana, dan berani mengambil keputusan secara adil. Bukan ketua boneka yang justru akan menyeret organisasi terpuruk dalam masalah,” tegasnya.

Di tengah dinamika pemilihan yang mulai menghangat, harapan terhadap kepemimpinan baru pun perlahan mengemuka. Banyak anggota menginginkan organisasi yang lebih teduh, lebih transparan, dan tidak mudah membawa setiap persoalan ke ranah konflik hukum. Musyawarah, etika, dan penghormatan terhadap sesama anggota dianggap harus kembali menjadi fondasi utama.

Suwardi Thahir, bagi sebagian kalangan, dipandang sebagai representasi dari harapan itu. Seorang pemimpin yang diharapkan mampu menjadikan organisasi sebagai rumah bersama, bukan arena perebutan pengaruh maupun kepentingan golongan tertentu.

“Jika terpilih, kepemimpinan Suwardi Thahir diharapkan mengedepankan etika, transparansi, dan musyawarah, juga tidak selalu menggiring masalah ke ranah hukum. Ini menjadi harapan besar para anggota,” tambah Anwar.

Konferensi Provinsi PWI Sulsel kali ini akhirnya bukan hanya tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah. Lebih dari itu, ia menjadi ruang perenungan tentang bagaimana organisasi profesi wartawan menjaga kehormatannya di tengah perubahan zaman yang semakin keras.

Sebab di ujung seluruh dinamika itu, para pemilik suara sedang memikul tanggung jawab besar: memilih bukan karena kedekatan, tekanan, atau kepentingan sesaat, melainkan demi masa depan organisasi yang lebih bermartabat.

Dan dari ruang-ruang diskusi yang terus hidup menjelang konferensi, satu harapan tampak mengendap perlahan, agar PWI Sulsel kembali dipimpin oleh sosok yang mampu merawat persatuan, menjaga independensi, dan mengembalikan organisasi kepada ruh perjuangannya: menjadi rumah etika bagi wartawan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *