Di Balik Barikade Merah: Simfoni Ramadhan, Ketika Jalanan Menjelma Arena Kejujuran

Olahraga7 Dilihat

Keterangan Gambar:

Kapolres Soppeng AKBP Aditya Pradana (tengah-kiri) bersama jajaran, panitia, dan perwakilan pemenang Soppeng Ramadhan Sprint Race 2026, berpose di depan barikade jalan berwarna merah dengan latar belakang Gedung Mapolres Soppeng di keheningan malam Ramadhan. (Foto: Dokumentasi Humas Polres Soppeng)

Oleh: Chemank Farel

SOPPENG — Di bawah kungkungan gelap gulita malam Ramadhan, Jalan Letenribali, tepat di depan Warkop Dg. Sija Watansoppeng, biasanya menjadi saksi kebisuan. Namun, pada Rabu malam, 18 Maret 2026, suasana itu bertransformasi.

Bukan oleh kebisingan knalpot liar yang sering meresahkan, melainkan oleh getaran langkah kaki yang ritmis dan sorak-sorai penuh kehangatan. Barikade merah penutup jalan, yang biasanya menjadi sekat formal, kini berdiri tegak bukan untuk menghalangi, melainkan sebagai garis demarkasi kejujuran dan keberanian. Di sanalah, “Soppeng Ramadhan Sprint Race 2026” menorehkan tintanya sebagai oase di tengah gersangnya malam.

Bayangkanlah: sejauh 50 meter, bukan aspal yang mereka taklukkan dengan mesin, tetapi detak jantung dan daya tahan tubuh. Dua pelari, satu pasang mata, dan satu tekad: mencapai garis finish dengan keringat sendiri, bukan bahan bakar. Ada kategori laki-laki dengan strata tinggi badan, seolah-olah tuhan memberikan ruang yang sama bagi setiap fisik untuk berkompetisi adil. Dan ada kategori perempuan yang berdiri sejajar tanpa batas, menunjukkan bahwa kekuatan tak kenal jender.

Kita melihat Emon, sosok yang mungkin terlihat biasa di keseharian, berdiri sebagai yang tercepat di kelas 150-164 cm. Ada Asdar Men, menjulang sebagai raja di kelas 165-175 cm. Dan jangan lupakan Satriani, yang langkah kakinya membawa pesan bahwa di arena lari, semua sama. Mereka adalah wajah-wajah pemenang yang merayakan kejujuran, sportivitas, dan kemenangan atas diri sendiri.

Di sudut lain, berdiri Kapolres Soppeng AKBP Aditya Pradana, S.I.K., M.I.K. Matanya teduh, bukan sebagai penjaga hukum semata, tapi sebagai penikmat harmoni sosial.

“Kami sangat mengapresiasi,” ucapnya, suaranya mengalir tenang. “Bukan hanya tentang medali, tapi ini adalah tentang bagaimana kita memberikan ruang bagi generasi muda. Ini adalah cara kita memeluk mereka, menjauhkan mereka dari bahaya balap liar yang mengancam nyawa, dan mengajak mereka merayakan Ramadhan dengan cara yang benar-benar bermakna.”

Ramadhan bagi AKBP Aditya bukan sekadar ritual menahan lapar. Ini adalah bulan pengasahan jiwa. Dan Soppeng Ramadhan Sprint Race adalah perwujudannya: mengasah mentalitas sportivitas, mempererat tali silaturahmi, dan menjaga kedamaian kota dari balik barikade merah.

Ketika jam menunjukkan pukul 00.40 WITA pada Kamis dini hari, perlombaan usai. Barikade tidak lagi menjadi pembatas, melainkan lambang kebersamaan. Suasana tetap aman, tertib, dan lancar. Di balik barikade itu, bukan hanya balapan yang terjadi. Ada simfoni kejujuran, melodi persaudaraan, dan harapan yang tumbuh dari setiap langkah kaki yang berlari di bawah naungan malam Ramadhan.

Soppeng telah membuktikannya: jalanan bisa menjadi panggung untuk kebaikan, jika kita tahu cara menyajikannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *